Notification

×

Iklan

Iklan

Dukungan masyarakat terhadap paham rasionalisme dan empirisme

Minggu, 30 Mei 2021 | 13.44 WIB Last Updated 2021-05-30T06:44:07Z

Oleh : Agusliani 
Ilmu pemerintahan
Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Universitas syiah kuala

Gemarnews.com - Dengan berkembangnya teknologi yang semakin pesat . Filsafat merupakan bagian dari media untuk berpikir dan meneliti perubahan-perubahan yang terjadi di dunia fana ini, yang semakin hilang dan terlupakan perannya. 

Karena tergantikan dengan pengetahuan dan teknologi yang kebenarannya lebih pasti dan objektif. Dari pada filsafat yang dianggap belum tentu ada dan malah bisa dianggap tidak berguna lagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang.

Padahal apabila kita mencoba kembali melihat sejarah filsafat memiliki peran yang sangat penting dan berharga.

Seorang ahli Jhon Locke. Locke tidak setuju dengan argumentasi dari Descrates. Menurut Locke paham rasionalisme pada dasarnya manusia itu terlahir seperti kertas kosong, yang tidak mengetahui apa-apa. 

Kemudian dia menjalani kehidupan dan mendapatkan pengalaman dari kehidupan yang mereka jalani. 

Pengalaman tersebutlah yang mengisi kekosongan dalam pikiran manusia.
Lain halnya dengan paham Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. 

Dengan kata lain menitik beratkan bahwa kebenaran atau pengetahuan itu ialah ketika sebuah materi atau konsep dapat diperoleh berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan kegunaannya secara praktis.

Di atas sudah dipaparkan bagaimana kontradiski antara rasionalisme dan empirisme. Seperti yang kita ketahui rasionalisme mengutamakan pikiran sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan sedangkan empirisme lebih mengutamakan pengalaman inderawi sebagai alat untuk mendaptkan pengetahuan. 

Dalam hal ini Immanuel Kant mencoba untuk mendamaikan pertentangan diantara keduanya.

Dalam Buku terpenting Kant ialah The Critique of Pure Reason (edisi pertama, 17/81) edisi kedua, 1787). Tujuan dari karya ini adalah untuk membuktikan bahwa, bagaimana pengetahuan kita tidak satu pun yang mampu melampaui pengalaman, dan tidak disimpulkan secara induktif dari pengalaman
Begitupun sebaliknya, ketika Descrates mengatakan tanpa pikiran maka dunia inderawi ini tidak akan pernah ada. 

Sedangkan, menurut Immanuel Kant, objek yang tidak terkandung dalam subjek dan penginderaan internal yang di miliki adalah dua hal yang terbentuknya pengetahuan yang universal dan murni. Keduanya saling melengkapi untuk membentuk pengetahuan. 

Walaupun, pada dasarnya penentuan benar dan tidak benarnya suatu  pengetahuan itu kembali kepada penginderaan internal subjek.

sebagaimana Decrates, Kant juga percaya bahwa intelek lah yang bisa menentukan kebenaran moral. Tetapi, dia juga percaya tanpa indera menusia tidak bisa melakukan apapun yang akan menjadi pengetahuan.

Paparan ini dari agusliani mahasiswi ilmu pemerintahan fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas syiah kuala Angkatan 2019. (*)
×
Berita Terbaru Update