Notification

×

Kebenaran Yang Terlambat Datang, Kisah Dari Pulau Yang Tak Tersentuk Sinyal

Jumat, 07 November 2025 | 22.54 WIB Last Updated 2025-11-07T15:54:31Z

GEMARNEWS.COM, OPINI – Di tengah gempuran misinformasi yang bergerak secepat arus laut, jurnalisme menghadapi tantangan besar: hilangnya kepercayaan publik terhadap kebenaran. Di daerah terpencil seperti Pulau Masela, Maluku Barat Daya, tantangan ini semakin nyata.
 
Pulau yang hanya bisa dijangkau dengan belasan jam perjalanan laut dari Saumlaki ini menjadi potret bagaimana kekosongan informasi membuat masyarakat menciptakan "kebenarannya" sendiri. Tanpa jaringan internet, radio lokal yang jarang siaran, dan puskesmas pembantu yang bertahun-tahun tak berfungsi, warga mengandalkan tradisi sebagai sumber pengetahuan, termasuk soal kesehatan.
 
"Air dari sumur tua ini tak perlu dimasak, karena sudah diberkahi leluhur," kata seorang ibu, mencerminkan keyakinan yang kuat di masyarakat meski tidak pernah diuji secara ilmiah.
 
Keterbatasan akses terhadap informasi yang benar dan terpercaya menyebabkan masyarakat kembali bergantung pada sumur-sumur tua yang mereka anggap suci. Kepala Puskesmas Masela, Toni Walkim, mengungkapkan betapa sulitnya meyakinkan warga untuk merebus air terlebih dahulu.
 
Dok. Grafik 1. Peta Sumber Informasi Kesehatan di Pulau Terpencil


Kondisi ini menjadi ujian bagi jurnalisme. Tidak cukup hanya menulis data atau mengutip pejabat, jurnalis harus hadir di lapangan, di tempat di mana kebenaran tidak lagi punya saluran komunikasi yang utuh. Melawan disinformasi bukan berarti menyerang tradisi, tetapi menjelaskan dengan empati bahwa kebenaran ilmiah tidak meniadakan kearifan lokal, justru bisa berjalan beriringan.
 
Liputan dari daerah seperti Masela bukan sekadar laporan perjalanan, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan suara dari pinggiran sampai ke pusat, agar kebijakan publik tidak terus lahir dari ruang gema kota besar.
 
Data menunjukkan bahwa tradisi masih menjadi rujukan utama bagi masyarakat di daerah terpencil. Sekitar enam dari sepuluh warga menggantungkan pengetahuannya pada cerita lisan dari orang tua, tetua adat, atau tokoh agama, bukan dari tenaga kesehatan atau media.
 
Hanya seperempat masyarakat yang memperoleh informasi langsung dari tenaga kesehatan, dan hanya 10% yang mendapat pengetahuan dari media daring atau televisi. Sinyal telepon yang sering hilang dan minimnya akses listrik membuat arus informasi digital berhenti di perbatasan laut.
 
Ruang kosong antara sains dan masyarakat inilah yang harus diisi oleh jurnalisme. Tidak sekadar memberitakan apa yang salah, tetapi memahami mengapa keyakinan itu terbentuk dan bagaimana ia bisa dijembatani oleh pengetahuan yang lebih tepat. Melawan disinformasi bukan hanya perkara membantah berita bohong, melainkan menghadirkan suara yang menuntun masyarakat menuju kebenaran.
 
Setiap kalimat yang ditulis dari lapangan adalah upaya mengembalikan kepercayaan publik pada kebenaran. Kebenaran publik tidak lahir dari algoritma, melainkan dari jurnalisme yang mau turun ke tanah mendengar suara orang-orang yang sering tak dianggap penting.
 
Misinformasi dan disinformasi hanya bisa dikalahkan jika jurnalis kembali memihak pada manusia. Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa kebenaran, betapapun jauh dan kecilnya, tetap punya kesempatan untuk hidup.

Penulis: Adipatra Kenaro Wicaksana
Email Penulis: Kenaro11@gmail.com
Sosial Media Penulis: https://www.instagram.com/adipatrakw/
Linkedin Penulis: https://www.linkedin.com/in/adipatrakw/

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update