Notification

×

Kapolda Aceh Ikuti Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Baha secara Hybrid.

Sabtu, 26 September 2026 | 19.28 WIB Last Updated 2026-09-26T12:29:05Z
Banda Aceh — Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan mengikuti kegiatan pembinaan rohani (Binroh) berupa Ngaji Kebangsaan bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) secara hybrid dari Gedung Presisi Polda Aceh, Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan tersebut turut diikuti Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, para pejabat utama, serta personel Polda Aceh. Selain itu, seluruh Kapolres dan Kapolresta jajaran juga mengikuti kegiatan tersebut secara daring dari wilayah masing-masing.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto menyampaikan bahwa Ngaji Kebangsaan bersama Gus Baha menjadi pengingat bahwa Polri tidak dapat bekerja sendiri dalam menjalankan tugasnya, sehingga butuh dukungan, doa, dan nasihat dari para ulama.

"Hubungan yang harmonis antara Polri, ulama, dan pondok pesantren memiliki peran strategis dalam merawat nilai-nilai kebangsaan serta mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman dan kondusif," kata Joko, yang turut mengikuti pengajian tersebut.

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Baha, merupakan ulama ahli tafsir Al-Qur'an dan pakar fikih terkemuka. Kiai kelahiran Rembang pada 1970 ini dikenal luas di Indonesia melalui gaya dakwahnya yang lugas, mendalam, dan mudah dipahami, dengan pendekatan keilmuan yang disampaikan secara santai serta diselingi humor. Kesederhanaannya juga menjadi ciri khas dalam setiap penampilannya.

Saat ini, Gus Baha mengemban amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Rembang, meneruskan kepemimpinan sang ayah. Ia juga menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII).

Dalam pengajian tersebut, Gus Baha menegaskan bahwa keberadaan polisi memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan mencegah terjadinya tindak kejahatan di tengah masyarakat. Namun, menurutnya, perilaku baik semestinya tidak hanya didasarkan pada rasa takut terhadap hukum dan sanksi sosial, tetapi juga tumbuh dari kesadaran berketuhanan.

Menurut Gus Baha, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan moral yang mendorong setiap orang untuk senantiasa berbuat baik, termasuk ketika tidak ada polisi yang mengawasi maupun masyarakat yang mengetahui perbuatannya.

Dalam konteks kepolisian, nilai tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menjaga keamanan dan ketertiban tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga perlu disertai penguatan kesadaran moral di tengah masyarakat.

“Kalau seseorang berbuat baik hanya karena takut ditangkap polisi atau takut mendapat sanksi sosial, lalu bagaimana ketika dia berada di tempat yang tidak ada polisi dan tidak ada orang lain yang melihat? Di situlah pentingnya nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Orang yang berketuhanan akan tetap menjaga dirinya karena menyadari bahwa Allah selalu melihat. Karena itu, tugas kepolisian dalam menjaga keamanan perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai agama dan moral, agar kebaikan tidak semata-mata lahir karena takut terhadap hukuman, tetapi tumbuh dari kesadaran dalam diri setiap manusia,” ujar Gus Baha.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update