Pengajian menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) sekaligus Vice Chancellor Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Dr. Saidul Amin, M.A., sebagai pembicara utama. Turut hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, jajaran PCIM dan PCIA Malaysia, serta warga Muhammadiyah dan diaspora Indonesia.
Dalam pemaparannya, Saidul Amin mengulas makna ibadah kurban melalui konsep “Trilogi Peradaban” yang menurutnya menjadi fondasi lahirnya masyarakat unggul. Ia menjelaskan bahwa kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar bukan sekadar sejarah keagamaan, melainkan model peradaban yang relevan sepanjang masa.
“Ibrahim adalah simbol pemimpin berintegritas, yang ucapan dan tindakannya selaras serta rela berkorban demi umat. Ismail melambangkan generasi cerdas dan taat di jalan Allah. Sedangkan Siti Hajar adalah sosok perempuan tangguh, penyangga peradaban dan tiang negara,” ujar Saidul Amin.
Menurutnya, lahirnya generasi unggul sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan keluarga dan keteladanan orang tua. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari rumah.
“Jika ingin memiliki generasi seperti Ismail, maka orang tua harus menjadi seperti Ibrahim dan Siti Hajar. Karakter anak adalah cerminan dari didikan orang tuanya,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Saidul Amin juga menyoroti konsep halim yang disebutnya sering luput dipahami masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang saleh, namun Al-Qur’an justru memberikan kabar tentang anak yang halim atau penyabar.
“Soleh itu ibarat nasi, sebuah hasil akhir atau produk jadi. Sedangkan halim itu ibarat padi, sebuah benih atau proses. Allah memberikan Nabi Ismail sifat halim sebagai bahan baku utama, karena tanpa kesabaran dalam berproses seseorang tidak akan pernah mencapai derajat kesalehan yang sejati,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesalehan bukan sesuatu yang hadir secara instan, melainkan lahir melalui ujian dan proses panjang yang ditempa dengan kesabaran.
“Kesalehan itu tidak lahir tiba-tiba. Ada proses panjang, ada ujian, ada latihan kesabaran. Itulah yang sering dilupakan orang,” katanya.
Selain membahas dimensi pendidikan karakter, Saidul Amin juga mengulas kedalaman spiritual Nabi Ibrahim ketika menerima perintah Allah melalui mimpi (ar-ru’ya). Menurutnya, kesediaan Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut menunjukkan tingkat keyakinan iman yang sangat tinggi.
“Melaksanakan perintah melalui mimpi membutuhkan hakulyakin, kepastian iman yang luar biasa. Nabi Ibrahim adalah pribadi yang sangat peka secara spiritual, mampu membedakan mana mandat langit dan mana sekadar bisikan biasa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PCIM Malaysia, H. Fauzi Fatkhur, memaparkan perkembangan organisasi, termasuk hadirnya Rumah HAMKA sebagai sekretariat resmi PCIM Malaysia yang terwujud berkat dukungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia juga menyoroti peran Universiti Muhammadiyah Malaysia dalam memperluas kaderisasi hingga ke Perlis serta pengembangan PT Suryamu (Suryamu Sdn. Bhd.) di bidang renovasi, travel, dan pendidikan.
“Ke depan, fokus utama kami adalah pembentukan task force pendirian Sekolah Muhammadiyah di Malaysia sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan pendidikan berkelanjutan,” jelas Fauzi.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, turut mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dalam penguatan pendidikan karakter masyarakat Indonesia di Malaysia. Menurutnya, sinergi pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membangun generasi Indonesia yang unggul dan berakhlak.
Acara diawali dengan salat Magrib berjamaah dan lantunan takbiran, kemudian ditutup dengan salat Isya berjamaah serta ajakan berpartisipasi dalam program kurban tahunan PCIM Malaysia. (red)
Reporter: Ulin/Soleh
