Notification

×

Iklan

Biarkan Jokowi Mengakhiri Masa Jabatannya dengan Mulus

Sabtu, 05 Maret 2022 | 16.08 WIB Last Updated 2022-03-05T09:08:42Z

sumber: cnbc

Adin - Seword

Opini - Pemilihan Umum makin dekat. Sudah disepakati pelaksanaan Pemilu 2024 akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2024. Pada tahun tersebut tersebut Presiden Jokowi akan mengakhiri masa jabatannya. Benar-benar mengakhiri alias pensiun.

Pada tahun 2019, Jokowi sempat mengakhiri masa jabatan Presiden periode pertama. Tapi karena kembali mendapat mandat rakyat menjadi RI 1, Jokowi kembali menjabat jadi Presiden periode kedua. Tahun 2024 nanti Jokowi benar-benar pensiun jadi Presiden. Insya Allah tahun itu pula bangsa Indonesia akan mempunyai Presiden baru.

Kita mengharapkan setiap Presiden bisa mengakhiri masa jabatannya dengan mulus tidak ada insiden apapun. Presiden baiknya meninggalkan kenangan indah di hati masyarakat dengan kinerjanya selama menjabat Presiden.

Berbagai pembangunan, kebijakan yang dikeluarkan harus mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Saya kira Presiden Jokowi sudah bekerja keras berusaha melakukannya.

Pembangunan infrastruktur jalan, bendungan, bandara dan lain-lain, semuanya demi kepentingan masyarakat. Diharapkan masyarakat bisa menggunakan semua karya pemerintah tersebut untuk keinginan dan kebutuhan masyarakat sendiri. Perekonomian masyarakat diharapkan semakin meningkat seiring makin mudahnya akses jalan dalam melakukan kegiatan ekonomi masyarakat.

Kita juga berharap tidak ada pihak-pihak yang menjerumuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat gerakan-gerakan yang merusak demokrasi. Pernyataan-pernyataan seolah menyanjung dan mendukung Jokowi, padahal hanya menjerumuskan dan memanfaatkan situasi demi diri dan partai politiknya.

Jokowi bisa mengakhiri masa jabatan Presiden lebih baik dibandingkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jokowi bisa lebih mulus mengakhiri jabatannya dan hanya mewariskan hasil pembangunan di masa pemerintahannya. Bukan mewariskan kekuasaan kepada pihak tertentu.

Mulusnya Jokowi mengakhiri masa jabatannya sangat mungkin terjadi. Karena Jokowi bukan pemimpin partai politik yang akan tergoda tetap berkuasa di belakang layar seperti mantan presiden sebelumnya.

Kedua, Jokowi tidak bisa mewariskan kekuasaan apapun kepada keluarganya. Adapun anak menantu Jokowi telah menjadi pejabat publik bukan hadiah dari Presiden Jokowi, tapi telah melalui proses politik pilihan rakyat dan bukan sebuah pewarisan sebagaimana tuduhan orang bahwa ia melanggengkan dinasti.

Jokowi tidak mewariskan dinasti tapi membiarkan mereka untuk berkompetisi dengan sehat dan adil. Rakyat bisa memilih bisa juga sebaliknya. Di Amerika Serikat, Bush Jr, Kennedy Jr dan lain-lain tidak disebut mewariskan dinasti dalam arti negatif. Mereka jadi Presiden karena kemampuan mereka bukan karena warisan kekuasaan.

Dalam kompetisi demokrasi akan nampak seberapa besar seorang penguasa menggunakan kekuasaan publiknya untuk pribadi dan keluarganya. Jokowi membiarkan semuanya berjalan sesuai hukum yang berlaku.

Beberapa waktu lalu sempat heboh karena ada orang yang nekad melaporkan putra-putra Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming. Jokowi pun tetap di jalur yang benar tidak mencampuri kasus pelaporan tersebut. Cukup jarang terjadi, ketika Bapaknya masih jadi Presiden, anaknya ada berani melaporkan ke pihak yang berwenang.

Kejadian ini bisa berdampak positif terhadap proses demokrasi kita. Ternyata siapapun boleh melakukan tindakan hukum dan nantinya akan di proses juga sesuai dengan hukum yang ada.

Peristiwa ini seolah hal yang lumrah. Sebagaimana diketahui pada periode kedua SBY memerintah, mengalami periode dimana korupsi pejabat partainya terbongkar cukup banyak.

Mengenai kekuasaan di parpol, lebih mungkin disebut mewariskan dinasti kepada orang yang mewariskan partai politik. Namun hal ini tidak dengan Jokowi karena ia bukan pimpinan partai politik dan anaknya bukan pejabat teras partai politik tertentu.

Sementara itu, SBY berakhir dengan baik tanpa agenda tambahan yang bermasalah. Tetapi tetap saja ada catatan khusus. Karena SBY berusaha menyelamatkan partainya dan mengharuskan dia tetap jadi Ketum Partai Demokrat.

Sekarang partai Demokrat, diwarisi oleh anaknya dan sedikit banyak ada cidera dalam pewarisan, tidak mulus. Ia mengaku sah-sah saja SBY menyelamatkan partai yangg ia dirikan, tetapi oleh sebagian kalangan itu menciderai kenegarawannnya. Namun akhirnya semua publik tahu.

Jika benar orang-orang yang mengusulkan penundaan Pemilu merupakan pihak yang mencintai Jokowi, lebih baik di evaluasi. Karena dengan mengeluarkan pernyataan penundaan Pemilu hanya akan menjerumuskan Presiden Jokowi.

Karena pernyataan tersebut, Jokowi dicurigai menjadi “kekuatan besar” dibalik aspirasi penundaan Pemilu. Hal ini merusak citra Jokowi. Lebih baik tarik kembali usulan tersebut dan lebih fokus bekerja demi rakyat tercinta.(*)

×
Berita Terbaru Update