Notification

×

Urgensi Dokumen Rencana Aksi Mitigasi Bagi BUMD Dalam Antisipasi Bencana

Sabtu, 29 November 2025 | 07.49 WIB Last Updated 2025-11-29T00:49:18Z

Dok. Foto Penulis : Adhifatra Agussalim, CIP, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML
 

GEMARNEWS.COM, OPINI - Peristiwa ekstrem beberapa hari terakhir, khususnya di Provinsi Aceh, menunjukkan betapa krusialnya penanganan multi bencana seperti gempa, banjir, dan angin topan. Prediksi BMKG seharusnya menjadi panduan bagi kita semua untuk mengantisipasi bencana yang berimbas pada sarana dan prasarana publik seperti distribusi air bersih, kelistrikan, transportasi, dan komunikasi. 

Di level daerah, keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadi salah satu penopang utama pelayanan publik yang sangat bergantung pada kestabilan operasional. Gangguan sekecil apa pun pada infrastruktur BUMD dapat menimbulkan efek berantai terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, keberadaan Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa ditunda atau ditawar lagi. Allahumma shalli alaa Muhammadin 'abdika warasulika nabiyyil ummi wa'alaa aalihii wa sallim.
 
Terlepas dari keberadaan BPBD, Tim SAR, Aparatur TNI/POLRI, dan Tim Rescue dari BUMN di setiap daerah, BUMD juga dapat berperan strategis dalam menghadapi tantangan terhadap kerentanan bencana. Sebagian besar BUMD mengelola infrastruktur vital bagi masyarakat pelanggan seperti air bersih, air minum dalam kemasan, sanitasi, energi, pasar, dan transportasi. Infrastruktur ini sangat sensitif terhadap perubahan iklim maupun gangguan lingkungan. 

Tanpa perencanaan mitigasi yang matang, bencana dapat menyebabkan terhentinya pelayanan publik secara tiba-tiba, dampak kerusakan fasilitas dan aset penting, beban biaya pemulihan yang sangat besar, serta turunnya kepercayaan masyarakat dan pemilik modal. Situasi-situasi tersebut telah terjadi di banyak daerah akibat ketidaksiapan menghadapi bencana. Di sinilah pentingnya penyusunan DRAM bagi setiap BUMD.
 
Kita sama-sama melihat dan merasakan begitu lambatnya antisipasi pasca bencana bagi daerah yang terdampak. Bukannya untuk mengemis, akan tetapi akses terhadap kebutuhan publik juga menjadi hal yang sangat penting untuk dipercepat dan diaktualisasikan pasca bencana. Semua hal mitigasi tersebut bisa diimplementasikan dengan adanya DRAM yang menjadi sebagai pilar penguatan manajemen risiko bencana. 

DRAM merupakan dokumen strategis yang berisi identifikasi risiko, langkah-langkah mitigasi, rencana kontinjensi, serta mekanisme pemulihan pasca bencana. Dokumen ini bukan hanya sekadar syarat administratif, melainkan alat manajemen untuk mempersiapkan BUMD menghadapi situasi ekstrem dan shock disaster.
 
Manfaat DRAM bagi BUMD
 
- Identifikasi Risiko Sistematis: DRAM membantu BUMD memahami tingkat kerentanan aset, proses bisnis, dan operasional. Mulai dari kemungkinan banjir yang merendam instalasi pengolahan air, risiko patahnya pipa transmisi dan distribusi akibat longsor, hingga potensi terputusnya jalur distribusi saat badai ataupun angin topan melanda. Identifikasi yang baik ini menghasilkan prioritas mitigasi yang tepat sasaran, dan memotong rantai birokrasi lintas dinas atau lintas institusi.

- Memastikan Keberlanjutan Pelayanan Publik: Sebagai penyedia layanan dasar, BUMD tidak boleh berhenti beroperasi meski terjadi bencana. DRAM memberikan pedoman bagi perusahaan untuk menjaga layanan minimal melalui SOP tanggap darurat, pengamanan aset yang kritis, pengalihan sementara alur operasional, dan pengaturan komunikasi krisis. Dengan adanya DRAM, kita berharap pelayanan publik tetap berjalan meski dalam kondisi yang terbatas.

- Mengurangi Kerugian dan Biaya Pemulihan: Langkah mitigasi yang direncanakan lebih murah dibandingkan biaya perbaikan aset setelah bencana. Contohnya adalah penguatan struktur bangunan di kawasan rawan banjir, pengadaan genset cadangan, atau penyiapan jalur evakuasi peralatan vital. DRAM ini dapat membantu BUMD mengalokasikan anggaran mitigasi secara lebih efisien, terukur, dan terarah.

- Meningkatkan Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan BPBD: DRAM tidak hanya berfungsi di internal perusahaan, tetapi juga menjadi referensi koordinasi dengan instansi penanggulangan bencana. Ketika bencana terjadi, komunikasi dan respons dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan terukur. Koordinasi yang baik meminimalkan kebingungan dan mempercepat proses pemulihan.

- Memperkuat Tata Kelola dan Kepatuhan Regulasi: Banyak regulasi sekarang mendorong penerapan manajemen risiko dan kesiapsiagaan pada BUMD. DRAM menjadi bukti bahwa perusahaan menjalankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), bertanggung jawab terhadap aset, SDM, dan masyarakat pelanggan yang dilayaninya. Dokumen ini juga memberikan nilai tambah dalam audit internal, eksternal, maupun penilaian kinerja.

- Fondasi Budaya Kesiapsiagaan: Lebih dari sekadar dokumen, DRAM dapat menumbuhkan budaya siaga di dalam tubuh BUMD. Proses penyusunannya melibatkan pelatihan dan peningkatan kapasitas pegawai, simulasi keadaan darurat secara berkelanjutan, pemutakhiran data risiko secara berkala, dan senantiasa melibatkan seluruh unit bagian/cabang dalam perencanaan. Ketika karyawan memahami apa yang harus dilakukan saat bencana datang, respons akan menjadi lebih cepat dan efektif. Budaya siaga ini tidak dapat terbentuk tanpa adanya perencanaan yang tertata.
 
Kesimpulan
 
DRAM seharusnya menjadi kebutuhan wajib BUMD masa kini dan masa mendatang. Di tengah meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim, tidak ada pilihan lain bagi BUMD selain memperkuat kesiapsiagaan. Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) ini menjadi instrumen yang memastikan perusahaan tetap tangguh, layanan publik tidak terganggu, dan masyarakat tetap terlindungi.

 BUMD yang sudah memiliki DRAM yang baik bukan hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga mampu menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan, akuntabilitas, dan perlindungan layanan publik. Dengan demikian, DRAM bukan lagi sekadar dokumen, tetapi fondasi strategis bagi ketahanan daerah secara keseluruhan. Kita berharap seperti itu, dan dapat kita implementasikan sesegera mungkin. Kalau bukan kita siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi.
 
Saya tutup dengan satu pantun untuk mengingatkan kita bersama:
 
Di tepi Krueng Pase menanam keladi,
Air meluap karena hujan yang lama.
Apabila bencana datang tak henti,
Tetap tenang dan saling menjaga.
 
Kota Lhokseumawe, Hari Jum’at, 28 November 2025 / 7 Rabiul Akhir 1447 H.

Penulis : Adhifatra Agussalim, CIP, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML
Ketua DPD SWI ACEH

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update