Notification

×

Kisah Panglimo Rajo Lelo IV, Panglima Kluet yang Lawan Belanda dengan 24 Pejuang

Sabtu, 25 April 2026 | 07.59 WIB Last Updated 2026-04-25T00:59:24Z

Dok.foto : Kuburan Panglima Rejo 

Aceh Selatan, Opini – Sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme kembali mencuat melalui kisah heroik Panglimo Rajo Lelo IV, seorang panglima dari Tanah Kluet yang dikenal gigih mempertahankan wilayahnya dari penjajahan Belanda.

Panglimo Rajo Lelo IV yang memiliki nama asli Ibnu Wantaser lahir pada tahun 1864 di Pung Besei (Kampung Sapik), Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Ia merupakan putra dari Wannamid bin Wan Andun dan Sanniati binti Barlam. Sejak usia dini, Wantaser telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat serta pembinaan karakter yang disiplin, membentuk pribadinya menjadi sosok pemberani dan berintegritas.

Pada tahun 1913, Wantaser diangkat sebagai panglima oleh Raja Kluet, Kejeurun Mukmin. Sejak saat itu, ia menyandang gelar Panglimo Rajo Lelo IV, melanjutkan kepemimpinan dari abangnya, Abdul Malik (Panglimo Rajo Lelo III). Pengangkatan ini menjadi titik awal peran besarnya dalam memimpin perlawanan rakyat Kluet terhadap kolonial Belanda.

Dalam catatan sejarah lokal, Panglimo Rajo Lelo tidak hanya dikenal sebagai pemimpin perang, tetapi juga sebagai simbol perlawanan rakyat Aceh terhadap penindasan. Ia bersama tokoh-tokoh Kluet lainnya seperti Teuku Raja Angkasa dan Teuku Cut Ali berperan aktif dalam menggalang kekuatan rakyat untuk menghadapi pasukan kolonial.

Salah satu peristiwa penting dalam perjuangannya terjadi saat pasukan Belanda menyeberangi Sungai Kluet dari Gampong Pulo Kambing menuju Gampong Durian Kawan. Pasukan tersebut bermalam di kawasan Mamplam Durian Kawan dengan tujuan memburu Teuku Cut Ali yang dikenal sebagai tokoh keras penentang penjajah.

Mengetahui pergerakan tersebut, Panglimo Rajo Lelo bersama pasukannya segera menggelar musyawarah untuk menyusun strategi perlawanan. Puncaknya terjadi pada Rabu, 3 April 1926 atau bertepatan dengan 20 Ramadan 1346 Hijriah, dalam pertempuran yang dikenal sebagai Perang Kelulum di Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur.

Dalam pertempuran tersebut, Panglimo Rajo Lelo memimpin 24 pejuang rakyat Kluet menghadapi 23 pasukan kolonial Belanda yang dipimpin Kapten J. Paris (Syafi’ie AS, 1988). Meski dengan jumlah terbatas, para pejuang menunjukkan keberanian luar biasa dalam mempertahankan tanah airnya.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa semangat juang rakyat Aceh tidak pernah surut dalam menghadapi penjajahan. Nilai-nilai keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air yang ditunjukkan Panglimo Rajo Lelo terus menjadi inspirasi hingga saat ini.

Di era digital, kisah perjuangan tokoh lokal seperti Panglimo Rajo Lelo kembali diangkat sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah daerah. Hal ini penting untuk memperkenalkan generasi muda pada jejak perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan.

Dengan mengangkat kembali sejarah lokal, diharapkan semangat nasionalisme dan kesadaran akan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.

Penulis : Syahrul Amin, S. Sos 
Pemerhati Sejarah Aceh
Pengurus PMII Aceh 

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update