Notification

×

Iklan

Iklan

Pertumbuhan Ekonomi di Aceh, Ini Kata Kepala Perwakilan BI Aceh

Selasa, 22 Juni 2021 | 10.51 WIB Last Updated 2021-06-22T03:51:30Z

Gemarnews.com, Banda Aceh - Pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh masih terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan nasional. Hal tersebut mempengaruhi tingkat kemiskinan, pengangguran, dan pendapatan per kapita Provinsi Aceh. 

"Pertumbuhan ekonomi Aceh Tw I sebesar -1,95% (yoy) dan Nasional sebesar -0,74% (yoy). Sedangkan Inflasi Mei 2021 sebesar 2,27% (yoy) dan Nasional sebesar 1,37% (yoy)." Kata Kepala Perwakilan BI Aceh Achris Sarwani pada saat acara High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), di Banda Aceh, Senin (21/6).

Ia menambahkan, realisasi APBA dan APBK merupakan penggerak ekonomi dan juga mencerminkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh. 

Kinerja keuangan daerah pada triwulan I 2021 secara garis besar mengalami peningkatan, utamanya didorong oleh peningkatan realisasi anggaran APBN. 

"Realisasi APBA mengalami penurunan pendapatan dan belanja secara nominal maupun persentase. 

Sedangkan, realisasi pendapatan dan belanja APBN mengalami peningkatan, baik secara nominal maupun persentase." ujarnya.

Achris Sarwani menjelaskan, hasil survei SKDU Provinsi Aceh menunjukkan adanya peningkatan kinerja ekonomi secara triwulanan pada triwulan I 2021. Hal tersebut dapat dilihat dari realisasi SBT SKDU sebesar 0,33%. Sedangkan dari hasil survei konsumen (IKK) menunjukkan peningkatan sebesar 10,52 poin dengan total indeks berada pada level 115,81. Hasil tersebut menunjukkan adanya keyakinan konsumen pada level optimis.

"Melihat inflasi kota Banda Aceh secara historis pada tiga tahun terakhir, terjadi peningkatan laju inflasi di Kota Banda Aceh pada hari Raya Idul Adha. Pada tahun 2021, kenaikan laju inflasi diperkirakan terjadi pada pertengahan Juli. Namun demikian, inflasi tahunan tercatat lebih rendah dari tiga tahun sebelumnya. Hingga bulan Mei 2021, inflasi kota Banda Aceh tercatat sebesar 0,17% (mtm) dan 1,73% secara yoy." ungkapnya.

Menurutnya apabila dilihat dari komoditas penyumbang inflasi di kota Banda Aceh secara tiga tahun terakhir seringkali utamanya disebabkan oleh komoditas bahan pangan, utamanya komoditas pada kelompok perikanan (ikan kembung, udang basah, cumi-cumi, ikan tongkol, cabai rawit, dan ikan tuna).

"Optimalisasi proyeksi laju inflasi Provinsi Aceh tahun 2021 dan 2022 diharapkan tetap memperhatikan faktor 4K, yaitu Ketersediaan pasokan, Kelancara distribusi, Keterjangkauan harga, dan Komunikasi efektif." harapnya.(Red)
×
Berita Terbaru Update