Aceh Timur— Menanggapi keluhan warga penerima bantuan pangan terkait kualitas beras Bulog di salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Timur, pihak Bulog langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan.
Beras bantuan sebanyak 10 kilogram per karung, dengan jumlah tiga karung per keluarga penerima manfaat (KPM), yang dikeluhkan diduga bercampur batu, serpihan plastik, debu, dan kutu beras, langsung ditarik dan digantikan dengan beras yang baru.
“Kami sudah menerima laporan dari masyarakat. Tim langsung turun ke lapangan hari ini untuk melakukan pengecekan dan penarikan beras yang tidak layak konsumsi. Yang rusak sudah kita gantikan dengan yang baru,” ujar pihak Bulog Langsa ke Aceh Timur kepada media ini, Jumat (11/9/2026).
Sebelumnya, warga mengeluhkan kondisi beras bantuan yang dibagikan melalui undangan desa. Berdasarkan foto dan video yang diterima media, terlihat adanya beras yang bercampur dengan batu-batu kecil, serpihan plastik, debu, serta kutu beras.
Pemerhati sosial Dedi Saputra, SH meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh turut melakukan pengawasan terhadap kualitas dan proses distribusi bantuan pangan.
“Kasihan jika beras yang dibagikan kepada masyarakat kurang mampu tidak layak konsumsi. Beberapa hari lalu ribuan warga Aceh Timur menerima bantuan. Ironisnya, masih ditemukan beras yang dikeluhkan tidak layak. Ke depan, kualitas harus lebih diperhatikan,” ujar Dedi.
Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada pihak Bulog Aceh Timur yang dinilai cepat merespons keluhan masyarakat dan segera melakukan penggantian beras.
Yosnik Ade Putra Ka Cabang Bulog Langsa Sementara itu pihak Bulog Langsa mengimbau masyarakat, khususnya penerima bantuan pangan di Kabupaten Aceh Timur, agar segera melaporkan apabila menemukan beras bantuan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
“Kepada masyarakat, khususnya di Aceh Timur, jika ada yang mendapatkan beras Bulog yang tidak bisa dikonsumsi, segera laporkan kepada pihak kecamatan agar cepat kita gantikan dengan yang baru,” tegasnya.
Bulog juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap proses distribusi guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. Hal tersebut diharapkan dapat memastikan bantuan pangan yang diterima masyarakat berada dalam kondisi baik dan layak konsumsi.
