Notification

×

Haedar Nashir Sampaikan Duka, Kenang Dedikasi Dyah Nur’aini di ‘Aisyiyah

Minggu, 23 Agustus 2026 | 17.25 WIB Last Updated 2026-08-23T10:25:25Z


 

GEMARNEWS.COM, KARTASURA –  Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Dyah Nur’aini, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah periode 2010–2015 dan 2015–2022.  Ia mengatakan, keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tentu merasakan kehilangan, tetapi kepergian almarhumah merupakan ketetapan Allah SWT yang harus diterima dengan ikhlas, sabar, dan tawakal.



“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar saat melepas kepergian jenazah pada Ahad (23/8/26) di Kartasura.



Haedar mengingatkan bahwa ketika ajal telah tiba, tidak seorang pun dapat mencegah, mendahulukan, maupun mengakhirkannya. Sakit maupun tidak, menurutnya, hanyalah wasilah dalam ketetapan Allah SWT.



Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Yunus ayat 49: “Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”



Haedar mengatakan, kepergian Dyah Nur’aini dalam usia 69 tahun pada Sabtu, 22 Agustus 2026 ini hendaknya diterima dengan keikhlasan yang tinggi, kesabaran, dan ketawakalan kepada takdir Allah SWT yang telah pasti.



“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” katanya.



Menurut Haedar, kegigihan dan pengabdian Dyah Nur’aini selama berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan keteladanan yang akan terus dikenang. Ia berharap seluruh perjuangan dan pengabdian almarhumah menjadi amal jariyah yang tidak pernah terputus.



“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” ujarnya.



Haedar juga mengenang perjalanan pengabdiannya bersama Dyah Nur’aini pada periode 1979–1982. Saat itu, Haedar Nashir aktif di IPM Wilayah DIY, sedangkan Dyah Nur’aini berkiprah di Tapak Suci.



Dari perjalanan tersebut, Haedar mengetahui langsung kegigihan dan dedikasi almarhumah dalam menjalankan amanah organisasi di Nasyiatul Aisyiyah sebagai ketua umum pada tahun 1995-2000 sebelum melanjutkan pengabdiannya ke Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sebagai sekretaris umum.



Haedar mengatakan, dirinya mengetahui secara langsung perjuangan dan kepedulian Dyah dalam mengurus ‘Aisyiyah. Bahkan, almarhumah tidak pernah lelah menjalankan amanah organisasi hingga ke Solo.



“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” tuturnya.



Bagi Haedar, ketulusan, kegigihan, dan ikhtiar menjadi kunci dalam menjalankan khidmat. Pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan, menurutnya harus diarahkan pada ikhtiar yang lebih hakiki berdasarkan ridha Allah SWT.



“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan ridha Allah,” katanya.



Dalam kesempatan tersebut, Haedar mengajak seluruh yang hadir untuk mengantarkan almarhumah dengan do'a dan keikhlasan.



“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insyaallah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan do'a. Insyaallah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” tutupnya. (Nola)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update