Notification

×

Inspiratif,Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie Lolos Nasional Workshop LKLB dari 6.000 Pendaftar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09.49 WIB Last Updated 2026-08-22T02:49:59Z
GEMARNEWS.COM, JAKARTA — Muhammad Syawal, guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, terpilih sebagai salah satu peserta Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diselenggarakan oleh Institut Leimena di Jakarta.

Muhammad Syawal menjadi salah satu dari 40 peserta yang lolos dari sekitar 6.000 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Terpilihnya Syawal dalam program tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat kapasitas sekaligus memperluas perspektif mengenai keberagaman agama dan budaya dalam dunia pendidikan.

Program Hybrid Upgrading Workshop LKLB menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengembangkan kompetensi dalam menerapkan prinsip Literasi Keagamaan Lintas Budaya di lingkungan pendidikan.

Selama mengikuti workshop, para peserta tidak hanya membahas keberagaman secara konseptual, tetapi juga mempelajari bagaimana nilai-nilai LKLB dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Salah satu kompetensi yang dipelajari adalah merancang pembelajaran dan model ajar berbasis Literasi Keagamaan Lintas Budaya. Melalui sesi kerja kelompok, peserta membahas muatan LKLB dalam perencanaan pembelajaran sekaligus mengembangkan rancangan model ajar yang dapat diterapkan sesuai konteks sekolah masing-masing.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu pendidik menciptakan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mendorong siswa memahami perbedaan, membangun dialog, serta mengembangkan sikap saling menghormati.

Bagi Muhammad Syawal, keikutsertaan dalam workshop tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perhatian akademik dan pengalaman yang selama ini ia tekuni. Dengan latar belakang ilmu sosiologi serta kajian mengenai manajemen konflik dan harmonisasi sosial di lingkungan sekolah, isu hubungan lintas agama dan budaya menjadi salah satu bidang yang ingin terus diperdalam.

Menurutnya, harmoni tidak semata-mata berarti tidak adanya konflik. Harmoni perlu dibangun melalui kemampuan memahami perbedaan, membuka ruang dialog, serta mengelola berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama.

“Workshop ini menjadi kesempatan bagi saya untuk belajar lebih jauh tentang bagaimana keberagaman, khususnya dalam konteks agama dan budaya, dapat dikelola dalam kehidupan sehari-hari dan dunia pendidikan,” ujar Muhammad Syawal.

Ia menilai pengalaman belajar bersama peserta dari berbagai wilayah Indonesia menjadi kesempatan penting untuk memperluas perspektif mengenai pengelolaan keberagaman.

Pertemuan tersebut juga menjadi ruang bertukar pengalaman dan memahami berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam menjaga hubungan sosial di tengah keberagaman.

Syawal berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti workshop di Jakarta dapat dibawa kembali dan dikembangkan sesuai dengan konteks Aceh.

“Aceh memiliki sejarah, budaya, dan karakter sosialnya sendiri. Karena itu, saya berharap pengalaman dari workshop ini dapat memperkaya pemahaman saya tentang bagaimana membangun dan mengelola harmoni dalam konteks masyarakat kita,” katanya.

Menurutnya, dunia pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk belajar hidup bersama, memahami perbedaan, membangun dialog, serta menciptakan relasi yang saling menghargai.

Terpilih sebagai salah satu dari 40 peserta dari sekitar 6.000 pendaftar, lanjut Syawal, merupakan kesempatan berharga untuk memperdalam pengetahuan sekaligus memperluas jaringan belajar.

Namun, ia menegaskan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah workshop berakhir. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan kajian dan praktik mengenai manajemen harmoni lintas agama dan budaya, khususnya dalam konteks pendidikan dan kehidupan sosial di Aceh.

Dari Jakarta, Muhammad Syawal membawa semangat untuk terus belajar dan mengembangkan pemahaman mengenai keberagaman. Ia berharap pengalaman tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan pendidikan dan masyarakat di Aceh.

“Harmoni dalam keberagaman bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang perlu dirawat melalui pengetahuan, dialog, dan kesediaan untuk saling memahami,” pungkas Syawal.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update