Notification

×

Akademisi Apresiasi Lomba Bertutur Seuramoe Heritage, Dinilai Jadi Oase Pelestarian Budaya Aceh

Rabu, 30 September 2026 | 17.38 WIB Last Updated 2026-09-30T10:38:29Z
Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireuen, Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum,

GEMARNEWS.COM — Lomba Bertutur yang diinisiasi Komunitas Seuramoe Heritage mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Kegiatan tersebut dinilai mampu menghadirkan ruang kultural bagi generasi muda Aceh untuk mengenal, memahami, sekaligus menjaga tradisi lisan dan ingatan sejarah para indatu.

Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kabupaten Bireuen, Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum, mengatakan, menyaksikan pelaksanaan Lomba Bertutur Sejarah Seuramoe Heritage memberikan optimisme baru terhadap masa depan kebudayaan Aceh.

Menurutnya, di tengah derasnya arus digitalisasi, keberadaan ruang-ruang kebudayaan menjadi penting sebagai sarana menjaga ingatan kolektif generasi muda agar tetap memiliki keterikatan dengan akar tradisinya.

“Di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang-ruang kultural seperti ini menjadi oase penyejuk yang menjaga ingatan kolektif generasi muda Aceh agar tidak tercerabut dari akar tradisinya,” ujar Teuku Avicenna.

Ia menjelaskan, bertutur tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan melafalkan cerita lama ataupun merangkai kata secara estetis. Tradisi bertutur, menurutnya, memiliki fungsi yang lebih luas dalam mentransmisikan nilai dan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Bertutur bukan sekadar perkara melafalkan cerita lama atau merangkai kata secara estetis. Lebih dari itu, ia adalah sebuah jembatan epistemik yang mentransfer nilai-nilai moralitas, kearifan lokal (local wisdom), dan memori historis indatu ke dalam jiwa generasi masa kini,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan terhadap kehadiran dewan juri dalam kegiatan tersebut, di antaranya Cek Muda Balia dan Faradina. Kehadiran para juri dinilai tidak hanya berfungsi memberikan penilaian terhadap aspek teknis penampilan peserta, tetapi juga memperkuat pentingnya standar estetika dan kedalaman rasa dalam tradisi bertutur.

“Keberadaan dewan juri seperti Cek Muda Balia dan Faradina pun tidak sekadar memberikan penilaian teknis, melainkan menjadi penanda pentingnya standardisasi estetika dan kedalaman rasa dalam menjaga keaslian tutur tradisi,” ungkapnya.

Teuku Avicenna menilai, kegiatan yang digelar Seuramoe Heritage tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan pendekatan yang kaku. Tradisi dapat dikemas secara adaptif dan dinamis sehingga lebih mudah diterima oleh generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda juga diajak untuk melihat kebudayaan bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang dapat terus dihidupkan dalam ruang publik.

“Merawat kebudayaan Aceh tidak harus selalu kaku, melainkan bisa tampil adaptif, dinamis, dan merangkul jiwa muda tanpa kehilangan marwah aslinya,” tutur Teuku Avicenna.

Ia berharap Lomba Bertutur Sejarah dapat menjadi stimulus bagi lebih banyak pemuda Aceh untuk ikut menghidupkan kembali tradisi lisan melalui berbagai ruang publik, pendidikan, komunitas, maupun kegiatan kebudayaan lainnya.

“Semoga ini menjadi stimulus pemantik bagi pemuda Aceh lainnya untuk terus menghidupkan tradisi lisan di ruang publik,” pungkasnya.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update