GEMARNEWS.COM, SUMBA TIMUR – Kekayaan budaya dan tradisi tenun masyarakat Sumba mendapat ruang baru untuk terus diwariskan kepada generasi mendatang. Sumba Weaving Museum resmi diluncurkan di Kampung Raja Pao, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/7/2026).
Lebih dari 90 masyarakat, tokoh setempat, anak-anak, serta tamu undangan hadir dalam peresmian museum yang digagas sebagai inisiatif berbasis masyarakat tersebut.
Sumba Weaving Museum tidak hanya dirancang sebagai tempat menyimpan dan memamerkan kain tradisional. Museum ini dibangun sebagai pusat budaya yang hidup sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat, khususnya para perempuan penenun lokal.
Peresmian museum merupakan bagian dari program yang digagas dan diselenggarakan eYAA Cohort 6 Youth Volunteers, bekerja sama dengan pemangku kepentingan setempat dan berbagai organisasi masyarakat.
Kehadiran museum tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan tenun tradisional Sumba, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga pengetahuan dan keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam rangkaian peresmian, pengunjung disuguhkan pameran kain tenun dengan pola rumit dan motif tradisional khas Kampung Raja Pao. Para perempuan penenun setempat juga memperagakan secara langsung proses pembuatan kain tenun.
Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah mahakarya tenun Mama Rajah. Karya tersebut menggambarkan keterampilan dan pengetahuan tradisional yang terus dipertahankan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Sumba, tenun bukan sekadar produk kerajinan. Di balik setiap motif dan helai benang terdapat identitas, cerita, nilai budaya, serta ingatan kolektif masyarakat.
Mewakili Pemerintah Daerah Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, Sekretaris Daerah Sumba Timur yang juga mewakili Wakil Bupati, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, pelestarian budaya memiliki hubungan erat dengan penguatan identitas masyarakat serta pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan Maybank Foundation, Aiidir Putera selaku Head of MaybankHeart and Youth dan Yudhi Sutrisna selaku Head of Corporate Social Responsibilities Maybank Indonesia, menyoroti pentingnya investasi sosial terhadap inisiatif yang dipimpin anak muda.
Kolaborasi tersebut dinilai mampu mempertemukan semangat generasi muda dengan kekuatan masyarakat lokal, khususnya dalam menciptakan peluang ekonomi yang tetap berpijak pada pelestarian pengetahuan tradisional.
Dukungan juga datang dari ASEAN Foundation yang terus mendorong kepemimpinan pemuda, pertukaran budaya, serta pembangunan berbasis masyarakat melalui berbagai program kerja sama kawasan.
Sementara itu, Tenunin sebagai civil society organization (CSO) mitra proyek menekankan pentingnya menjaga keterampilan kriya masyarakat adat sekaligus menciptakan peluang penghidupan yang berkelanjutan bagi komunitas penenun lokal.
Peresmian Sumba Weaving Museum turut dihadiri Marolop Simanjuntak, Kepala Dinas Pariwisata Sumba Timur; Imanuel Takanjanji, Kepala Dinas Pendidikan atau perwakilannya; Umbu Weki, Camat Umalulu; serta Richard, Kepala Desa Watuhadang, bersama masyarakat Kampung Raja Pao.
Lebih dari sekadar ruang pameran, museum tersebut diharapkan menjadi tempat masyarakat dan wisatawan mengenal lebih dekat cerita, teknik, filosofi, serta tradisi yang melekat pada setiap kain tenun Sumba.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang agar penenun lokal dapat berinteraksi secara langsung dengan pengunjung dan memperkenalkan karya mereka. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan peluang penghidupan masyarakat.
Kehadiran museum juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mempelajari kembali seni menenun yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumba selama berabad-abad.
Bagi perempuan Kampung Raja Pao, setiap kain yang dipajang bukan hanya menunjukkan keindahan sebuah karya. Setiap helai benang menjadi simbol ketangguhan, identitas dan memori budaya yang diwariskan lintas generasi.
Melalui Sumba Weaving Museum, cerita tentang Sumba diharapkan tidak berhenti pada benda-benda yang dipajang di dalam ruang museum. Cerita itu terus hidup melalui tangan para penenun, masyarakat, wisatawan dan generasi muda yang meneruskan tradisi tersebut.
Tentang Insan Bumi Mandiri
Insan Bumi Mandiri (IBM) merupakan lembaga filantropi yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun wilayah pedalaman Indonesia.
Didirikan sejak 2016, IBM telah menyelenggarakan 1.004 program dan membantu lebih dari 163.792 masyarakat pedalaman Indonesia.
Dari pengalaman pemberdayaan tersebut, Tenunin kemudian berkembang sebagai perusahaan sosial yang berfokus pada pelestarian tenun melalui ekosistem bisnis yang berkelanjutan, inovatif dan inklusif.
Ekosistem tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi lokal dan global sekaligus menjaga nilai-nilai budaya serta keberlanjutan lingkungan.
Dengan diluncurkannya Sumba Weaving Museum, Kampung Raja Pao kini memiliki ruang baru untuk menjaga warisan leluhur sekaligus membuka peluang masa depan bagi para penenun dan generasi muda.
Dari benang yang dirajut, lahir cerita tentang identitas. Dari tradisi yang dijaga, tumbuh harapan bagi masa depan Sumba, pungkasnya.