GEMARNEWS.COM, YOGYAKARTA – Di tengah dinamika akademik di tanah rantau, mahasiswa Aceh yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh Yogyakarta (HIMPASAY) berkolaborasi dengan Asrama Putri Pocut Baren menggelar tradisi Meugang Raya pada Selasa, 17 Februari 2026.
Mengangkat tema “Adat Meugang Tacok Keu Berkat, Keu Peukuat Taloe Syedara,” kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menjaga akar budaya sekaligus mempererat solidaritas antar-mahasiswa Aceh di perantauan.
Nuzulul Azmi, S.Pd., CBC mengatakan kepada media ini Sejak pagi hari pelataran Asrama Putri Pocut Baren di Yogyakarta dipenuhi aktivitas kebersamaan. Para anggota HIMPASAY dan penghuni asrama larut dalam suasana meuseuraya—gotong royong khas Aceh—mulai dari memotong daging, meracik bumbu, hingga memasak dalam kuali besar. Canda tawa dan percakapan hangat mengiringi setiap tahapan persiapan, menciptakan ruang interaksi lintas angkatan dan disiplin ilmu.
Aroma rempah yang menguar dari masakan seolah menghidupkan kembali memori kampung halaman. Tradisi Meugang yang identik dengan kebersamaan menjelang hari besar keagamaan itu menjadi jembatan emosional yang menghubungkan para mahasiswa dengan akar budayanya. Di tanah rantau, tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol identitas dan solidaritas.
Menjelang siang, langit Yogyakarta meredup dan hujan perlahan turun membasahi bumi Mataram. Alih-alih menghambat jalannya kegiatan, rintik hujan justru menghadirkan suasana syahdu di pendopo asrama. Para mahasiswa merapat, berbagi cerita dan tawa sembari menanti hidangan matang. Kehangatan masakan yang mengepul berpadu dengan sejuknya udara pascahujan, menghadirkan atmosfer kebersamaan yang lebih intim.
Puncak acara ditandai dengan makan siang bersama. Dalam kesederhanaan, sajian daging Meugang dinikmati dengan penuh rasa syukur. Ketua Umum HIMPASAY dalam sambutannya menyampaikan bahwa esensi Meugang bukan hanya pada hidangan, tetapi pada nilai berbagi dan memperkuat tali persaudaraan. “Di perantauan, kebersamaan seperti inilah yang menjadi penguat semangat. Tradisi adalah cara kita merawat identitas,” ujarnya.
Di sela santap bersama, diskusi mengenai progres studi, dinamika organisasi, hingga kerinduan akan keluarga di Aceh mengalir alami. Meja makan berubah menjadi ruang refleksi dan motivasi bersama. Tradisi Meugang di Yogyakarta pun menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak memutus ikatan emosional dengan tanah kelahiran.
Kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama sebagai penanda kolaborasi yang solid antara HIMPASAY dan Asrama Putri Pocut Baren.
Momen tersebut menjadi catatan penting dalam upaya konsisten melestarikan budaya Aceh di perantauan. Melalui Meugang Raya, mahasiswa Aceh di Yogyakarta menegaskan bahwa identitas bukan sekadar warisan, melainkan nilai yang terus dirawat dan dihidupkan bersama, pungkasnya.