GEMARNEWS.COM - BIREUEN - Hampir sembilan bulan berlalu sejak banjir besar menerjang Desa Arabungong, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 26–27 November 2025. Namun hingga kini, penderitaan salah seorang korban, Akbari, belum juga berakhir.
Rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung keluarganya kini hanya menyisakan pondasi beton setelah dihantam derasnya arus banjir, sementara bantuan yang diharapkan tak kunjung diterima.
Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi, kondisi rumah Akbari benar-benar memprihatinkan. Tidak ada lagi bangunan yang berdiri. Yang tersisa hanyalah pondasi dan puing-puing sebagai saksi bisu dahsyatnya bencana yang melanda wilayah tersebut. Hingga Agustus 2026, tidak terlihat adanya tanda-tanda pembangunan kembali maupun bantuan perbaikan rumah dari pihak mana pun.
Akbari mengaku sangat kecewa karena selama ini dirinya belum pernah menerima bantuan pascabencana. Ia menduga penyebabnya karena saat proses penyaluran bantuan berlangsung dirinya sedang berada di luar daerah untuk merantau mencari nafkah.
Keputusan itu diambil lantaran rumahnya telah hancur sehingga ia tidak memiliki lagi sumber penghidupan maupun tempat tinggal yang layak.
"Katanya saya tidak berada di tempat saat bantuan dibagikan. Padahal saya terpaksa pergi merantau mencari nafkah karena rumah sudah habis diterjang banjir. Saya harus bekerja agar tetap bisa bertahan hidup," ujar Akbari kepada awak media saat ditemui di lokasi bekas rumahnya.
Dengan suara lirih, Akbari mengungkapkan kesedihan yang masih ia rasakan hingga sekarang. Ia mengaku bingung apabila suatu saat kembali menetap di kampung halamannya karena rumahnya sudah tidak ada lagi.
"Kalau saya pulang nanti, saya harus tinggal di mana? Rumah saya sudah habis, yang tersisa hanya pondasi ini. Apakah saya harus tidur di bawah pohon atau di pinggir jalan? Saya hanya berharap pemerintah masih mengingat kami yang menjadi korban banjir," tuturnya.
Sementara itu, Keuchik Desa Arabungong membenarkan bahwa data kerusakan rumah milik Akbari telah didata dan dilaporkan kepada instansi terkait sesuai prosedur yang berlaku. Menurutnya, pemerintah desa telah menjalankan kewajibannya dengan menyampaikan seluruh data korban beserta tingkat kerusakan rumah kepada pemerintah di tingkat kecamatan maupun kabupaten.
"Data kerugian dan kondisi rumah Pak Akbari sudah kami buat dan kami laporkan sejak lama. Sampai sekarang kami juga belum mengetahui secara pasti mengapa bantuan belum diterima oleh yang bersangkutan," ujar Keuchik Desa Arabungong.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme penyaluran bantuan pascabencana, terutama bagi korban yang pada saat distribusi bantuan sedang berada di luar daerah karena alasan ekonomi.
Sejumlah warga berharap adanya evaluasi terhadap proses pendataan dan penyaluran bantuan agar tidak ada lagi korban bencana yang terlewat hanya karena persoalan administratif maupun ketidakhadiran sementara di lokasi.
Akbari berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Kecamatan Peudada, serta seluruh instansi terkait dapat memberikan perhatian terhadap nasibnya. Menurutnya, bantuan bagi korban bencana merupakan bentuk kepedulian negara kepada masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, sehingga seluruh korban berhak memperoleh perlakuan yang adil tanpa membedakan kondisi mereka saat proses penyaluran berlangsung.
"Saya memohon kepada Bupati Bireuen, Camat Peudada, dan semua pihak yang berwenang agar memperhatikan nasib saya. Jangan sampai saya kehilangan hak hanya karena saat itu saya sedang mencari nafkah. Saya juga korban banjir seperti warga lainnya dan berharap masih ada keadilan bagi kami," harapnya.
Peristiwa yang dialami Akbari menjadi potret bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika banjir telah surut. Proses pemulihan bagi korban membutuhkan perhatian berkelanjutan, mulai dari pendataan yang akurat hingga penyaluran bantuan yang tepat sasaran. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat melakukan verifikasi kembali terhadap korban yang belum menerima bantuan agar tidak ada masyarakat yang merasa terabaikan.
Sebab bagi Akbari, waktu hampir sembilan bulan berlalu belum mampu menghapus luka akibat kehilangan rumah, sementara harapan memperoleh bantuan masih terus ia nantikan BERSAMBUNG.
Sumber: Akbari patrolisergapnews.com
Editor: TRI WULAN LARASATI, S.E., S.H., M.H.