Notification

×

Iklan ok

Solusi Pelestarian Bahasa dan Tradisi Lisan Keluwat

Senin, 13 Desember 2021 | 14.47 WIB Last Updated 2021-12-13T07:47:47Z

Oleh : Akhwanto Muzain, S.Pd

Mahasiswa Pascasarjana prodi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam. Asli putra kluet timur


Gemarnews.com, Opini - Aceh memiliki 13 suku bangsa asli dan masing-masing suku mempunyai adat dan bahasa tersendiri yang berbeda-beda, diantaranya Suku Keluwat atau lebih dikenal dengan suku Kluet. Tanah Keluwat sendiri terletak di Kabupaten Aceh Selatan dan masyarakat dalam interaksi sosialnya menggunakan bahasa sendiri yaitu bahasa Keluwat. Pada peraktiknya, bahasa Keluwat tidak hanya digunakan untuk sarana komunikasi belaka, namun bahasa Keluwat juga digunakan dalam setiap kegiatan adat seperti; adat nyerah pande, adat mekato, mepantun, ragam mebobo, midu ijin, dan lain-lain.

Dewasa ini, hal-hal yang tersebut di atas sangat jarang diajarkan kepada generasi muda yang seharusnya menjadi penerus dan menjadi pemegang kendali keberlangsungan serta kelestarian bahasa dan adat Keluwat dimasa yang akan datang. Kurangnya pengetahuan dan perhatian generasi muda akan hal tersebut mengakibatkan regenerasi terhambat. Apabila masalah ini terus berlarut dikhawatirkan pada masa yang akan datang tidak hanya tradisi, akan tetapi juga bahasa Keluwat akan hilang dari peradaban. Seperti beberapa bahasa daerah yang ada di Maluku dan Papua yang telah dinyatakan punah oleh Badan Bahasa Kemendikbud.

Kita dapat belajar dari kepunahan beberapa bahasa daerah di belahan timur negara ini, ada beberapa faktor utama yang menjadi alasan kita tidak dapat lagi mendengar bahasa tersebut, seperti keadaan masyarakat yang mampu menuturkan lebih dari satu bahasa, perpindahan penduduk ke daerah lain yang mengakibatkan percampuran bahasa, perkawinan antar suku yang berbeda sehingga sulitnya berkomunikasi jika harus menggunakan bahasa masing-masing yang pada akhirnya menggunakan bahasa indonesia dalam berkomunikasi, dan yang terakhir kurangnya kebanggaan terhadap bahasa daerah.

Dari faktor-faktor di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Keluwat perlahan mengarah kepada situasi tersebut. Maka dari itu penulis mencoba untuk menelisik lebih dalam apa dan bagaimana nasib bahasa Keluwat dimasa yang akan datang. Sekarang mari kita melihat Keluwat dari sudut pandang 4 faktor tadi.

Pertama, seperti yang telah disinggung sebelumnya yaitu kurangnya peran orang tua untuk mengajarkan tentang adat, bahasa, dan budaya Keluwat kepada generasi muda. Contoh kecil, ada beberapa orang tua yang tidak lagi menggunakan bahasa Keluwat ketika berkomunikasi dengan anaknya, padahal mereka berada di daerah Keluwat dan merupakan keturunan asli Keluwat.

Kedua, pada umumnya masyarakat Keluwat paling tidak mampu menuturkan lebih dari satu bahasa selain dari bahasa Keluwat, seperti bahasa Aceh, Aneuk Jame, dan bahasa Indonesia. Sehingga memungkinkan akan tercampurnya bahasa Keluwat dengan beberapa bahasa yang penutur kuasai.

Ketiga, perpindahan penduduk ke daerah yang lain, walaupun perpindahan tersebut tidak terjadi secara bersar-bersaran di daerah Keluwat, namun perpindahan secara perseorangan banyak terjadi, seperti perantau dan pelajar yang melanjutkan studi di daerah perkotaan, sehingga mengurangi penutur bahasa Keluwat di daerah asal.

Keempat, perkawinan antar etnis yang berbeda, Perkawinan antar etnis ini juga dapat menjadi alasan mengurangi penutur, misalkan etnis Keluwat menikah dengan etnis Aceh, dalam budaya setempat pihak laki-laki harus tinggal di daerah istrinya, dengan begitu jika nantinya mereka memiliki keturunan, sudah tentulah anak mereka akan berbahasa Aceh, karena lingkungannya. Bisa saja hal tersebut tidak terjadi jika pasangan ini bisa menuturkan kedua bahasa, jika demikian ceritanya maka kemungkinan skenario terburuknya akan berkurang karena di keluarga kecilnya bisa menggunakan bahasa minoritas daerah itu.

Ketergantungan pada gadget juga menjadi faktor tambahan yang sangat mempengaruhi penuturan bahasa Keluwat dikalangan generasi muda, terlebih lagi anak-anak yang bahkan hampir meninggalkan permainan tradisional dan mayoritas remaja yang kecanduan terhadap penggunaan gadget terutama game online yang sedikit demi sedikit juga mempengaruhi penggunaan kosa kata mereka dalam kesehariannya.

Penyebab Kurangnya Perhatian Terhadap Bahasa dan Tradisi Lisan Keluwat

Ditinjau dari sudut pandang psikologi indigenous, masyarakat Keluwat merupakan masyarakat yang secara umum sangat memegang teguh adat dan budaya dalam kesehariannya. Namun seiring perkembangan zaman, kebanggan terhadap adat, budaya, dan bahasa keluwat itu sendiri semakin menipis, dalam hal ini penulis menyoroti masalah literasi-literasi yang berhubugan dengan kegiatan adat dalam bentuk lisan. Tradisi lisan dalam masyarakat Keluwat memang diwariskan secara acak kepada siapa yang meminta diajarkan atau bahkan belajar secara otodidak dan tidak ada tradisi mewariskan secara mengharuskan dalam masyarakat Keluwat, generasi muda yang berminat akan tradisi ini datang dengan sukarela meminta untuk diajarkan, memang begitulah adanya tradisi itu diwariskan atau terwarisi secara turun temurun. Jadi generasi muda belajar dengan sendirinya hanya melihat dan atau memperhatikan bagaimana para orang tua mereka dalam mempraktikkan tradisi mekato dan tradisi lisan lainnya.

Pemangku adat pada dasarnya bukan tidak ingin mewariskan tradisi lisan ini, justru mereka sangat ingin mempertahankan dan memastikan tradisi ini terwarisi sampai ke generasi yang akan datang. Bukan pula mereka ingin mempertahankan egonya, akan tetapi penulis berpikir ada dua kemungkinan yang  terjadi. Kemungkinan pertama, mereka ingin melihat siapa yang paling bersungguh-sungguh dalam mewarisi tradisi ini, dengan datang secara sukarela akan menjadi bukti keseriusan dalam mempelajari tradisi ini, dengan harapan keseriusan itu dapat memudahkan generasi pewaris dalam menerima apa yang akan diajarkan, ibarat jika kita belajar matematika dengan paksaan dan tekanan tentulah matematika itu sangat sulit dipelajari, namun sebaliknya jika dengan keseriusan dan menikmati prosesnya tentulah matematika itu terasa begitu menyenangkan dan mudah. Dan atau kemungkinan yang kedua, mereka menganggap nilai yang terkandung di dalam tradisi ini begitu mahal sehingga tidak sembarangan mereka akan mewariskannya.

Upaya Pencegahan

Bahasa Keluwat saat ini masih dalam keadaan minim kemungkinan untuk punah, kendati demikian tidak ada salahnya kita melakukan upaya-upaya pencegahan dan penulis cukup optimis dengan keberlanjutan bahasa Keluwat kedepannya. Oleh karena itu, kita berharap semakin banyak pemangku kepentingan yang memberikan perhatiannya terhadap hal ini, pemerintah dengan regulasinya, tokoh adat dengan pengaruhnya, komunitas dengan tekat dan keinginannya, pemuda dengan tenaga dan pikirannya, serta orangtua melalui kedekatan emosional dengan anak mengajarkan nilai-nilai tradisi. Jika semua unsur terlibat aktif dan saling menyokong, maka penulis merasa bahasa Keluwat masih jauh dari kata kepunahan.

Setelah melihat permasahan yang begitu ruwet tadi penulis menawarkan satu opsi solusi, yakni dengan melakukan pembaharuan dalam pewarisan tradisi, seperti memasukkan bahasa Keluwat ke dalam dunia pendidikan sebagai mata pelajaran muatan lokal. Nantinya pelajaran muatan lokal tersebut akan kita terapkan pada tingkat TK, SD/MI, SMP/Mts, dan juga pada tingkat SMA/MA.

Upaya ini sangat mungkin terwujud apabila Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan terlibat aktif mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Seperti memberikan pelatihan dan workshop khusus untuk silabus serta model pembelajaran berbasis kearifan lokal kepada guru-guru yang bersangkutan.

Penulis menaruh harapan besar kepada pihak-pihak terkait agar bisa menjabarkan akan makna dan nilai-nilai luhur dari tradisi ini kepada generasi muda, karena hal yang paling mahal dari tradisi adalah nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya tidak hanya tradisi yang akan terwariskan. Dengan begitu banyak generasi penerus yang akan teredukasi, serta tanpa disarinya mereka masuk dalam agenda pelestarian kearifan lokal. []

×
Berita Terbaru Update