![]() |
| Jeritan Hati Ayah di Aceh Selatan: Baitul Mal Harus Peka, Jemput Bola Tuntaskan Penderitaan Anak Bocor Jantung |
GEMARNEWS.COM – Kisah pilu seorang ayah di Aceh Selatan yang tertatih-tatih berjuang demi kesembuhan anaknya yang didiagnosis mengalami kebocoran jantung memantik empati sekaligus kritik tajam publik, Minggu (28/6/2026)
Kondisi darurat kemanusiaan seperti ini seharusnya tidak perlu menunggu birokrasi yang berbelit atau jeritan minta tolong yang viral di media massa agar lembaga resmi seperti Baitul Mal Aceh (BMA) mau bergerak.
Sesuai dengan marwahnya sebagai lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah, Baitul Mal memiliki tanggung jawab moral dan struktural untuk menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan mustahik (penerima zakat) yang sedang bertaruh nyawa.
Kasus bocor jantung pada anak dari keluarga kurang mampu ini adalah sinyal merah yang menuntut aksi nyata yang cepat, bukan sekadar respons administratif mendikte proposal.
Sistem "jemput bola" harus segera diaktifkan. Ketika sebuah penderitaan warga Aceh telah terekspos ke publik, Baitul Mal Aceh sepatutnya langsung berkoordinasi dengan Baitul Mal Kabupaten (BMK) Aceh Selatan untuk memverifikasi dan menyalurkan bantuan darurat medis, tanpa harus membebani keluarga korban dengan tumpukan berkas permohonan di tengah kepanikan mereka merawat anak yang sakit.
Zakat dan infak yang dititipkan oleh masyarakat Aceh harus berputar cepat demi menyelamatkan nyawa.
Anggaran jaminan kesehatan sering kali tidak mengover seluruh biaya non-medis—seperti akomodasi, transportasi ke rumah sakit rujukan di ibu kota, hingga pemenuhan gizi khusus—yang justru kerap menjadi batu sandungan utama bagi keluarga miskin.
Di sinilah peran krusial Baitul Mal untuk hadir menutup celah tersebut kerena Baitul Mal Aceh untuk segera turun tangan, menemui keluarga tersebut, dan menanggung beban finansial yang di luar kemampuan mereka.
Menyelamatkan satu nyawa anak Aceh adalah menyelamatkan masa depan daerah ini. Jangan biarkan birokrasi mengalahkan kemanusiaan.***
