Notification

×

Anggota Komisi XIII DPR RI Muslim Ayub Hadir di Lokasi Bencana Aceh Sumatra, 30 Hari Bersama Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 11.04 WIB Last Updated 2026-01-02T04:04:30Z



BANDA ACEH, GEMARNEWS.COM – Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Muslim Ayub, melaksanakan kegiatan kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh selama 30 hari penuh, terhitung sejak 30 November hingga 31 Desember 2025. Kegiatan ini dilakukan bersama NasDem Peduli Bencana Aceh sebagai wujud kehadiran wakil rakyat di tengah masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat.

Selama satu bulan di lapangan, Muslim Ayub menempuh perjalanan ribuan kilometer, menyusuri wilayah barat hingga timur Aceh, dari kawasan pesisir hingga daerah pedalaman dan pegunungan yang sulit dijangkau. Rangkaian kunjungan dimulai dari Banda Aceh, kemudian berlanjut ke wilayah barat Aceh meliputi Meulaboh dan Nagan Raya, dilanjutkan ke wilayah selatan seperti Trumon, Singkil, dan Subulussalam yang terdampak banjir dan kerusakan infrastruktur cukup parah.

Perjalanan kemanusiaan tersebut tidak berhenti di wilayah pesisir. Muslim Ayub bersama tim melanjutkan misi ke kawasan pedalaman, yakni Kutacane, guna melakukan penguatan logistik, sebelum bergerak ke wilayah pegunungan Gayo Lues. Selanjutnya, tim menyusuri wilayah timur Aceh yang meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara, hingga rangkaian kegiatan berakhir di Pidie Jaya.

Dalam menghadapi medan berat dan akses yang terputus, berbagai cara ditempuh untuk menjangkau masyarakat terdampak. Ketika jalan darat tidak dapat dilalui, tim menggunakan sampan. Saat kendaraan tidak memungkinkan melintas, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Langkah tersebut dilakukan semata-mata untuk memastikan bantuan dan kehadiran negara benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah yang sempat terisolir.

Di lokasi pengungsian, Muslim Ayub tidak hanya melakukan peninjauan, tetapi juga memilih tinggal dan berbaur bersama warga. Ia turut memasak dan makan bersama masyarakat di tiga titik pengungsian, tanpa jarak dan sekat. Dalam kondisi darurat, keterbatasan menjadi bagian dari keseharian tim di lapangan, termasuk waktu makan yang tidak selalu teratur. Namun hal tersebut dinilai tidak sebanding dengan kondisi warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan akibat bencana.

Perjalanan kemanusiaan ini juga diwarnai berbagai kendala teknis. Truk bantuan sempat tersangkut lumpur, kendaraan mengalami pecah ban, hingga dua kali kecelakaan lalu lintas. Meski demikian, seluruh rangkaian kegiatan tetap dilanjutkan hingga seluruh wilayah yang direncanakan dapat dikunjungi.

Dalam pelaksanaan tugas di lapangan, Muslim Ayub menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan bertanggung jawab. Ia tidak segan-segan menginstruksikan bahkan menegur tim apabila menemukan keterlambatan, kurangnya koordinasi, atau hambatan yang berpotensi menghambat distribusi bantuan. Ketegasan tersebut diterapkan untuk memastikan seluruh tim bekerja secara cepat, disiplin, dan fokus pada kepentingan masyarakat terdampak.

Menurut Muslim Ayub, dalam situasi bencana tidak ada ruang untuk menunda. Kecepatan dan ketepatan kerja merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan yang harus diutamakan. Seluruh arahan dan keputusan di lapangan, termasuk sikap tegas terhadap tim, dilakukan semata-mata demi memastikan bantuan kemanusiaan segera diterima oleh masyarakat.

“Kondisi darurat menuntut kerja cepat dan tepat. Kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama, di atas kepentingan apa pun,” tegas Muslim Ayub.

Aktivitas kemanusiaan yang dilakukan Muslim Aiyub bersama tim berlangsung masif dan menyasar berbagai titik wilayah terdampak bencana. Didampingi aparat TNI dan Polri, tim bergerak cepat menyalurkan bantuan serta memastikan kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.

Keterlibatan TNI–Polri dinilai memberikan energi positif sekaligus memperkuat kerja lapangan yang dilakukan secara terpadu. Sinergi lintas unsur ini menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat, terutama dalam menjangkau wilayah yang sulit diakses dan menjaga stabilitas di lapangan.

Kegiatan tersebut juga melibatkan para Ketua DPD di berbagai wilayah Aceh, termasuk Ketua DPD Kabupaten Aceh Tamiang. Kehadiran mereka memperkuat koordinasi dan menunjukkan bahwa penanganan bencana dilakukan secara kolektif, terstruktur, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Muslim Ayub menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya berupa logistik, tetapi juga kehadiran, empati, dan kepastian bahwa masyarakat terdampak bencana tidak dibiarkan menghadapi musibah sendirian. Partai NasDem melalui NasDem Peduli Bencana Aceh menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam setiap situasi darurat dan memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah masyarakat.

Di tengah lumpur, banjir, dan keterbatasan akses, perjalanan 30 hari bersama masyarakat Aceh ini menjadi refleksi bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang jarak, melainkan tentang kehadiran, ketegasan, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan(red)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update