Dok.foto : Muhammad Althaaf Yusra
Masjid India merupakan salah satu masjid tertua di Kuala Lumpur.
Masjid ini didirikan pada tahun 1863 oleh komunitas pedagang Muslim India yang dikenal sebagai Chulia, yaitu masyarakat Muslim yang berasal dari wilayah Madras (kini Chennai), India Selatan. Bagi para pedagang tersebut, membangun masjid bukan hanya memenuhi kebutuhan ibadah, tetapi juga menjadi simbol identitas, persatuan, pendidikan, dan pusat aktivitas sosial masyarakat Muslim yang bermukim di daerah baru.
Pada masa itu, para pedagang Muslim India menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Tuanku Abdul Rahman (dahulu Batu Road), Jalan Tun Perak (Java Street), Jalan Bandar (High Street), dan Medan Pasar (Old Market Square).
Mereka bergotong royong mengumpulkan tenaga, dana, dan pikiran hingga berdirilah Masjid India sebagai pusat kehidupan umat Islam di Kuala Lumpur. Semangat gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa kemajuan sebuah komunitas lahir dari kepedulian bersama, bukan semata-mata karena kekayaan individu.
Sejarah mencatat bahwa bangunan awal Masjid India masih sangat sederhana. Struktur masjid dibangun menggunakan batu, kayu, dan beratapkan daun nipah. Bahkan, sebelum tersedia jaringan air bersih, para jamaah harus mengambil air wudu di tepi Sungai Klang yang berada tidak jauh dari lokasi masjid.
Kesederhanaan tersebut justru menunjukkan kuatnya semangat beribadah masyarakat Muslim kala itu, yang tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT.
Seiring bertambahnya jumlah jamaah, bangunan masjid mengalami beberapa renovasi antara tahun 1900 hingga 1952. Kemudian pada tahun 1964 dibangun gedung baru tiga lantai yang berdiri megah hingga saat ini.
Batu asas pembangunan diletakkan oleh Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah pada 11 September 1964, dan bangunan tersebut diresmikan pada 29 Juni 1966. Kehadiran bangunan baru ini menjadi simbol perkembangan komunitas Muslim India yang semakin maju serta komitmen pemerintah dalam menjaga warisan sejarah Islam di Malaysia.
Bagi saya pribadi, mengunjungi Masjid India memberikan pelajaran bahwa kemajuan Islam di Asia Tenggara tidak hanya dibangun oleh para ulama, tetapi juga oleh para saudagar. Mereka berdakwah melalui kejujuran dalam berdagang, kepedulian sosial, dan pembangunan fasilitas umum yang bermanfaat bagi masyarakat. Masjid menjadi bukti nyata bahwa ekonomi dan dakwah dapat berjalan berdampingan untuk membangun peradaban.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Masjid India tetap menjadi saksi sejarah sekaligus pusat ibadah yang ramai dikunjungi umat Islam dari berbagai negara.
Nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya masih sangat relevan hingga hari ini, yaitu semangat persaudaraan, gotong royong, toleransi, dan kecintaan terhadap ilmu agama.
Sebagai generasi muda Muslim, kita patut mengambil inspirasi dari sejarah Masjid India. Membangun peradaban tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari niat yang ikhlas, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.
Apa yang dilakukan para pedagang Chulia lebih dari 160 tahun lalu membuktikan bahwa sebuah masjid mampu menjadi pusat lahirnya pendidikan, persatuan, ekonomi, dan kemajuan umat.
Penulis :Muhammad Althaaf Yusra
Universitas : LIPIA Aceh
Jurusan : Bahasa Arab
Prodi : Idad Lughowy
Kader IPM Pidie