Gemarnews.com, Jakarta – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, Eko Puguh Prasetijo SH., MH,CPM, menyampaikan pidato penuh makna pada Musyawarah Nasional (Munas) III PJS di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tidak akan pernah mampu menggantikan integritas, hati nurani, dan tanggung jawab moral seorang wartawan.
Di hadapan ratusan peserta Munas dari berbagai provinsi di Indonesia, Eko Puguh mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah memuliakan mereka yang hanya mengikuti arus, melainkan memberikan tempat terhormat kepada orang-orang yang tetap berdiri teguh menjaga kebenaran.
"Sejarah tidak pernah memuliakan mereka yang mengikuti arus. Sejarah selalu memberi tempat terhormat kepada mereka yang menjaga hati nurani," tegasnya.
Menurutnya, Munas III PJS bukan sekadar forum memilih kepengurusan atau menyusun program kerja, tetapi momentum menentukan arah organisasi di tengah perubahan besar dunia jurnalistik.
Ia mengajak seluruh anggota PJS memilih menjadi organisasi yang memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman.
AI Tidak Bisa Menggantikan Hati Nurani Wartawan
Dalam pidatonya, E. Puguh menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital yang kini mampu menghasilkan berita, menerjemahkan bahasa, hingga mengolah jutaan data dalam hitungan detik.
Namun, ia menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, AI tidak akan pernah memiliki hati nurani, rasa keadilan, maupun tanggung jawab moral.
"Kemajuan teknologi tidak boleh melampaui kemajuan integritas."
Menurutnya, teknologi hanyalah alat yang mempercepat apa yang ada dalam diri manusia. Jika digunakan oleh orang yang berintegritas, teknologi akan melahirkan manfaat. Sebaliknya, jika berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab, teknologi justru mempercepat lahirnya kerusakan informasi.
Pers Harus Tetap Menjadi Penjaga Demokrasi
E. Puguh juga mengingatkan bahwa kemerdekaan pers bukanlah hak istimewa yang diberikan kepada wartawan, melainkan jaminan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
Ia menegaskan bahwa ketika pers dibungkam, yang pertama dirugikan bukan wartawan, melainkan rakyat dan demokrasi itu sendiri.
Karena itu, kebebasan pers harus dijaga melalui etika, kejujuran, keterbukaan terhadap kritik, serta keberanian mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistik.
"Pers yang merdeka belum tentu dipercaya, tetapi pers yang dipercaya akan selalu menjaga kemerdekaannya."
Advokasi Dimulai Sebelum Wartawan Menghadapi Masalah
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan, E. Puguh menekankan bahwa advokasi tidak hanya hadir ketika wartawan menghadapi persoalan hukum.
Menurutnya, advokasi sejati dimulai dari proses membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, peningkatan kompetensi, pembentukan karakter, keberanian, dan integritas.
Ia menegaskan organisasi harus menjadi rumah yang selalu hadir sebelum musibah datang serta berdiri paling depan ketika anggotanya membutuhkan perlindungan.
Lima Pilar PJS ke Depan
Dalam pidatonya, E. Puguh mengajak seluruh keluarga besar PJS membangun organisasi yang semakin profesional melalui lima komitmen utama:
Menjadikan kompetensi sebagai kehormatan setiap wartawan.
Menempatkan etika sebagai mahkota profesi jurnalistik.
Memastikan perlindungan hukum bagi seluruh anggota yang menjalankan tugas secara profesional.
Membangun budaya keamanan digital untuk melindungi data dan sumber informasi.
Memperkuat solidaritas organisasi sebagai fondasi kepercayaan dan kekuatan bersama.
Menurutnya, bangsa Indonesia tidak membutuhkan wartawan yang sekadar mengejar sensasi, melainkan wartawan yang dapat dipercaya serta mampu menjaga kebenaran.
Menjaga Pena Tetap Dipimpin Hati Nurani
Menjelang akhir pidatonya, E. Puguh mengajak seluruh wartawan melakukan refleksi mengenai alasan memilih profesi jurnalistik.
Ia menegaskan bahwa wartawan memilih jalan tersebut bukan demi popularitas atau penghargaan, melainkan untuk memastikan kebenaran tetap memiliki suara di tengah derasnya arus informasi.
"Seorang wartawan dikenang sejarah bukan karena banyaknya berita yang ditulis, tetapi karena keteguhannya menjaga kebenaran ketika kebenaran sedang menghadapi ujian."
Ia juga mengingatkan bahwa wartawan sejati harus memadukan tiga nilai utama, yaitu ilmu, integritas, dan keberanian.
Mengakhiri pidatonya, E. Puguh menitipkan pesan kepada seluruh insan pers Indonesia agar terus menjaga pena tetap dipimpin oleh hati nurani, menjaga fakta tetap berada di atas segala kepentingan, serta tidak pernah tunduk kepada rasa takut.
"Selama wartawan Indonesia tetap setia kepada kebenaran, selama itu pula harapan bangsa akan tetap hidup."
Pidato tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta Munas III PJS dan dinilai menjadi salah satu pesan moral yang menguatkan komitmen organisasi dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus mempertegas bahwa profesionalisme, etika, dan integritas merupakan fondasi utama bagi masa depan pers Indonesia. Pungkasnya.