GEMARNEWS.COM, TAKENGON - Sekretaris Komisi D DPRK Aceh Tengah, Syukri, meninjau langsung kondisi SDN 9 Kebayakan yang terdampak banjir dan longsor, Sabtu, 3 Januari 2026. Peninjauan tersebut dirangkai dengan kegiatan gotong royong membersihkan sisa lumpur di lingkungan sekolah.
Kehadiran Syukri disambut baik oleh Kepala SDN 9 Kebayakan beserta dewan guru. Dalam kegiatan tersebut, Syukri tidak hanya meninjau, tetapi juga turut membantu proses pembersihan bersama para relawan. Ia membawa sejumlah alat kebersihan, seperti kompresor air, sikat, sapu, pel, dan perlengkapan kebersihan lainnya. Selain itu, Syukri juga mengupayakan alat berat (beko) untuk memindahkan lumpur yang masih menumpuk di halaman sekolah.
Syukri, yang juga merupakan anggota DPRK Aceh Tengah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengatakan bahwa sektor pendidikan harus menjadi prioritas dalam penanganan pascabencana.
“Sekolah tidak boleh terlalu lama lumpuh. Anak-anak harus segera kembali belajar dengan aman dan nyaman. Kehadiran kami hari ini adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab agar proses belajar mengajar bisa segera normal kembali,” ujar Syukri.
Ia menegaskan bahwa Komisi D DPRK Aceh Tengah akan terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mempercepat pemulihan sekolah-sekolah terdampak bencana.
Sementara itu, Kepala SDN 9 Kebayakan, Saena Ningsih, M.Pd, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam gotong royong tersebut.
“Alhamdulillah, dengan adanya gotong royong hari ini, insyaallah hari Senin anak-anak sudah bisa kembali bersekolah,” kata Saena.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah membantu proses pembersihan sekolah.
“Saya mewakili seluruh dewan guru mengucapkan ribuan terima kasih kepada para relawan, baik dari TNI Kodim 0106/Aceh Tengah, mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, serta siswa SMKN 1 Aceh Tengah,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Muhadisin, Danposramil Kebayakan Kodim 0106/Aceh Tengah, menjelaskan bahwa kegiatan gotong royong di SDN 9 Kebayakan telah berlangsung selama 13 hari.
“Gotong royong ini sudah berjalan 13 hari, dengan personel yang setiap hari bergantian,” jelasnya. Kolaborasi lintas unsur ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan dan memastikan keselamatan serta kenyamanan siswa saat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. (*)

.jpeg)