Notification

×

Akhlak di Era Media Sosial: Menjadikan Teladan Nabi Sebagai Kompas di Tengah Gempuran Hoaks

Senin, 24 Agustus 2026 | 16.41 WIB Last Updated 2026-08-24T09:41:46Z

Dok.foto : Mutiara Dwi Anjani


GEMARNEWS.COM, OPINI  - Apakah kita menyadari bahwa kebohongan di media sosial terkadang dapat menyebar jauh lebih cepat daripada kebenaran?

Setiap hari kita menghabiskan waktu dengan telepon genggam, membuka berbagai platform media sosial, membaca berita, melihat video, memberikan komentar, hingga membagikan berbagai informasi. Namun, dalam aktivitas tersebut, tidak jarang kita tanpa sadar ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar hanya karena judulnya menarik, memancing emosi, atau sesuai dengan pandangan yang kita yakini.

Di tengah kondisi tersebut, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: bisakah akhlak Rasulullah SAW menjadi kompas bagi kita dalam menjalani kehidupan di tengah derasnya arus informasi digital?

Pertanyaan ini semakin relevan karena perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia memperoleh informasi, tetapi juga mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, berpikir, bahkan menyikapi perbedaan.

Post-Truth dan Krisis Adab di Ruang Digital

Salah satu persoalan yang banyak dibahas dalam kajian komunikasi dan media saat ini adalah fenomena post-truth. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika fakta objektif sering kali kalah memengaruhi opini publik dibandingkan dengan emosi, keyakinan, atau perasaan pribadi.

Dalam situasi seperti ini, seseorang cenderung mempercayai informasi yang sesuai dengan apa yang ingin dipercayainya. Akibatnya, informasi yang benar belum tentu menjadi informasi yang paling dipercaya, sementara informasi yang salah dapat dengan mudah menjadi viral apabila mampu membangkitkan kemarahan, ketakutan, kebencian, atau sensasi.

Kita dapat melihat dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Ujaran kebencian, fitnah, penghinaan, cyberbullying, perang komentar, penyebaran potongan video tanpa konteks, hingga perpecahan akibat perbedaan pilihan politik maupun pandangan keagamaan menjadi fenomena yang semakin mudah ditemukan.

Persoalannya bukan lagi sekadar teknologi.

Kita sedang menghadapi persoalan akhlak.

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat digunakan untuk menyebarkan ilmu, mempererat silaturahmi dan membantu sesama. Namun, alat yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian dan kebohongan.

Karena itu, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan karakter manusia.

Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremonial

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, pembacaan shalawat, ceramah, atau perayaan tahunan semata.

Lebih dari itu, Maulid Nabi merupakan kesempatan untuk kembali mengenal dan menghidupkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Di era digital, keteladanan tersebut justru semakin dibutuhkan.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Kejujuran, dapat dipercaya, menyampaikan kebenaran, serta kecerdasan dan kebijaksanaan merupakan nilai-nilai yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan digital.

Siddiq mengajarkan kita untuk tidak menyebarkan kebohongan.

Amanah mengingatkan kita bahwa informasi yang kita terima bukan berarti bebas untuk langsung disebarluaskan.

Tabligh mengajarkan bahwa menyampaikan sesuatu harus dilakukan dengan cara yang benar.

Sedangkan fathanah mengajarkan kita untuk berpikir kritis, cerdas, dan bijaksana sebelum mengambil keputusan.

Dengan demikian, meneladani Rasulullah SAW di era media sosial bukan hanya tentang memperbanyak unggahan bernuansa keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan jari, pikiran, dan perkataan secara bertanggung jawab.

Tabayyun: Rem Sebelum Menekan Tombol “Share”

Islam telah mengajarkan konsep tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini.

Sebelum membagikan sebuah berita, kita seharusnya bertanya: dari mana sumbernya? Apakah medianya kredibel? Apakah ada sumber lain yang membenarkan informasi tersebut? Apakah judul sesuai dengan isi? Apakah foto atau video yang digunakan benar-benar berkaitan dengan peristiwa yang diberitakan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem agar kita tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks.

Sebab, satu kali kita menekan tombol share, informasi tersebut dapat bergerak ke puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang hanya dalam hitungan menit.

Karena itu, tabayyun di era digital bukan sekadar konsep keagamaan, tetapi juga merupakan bagian dari etika dan literasi digital.

Antara Kebebasan Digital dan Tanggung Jawab

Ada pandangan bahwa ruang digital merupakan ruang kebebasan. Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menindak penyalahgunaan teknologi melalui regulasi dan hukum, termasuk ketentuan terkait informasi dan transaksi elektronik.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah.

Hukum memang diperlukan untuk memberikan batas yang jelas dan memberikan konsekuensi terhadap tindakan yang merugikan orang lain.

Namun, mengandalkan hukum semata tidak cukup.

Hukum dapat memberikan sanksi setelah pelanggaran terjadi, tetapi akhlak dapat mencegah seseorang melakukan pelanggaran sejak awal.

Ibarat sebuah rumah, hukum adalah pagar yang menjaga batas, sementara akhlak adalah pendidikan bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Pagar yang tinggi tidak akan banyak berarti apabila penghuni rumah tidak memiliki kesadaran untuk menjaga ketertiban.

Begitu pula di dunia maya. Regulasi diperlukan, tetapi masyarakat juga harus memiliki kesadaran moral untuk tidak menghina, memfitnah, memprovokasi, atau menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Alasan untuk Saling Membenci

Media sosial juga menghadirkan tantangan lain, yaitu semakin mudahnya manusia terjebak dalam kelompok yang memiliki pandangan sama.

Kita sering kali hanya membaca informasi yang sesuai dengan keyakinan kita dan menolak informasi yang berbeda. Akibatnya, ruang digital berubah menjadi arena pertarungan identitas.

Perbedaan pilihan politik dianggap sebagai permusuhan. Perbedaan pendapat dianggap sebagai kebodohan. Kritik dianggap sebagai serangan pribadi.

Padahal, berbeda pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita menyampaikan perbedaan tersebut.

Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa komunikasi tidak harus dilakukan dengan penghinaan. Ketegasan tidak harus disertai kebencian. Kritik tidak harus berubah menjadi caci maki.

Di sinilah pentingnya empati dan adab dalam berkomunikasi.

Kita boleh tidak setuju dengan pendapat seseorang, tetapi tidak berarti kita boleh merendahkan martabatnya.

Akhlak Digital adalah Cerminan Diri

Kita sering menganggap bahwa kehidupan di media sosial berbeda dengan kehidupan nyata.

Padahal, setiap komentar, unggahan, like, dan share yang kita tinggalkan merupakan bagian dari rekam jejak digital kita.

Apa yang kita tulis hari ini mungkin dapat dibaca kembali bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, sebelum mengetik sebuah komentar, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah tulisan ini benar?

Apakah tulisan ini bermanfaat?

Apakah tulisan ini dapat menyakiti orang lain?

Dan yang paling penting:

Apakah saya berani mempertanggungjawabkan tulisan ini jika orang yang saya bicarakan berada tepat di hadapan saya?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat bahwa di balik layar ponsel terdapat manusia yang memiliki perasaan dan martabat.

Menjadikan Media Sosial sebagai Ladang Kebaikan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap cara kita berinteraksi di dunia digital.

Meneladani Rasulullah SAW pada zaman sekarang bukan hanya dengan mengingat sejarah kehidupan beliau, tetapi juga dengan menghadirkan nilai-nilai keteladanan tersebut dalam kehidupan nyata.

Mari menjadikan media sosial sebagai ruang untuk berbagi ilmu, memperkuat persaudaraan, menyebarkan informasi yang benar, memberikan kritik secara santun, serta membantu orang lain.

Mari membiasakan diri “saring sebelum sharing.”

Mari mengedepankan empati sebelum menghakimi.

Mari memastikan kebenaran sebelum menyebarkan informasi.

Dan mari menjadikan akun media sosial kita sebagai ruang untuk menghadirkan lebih banyak manfaat daripada mudarat.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah teknologi menjadi jalan menuju kebaikan atau keburukan adalah manusia yang menggunakannya.

Di tengah derasnya arus informasi, kita membutuhkan sebuah kompas agar tidak kehilangan arah.

Akhlak Nabi Muhammad SAW dapat menjadi kompas itu.

Sebab, di era ketika informasi dapat menyebar hanya dengan satu sentuhan jari, kejujuran, kebijaksanaan, kesantunan, dan tanggung jawab bukan lagi sekadar nilai moral, tetapi kebutuhan untuk menjaga kehidupan digital tetap manusiawi.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mari meneladani akhlaknya, bukan hanya mengingat kisahnya.

Penulis : Mutiara Dwi Anjani
Anggota Bidang RPK PK IMM FKM UMJ Periode 2025–2026

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update