GEMARNEWS.COM, BANDA ACEH - Ketua Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah (PWM) Aceh sekaligus Anggota Tuha Lapan Wali Nanggroe, A Malik
Musa, SH, M.Hum, terus mendorong kebangkitan ekonomi rakyat berbasis industri
kreatif dan syariah di Aceh. Melalui kerja sama strategis dengan perusahaan asal
Malaysia, Muhammadiyah Aceh kini membuka peluang besar pengembangan industri
jahit di Aceh untuk memproduksi mukena, jilbab, selimut, sarung bantal hingga
berbagai produk tekstil muslim yang berorientasi ekspor.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum
Persefahaman (MoU) antara PWM Aceh dengan perusahaan R Ulong Global (M) SDN.
BHD Malaysia pada 19 Mei 2026. Kerja sama ini difokuskan pada pelaksanaan
proyek jahitan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui konsep anchor-vendor,
yang diharapkan menjadi pintu masuk kebangkitan ekonomi umat di Aceh. Ahad
(24/5/2026)
Dalam keterangannya di Warung Kopi Sada Lambhuk, Banda Aceh, Sabtu
(24/5/2026), A Malik Musa mengatakan selama ini Aceh lebih banyak menjadi
konsumen produk luar, padahal memiliki sumber daya manusia dan basis pendidikan
kejuruan yang sangat potensial untuk menciptakan produk sendiri.
Menurutnya, siswa SMK jurusan tata busana maupun menjahit nantinya
dapat dilibatkan untuk dilatih hingga mampu menghasilkan produk berkualitas
ekspor.
“Aceh punya peluang besar. Jangan regulasi dipersulit. Kita ingin
anak-anak Aceh bisa dilatih menjahit mukena, jilbab, selimut hingga produk
tekstil lainnya, lalu dijual di Aceh, Indonesia bahkan diekspor ke
negara-negara muslim di Timur Tengah, Asia Tenggara hingga Tiongkok,” ujar A
Malik Musa.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga membuka peluang pelatihan
On Job Training (OJT) selama 3–6 bulan di Malaysia guna meningkatkan kapasitas
tenaga kerja Aceh agar memiliki standar produksi internasional. Selain itu,
bahan baku dan akses pasar internasional disebut telah disiapkan oleh pihak
mitra sehingga hasil produksi Aceh nantinya memiliki kepastian pasar.
A Malik Musa menegaskan, momentum ini harus disambut serius oleh
Pemerintah Aceh melalui percepatan regulasi dan dukungan fasilitas bagi pelaku
usaha, petani, serta generasi muda. Menurutnya, jika peluang tersebut
dijalankan dengan baik, Aceh tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan produk
luar, tetapi juga berpotensi menjadi pusat industri muslim regional yang mengangkat
kesejahteraan masyarakat secara luas.
A Malik Musa juga menekankan bahwa program kerja sama ini tidak
hanya menyasar pelaku UMKM dan siswa SMK, tetapi juga membuka peluang
pemberdayaan ekonomi bagi pengurus masjid di Aceh.
Menurutnya, pengurus masjid nantinya dapat dilatih keterampilan
menjahit produk seperti mukena, jilbab, sarung bantal, hingga perlengkapan
muslim lainnya sebagai sumber income tambahan.
“Kita ingin masjid juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Pengurus masjid bisa dilatih agar memiliki penghasilan tambahan, sehingga
masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penguatan ekonomi
masyarakat,” ujar A Malik Musa. (sumber putaran.id/tim)
