Dok.foto Penulis : Almira Sanari Mahdya
Gemarnews.com, Opini - Belakangan ini, pembahasan mengenai kesehatan mental mulai ramai terlihat di berbagai platform media sosial. Di antara semua aplikasi, Tiktok menjadi salah satu aplikasi yang paling sering digunakan di setiap kalangan anak muda saat ini. Tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan saja, tetapi TikTok juga menjadi tempat berbagi informasi, termasuk informasi yang berhubungan dengan psikologis. Melalui video singkat yang ditampilkan di aplikasi ini, berbagai istilah seperti anxiety, depresi, hingga ADHD menjadi lebih dikenal oleh individu bahkan oleh mereka yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pengetahuan psikologi.
Di satu sisi, hal ini tentu membawa dampak positif. Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental mulai meningkat dan pembahasan yang dulu dianggap tabu oleh masyarakat kini mulai lebih terbuka. Banyak individu yang akhirnya merasa bahwa apa yang mereka alami ternyata memiliki penjelasan sehingga mereka tidak lagi merasa “aneh” atau sendirian. Namun, di sisi lain, kemudahan dalam mengakses informasi ini juga memunculkan persoalan baru, yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan self-diagnosis.
Fenomena Self-Diagnosis pada Pengguna TikTok
Self-diagnosis dalam konteks ini bisa dipahami sebagai upaya seseorang untuk menilai kondisi mentalnya sendiri tanpa adanya proses pemeriksaan profesional.
Fenomena ini sering kali berawal dari rasa “relate” terhadap konten yang ditonton. Misalnya, ketika seseorang melihat video yang menjelaskan ciri-ciri overthinking atau gangguan kecemasan, lalu merasa bahwa dirinya mengalami hal yang sama. Dari situ, muncul kesimpulan bahwa dirinya memiliki gangguan tertentu. Padahal, dalam praktik psikologi, proses diagnosis tidak sesederhana itu dan memerlukan pertimbangan yang lebih lanjut dan mendalam (Desanta Publisher, 2023).
Jika diperhatikan, cara penyampaian konten di TikTok memang sangat mendukung munculnya fenomena ini. Informasi disajikan secara singkat, langsung ke inti, dan sering kali menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat konten terasa mudah dipahami sekaligus meyakinkan. Namun, justru karena terlalu ringkas, banyak aspek penting yang tidak tersampaikan, seperti perbedaan antara gejala umum dan kondisi klinis. Akibatnya, pengguna cenderung menyamakan pengalaman sehari-hari dengan gangguan psikologis yang sebenarnya memiliki kriteria tertentu.
Selain itu, faktor lain yang tidak kalah berpengaruh adalah interaksi antar pengguna. Kolom komentar sering kali menjadi ruang diskusi yang aktif, di mana banyak orang saling berbagi pengalaman dan perasaan.
Tidak jarang ditemukan komentar seperti “aku juga kayak gini, berarti aku anxiety ya?” atau “ini gue banget, fix ADHD”. Respon-respon seperti ini, meskipun terlihat sepele, sebenarnya dapat memperkuat keyakinan seseorang terhadap self-diagnosis yang mereka lakukan. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi membentuk pemahaman yang kurang tepat mengenai kesehatan mental.
Lebih jauh lagi, fenomena ini juga dapat berdampak pada cara seseorang memandang orang lain. Ketika seseorang terbiasa melihat konten yang mengaitkan perilaku tertentu dengan gangguan psikologis, lahir kecenderungan untuk mulai “memberi label” kepada orang di sekitarnya. Misalnya, menganggap teman yang mudah cemas pasti memiliki anxiety disorder atau seseorang yang sulit fokus pasti mengalami ADHD. Padahal tanpa proses asesmen yang tepat, penilaian seperti ini bisa menjadi bentuk simplifikasi yang berlebihan.
Menariknya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Desanta Publisher (2023), disebutkan bahwa kondisi psikologis seseorang bahkan dapat dianalisis melalui aspek kebahasaan, seperti komentar yang ditulis di media sosial.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa ekspresi verbal memang dapat memberikan gambaran tertentu mengenai kondisi mental individu. Namun demikian, penting untuk diingat bahwa pendekatan ini bersifat indikatif, bukan diagnostik. Artinya, hasilnya tidak dapat dijadikan dasar utama untuk menentukan kondisi seseorang secara pasti.
Upaya Pencegahan: Edukasi dan Trigger Warning
Di tengah fenomena ini, penting untuk melihat bahwa media sosial sebenarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Justru, keberadaannya dapat menjadi sarana edukasi yang efektif jika digunakan dengan tepat. Permasalahan utamanya terletak pada bagaimana informasi tersebut dipahami oleh pengguna. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi hal yang sangat penting, agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengevaluasi dan mengkritisinya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan trigger warning pada konten kesehatan mental. Meskipun terlihat sederhana, hal ini dapat membantu pengguna untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi informasi, serta tidak langsung mengaitkannya dengan kondisi diri sendiri.
Selain itu, edukasi mengenai pentingnya konsultasi dengan tenaga profesional juga perlu terus disampaikan, agar masyarakat memahami bahwa diagnosis bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan secara mandiri.
Relevansi dalam Konteks Indonesia
Hal ini menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan kondisi di Indonesia, di mana tingkat literasi digital masih terus berkembang dan akses terhadap layanan kesehatan mental belum merata. Dalam situasi seperti ini, media sosial memang dapat menjadi alternatif sumber informasi, tetapi tetap tidak dapat menggantikan peran profesional di bidang kesehatan mental.
Pada akhirnya, fenomena self-diagnosis di kalangan generasi Z menunjukkan adanya perubahan cara individu dalam memahami dirinya di era digital. Ada sisi positif berupa meningkatnya kesadaran, tetapi juga ada risiko berupa kesalahpahaman. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara keterbukaan terhadap informasi dan kemampuan untuk menyikapinya secara kritis. Dengan begitu, media sosial dapat tetap menjadi sarana yang bermanfaat tanpa menimbulkan dampak negatif yang berlebihan.
Penulis : Almira Sanari Mahdya
NPM:250710113100016
Fakultas :
Jurusan :
Universitas :