Notification

×

Ketua PWM Aceh Bangun Kerjasama dengan Malaysia, Industri Mukena Siap Tumbuh di Aceh

Senin, 25 Mei 2026 | 07.26 WIB Last Updated 2026-05-25T00:26:22Z


 

GEMARNEWS.COM, BANDA ACEH - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh sekaligus Anggota Tuha Lapan Wali Nanggroe, A Malik Musa, SH, M.Hum, terus mendorong kebangkitan ekonomi rakyat berbasis industri kreatif dan syariah di Aceh. Melalui kerja sama strategis dengan perusahaan asal Malaysia, Muhammadiyah Aceh kini membuka peluang besar pengembangan industri jahit di Aceh untuk memproduksi mukena, jilbab, selimut, sarung bantal hingga berbagai produk tekstil muslim yang berorientasi ekspor.

 

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum Persefahaman (MoU) antara PWM Aceh dengan perusahaan R Ulong Global (M) SDN. BHD Malaysia pada 19 Mei 2026. Kerja sama ini difokuskan pada pelaksanaan proyek jahitan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui konsep anchor-vendor, yang diharapkan menjadi pintu masuk kebangkitan ekonomi umat di Aceh. Ahad (24/5/2026)


Dalam keterangannya di Warung Kopi Sada Lambhuk, Banda Aceh, Sabtu (24/5/2026), A Malik Musa mengatakan selama ini Aceh lebih banyak menjadi konsumen produk luar, padahal memiliki sumber daya manusia dan basis pendidikan kejuruan yang sangat potensial untuk menciptakan produk sendiri.


Menurutnya, siswa SMK jurusan tata busana maupun menjahit nantinya dapat dilibatkan untuk dilatih hingga mampu menghasilkan produk berkualitas ekspor.


“Aceh punya peluang besar. Jangan regulasi dipersulit. Kita ingin anak-anak Aceh bisa dilatih menjahit mukena, jilbab, selimut hingga produk tekstil lainnya, lalu dijual di Aceh, Indonesia bahkan diekspor ke negara-negara muslim di Timur Tengah, Asia Tenggara hingga Tiongkok,” ujar A Malik Musa.


Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga membuka peluang pelatihan On Job Training (OJT) selama 3–6 bulan di Malaysia guna meningkatkan kapasitas tenaga kerja Aceh agar memiliki standar produksi internasional. Selain itu, bahan baku dan akses pasar internasional disebut telah disiapkan oleh pihak mitra sehingga hasil produksi Aceh nantinya memiliki kepastian pasar.

A Malik Musa menegaskan, momentum ini harus disambut serius oleh Pemerintah Aceh melalui percepatan regulasi dan dukungan fasilitas bagi pelaku usaha, petani, serta generasi muda. Menurutnya, jika peluang tersebut dijalankan dengan baik, Aceh tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan produk luar, tetapi juga berpotensi menjadi pusat industri muslim regional yang mengangkat kesejahteraan masyarakat secara luas.

A Malik Musa juga menekankan bahwa program kerja sama ini tidak hanya menyasar pelaku UMKM dan siswa SMK, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi pengurus masjid di Aceh.

Menurutnya, pengurus masjid nantinya dapat dilatih keterampilan menjahit produk seperti mukena, jilbab, sarung bantal, hingga perlengkapan muslim lainnya sebagai sumber income tambahan.

“Kita ingin masjid juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Pengurus masjid bisa dilatih agar memiliki penghasilan tambahan, sehingga masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penguatan ekonomi masyarakat,” ujar A Malik Musa. (sumber putaran.id/tim)

 

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update