Notification

×

Meniti Jalan Pengabdian, Fuad Raih Doktor: Dari Al-Hilal Sigli hingga Dai Nasional PARMUSI

Selasa, 22 September 2026 | 22.15 WIB Last Updated 2026-09-22T15:15:23Z

GEMARNEWS.COM,PIDIE – Perjalanan Dr. Fuad, MA dalam meraih gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik. Di balik gelar tersebut terdapat perjalanan panjang dalam dunia pendidikan, organisasi, dakwah, serta pengabdian kepada masyarakat.

Dari kiprahnya di lingkungan Al-Hilal Sigli, pengabdiannya bersama Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) Kabupaten Pidie, hingga dipercaya sebagai Dai Nasional PARMUSI, perjalanan Fuad akhirnya bermuara pada pencapaian akademik tertinggi dengan menyelesaikan pendidikan doktoral di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Fuad resmi menyandang gelar Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Analisis Problematika dan Strategi Peningkatan Profesionalisme Guru MA Pidie di Era Kurikulum Merdeka.”

Sidang Promosi Doktor berlangsung Selasa, 15 September 2026, di Ruang Aula Lantai 3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Dalam sidang tersebut, Fuad dinyatakan lulus dan tercatat sebagai doktor ke-410 Pascasarjana UIN Ar-Raniry.

Dari Pendidikan hingga Pengabdian

Perjalanan akademik Fuad ditempuh secara bertahap dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan ke jenjang magister hingga akhirnya menempuh pendidikan doktoral di UIN Ar-Raniry.

Di tengah kesibukan menyelesaikan pendidikan, Fuad tetap aktif dalam dunia pendidikan dan kelembagaan, khususnya di lingkungan Kampus Al-Hilal Sigli.

Di lembaga pendidikan tersebut, ia menjalankan berbagai amanah akademik dan kelembagaan. Pengalaman itu mempertemukannya secara langsung dengan berbagai persoalan pendidikan, mulai dari pengembangan mutu akademik, pembinaan mahasiswa, hingga peningkatan kapasitas tenaga pendidik.

Saat ini, Fuad dipercaya sebagai Ketua I Bidang Akademik STIT Al-Hilal Sigli.

Pengalaman panjang di dunia pendidikan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting ketika Fuad melakukan penelitian doktoralnya.

PARMUSI Jadi Ruang Dakwah dan Pengabdian

Selain aktif di dunia pendidikan, Fuad juga dikenal memiliki perjalanan panjang dalam organisasi dan dakwah.

Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum PARMUSI Kabupaten Pidie. Melalui organisasi tersebut, Fuad terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan, dakwah, sosial dan pembinaan masyarakat.

Kiprahnya tidak berhenti pada tingkat daerah. Fuad juga dipercaya menjadi Dai Nasional PARMUSI dan mengikuti kegiatan dakwah nasional di kawasan Pangrango, Bogor, Jawa Barat.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas ruang pengabdiannya. Sebagai dai, Fuad berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat sekaligus membawa nilai-nilai pendidikan dan keislaman dalam aktivitas dakwah.

Perpaduan antara dunia pendidikan dan dakwah kemudian menjadi ciri perjalanan pengabdiannya.

Disertasi Berangkat dari Persoalan Pendidikan Pidie

Menariknya, ketika memasuki jenjang doktoral, Fuad memilih mengangkat persoalan pendidikan yang dekat dengan lingkungan pengabdiannya.

Melalui disertasinya, ia mengkaji berbagai problematika serta strategi peningkatan profesionalisme guru Madrasah Aliyah (MA) di Kabupaten Pidie pada era Kurikulum Merdeka.

Penelitian tersebut membahas sejumlah tantangan yang dihadapi guru, termasuk perubahan paradigma pembelajaran, tuntutan kompetensi digital, kemampuan beradaptasi, pengembangan profesionalisme, serta dukungan kelembagaan.

Penelitian itu juga memberikan perhatian terhadap karakteristik guru senior dan guru junior.

Guru senior memiliki kekuatan pada pengalaman pedagogis, pengelolaan kelas dan pemahaman terhadap konteks madrasah. Sementara guru junior memiliki keunggulan pada kemampuan adaptasi digital, pemanfaatan teknologi serta inovasi pembelajaran.

Gagas Model Kolaborasi Antargenerasi

Salah satu gagasan yang ditawarkan dalam penelitian Fuad adalah Model Kolaborasi Antargenerasi melalui pembelajaran timbal balik (reciprocal learning).

Melalui model tersebut, guru senior dan guru junior tidak diposisikan sebagai dua kelompok yang berseberangan, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat saling melengkapi.

Guru senior dapat berbagi pengalaman pedagogis, pedagogical judgment, manajemen kelas dan pemahaman kontekstual madrasah.

Sebaliknya, guru junior dapat memberikan penguatan dalam literasi teknologi, inovasi media pembelajaran serta pemanfaatan perangkat digital melalui pendekatan reverse mentoring.

Model tersebut diarahkan untuk memperkuat integrasi Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman dan identitas madrasah.

Dengan demikian, penelitian yang dilakukan Fuad tidak hanya melihat persoalan profesionalisme guru dari satu sisi, tetapi juga menawarkan pendekatan kolaboratif yang mempertemukan pengalaman guru senior dengan kemampuan adaptasi digital generasi guru yang lebih muda.

Apresiasi Sekretaris PARMUSI Pidie

Capaian Fuad mendapat apresiasi dari keluarga besar PARMUSI Kabupaten Pidie.

Sekretaris PARMUSI Pidie, Iskandar Ar. Rahman, menyampaikan apresiasi atas tekad dan semangat Fuad dalam menyelesaikan pendidikan doktoral.

Menurut Iskandar, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa aktivitas organisasi dan dakwah tidak menghalangi seorang kader untuk terus mengembangkan kapasitas akademiknya.

“Tekad dan semangat Ketua PARMUSI Pidie, Dr. Tgk. Fuad, MA dalam menyelesaikan pendidikan doktor ini sangat luar biasa. Di usia yang masih muda, beliau mampu meraih gelar doktor,” kata Iskandar.

Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh Fuad selama menempuh pendidikan doktoral dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Kita berharap ilmu yang didapatkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat serta semakin memajukan PARMUSI, khususnya dalam kegiatan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Ilmu dan Pengabdian

Perjalanan Fuad memperlihatkan rangkaian pengalaman yang saling melengkapi. Dunia pendidikan memberinya ruang untuk mengembangkan keilmuan, Al-Hilal menjadi bagian dari pengabdian akademiknya, PARMUSI menjadi ruang dakwah dan organisasi, sementara pendidikan doktoral menjadi ruang untuk memperdalam serta mengembangkan gagasan akademik.

Kini, setelah meraih gelar doktor, perjalanan tersebut memasuki babak baru.

Gelar akademik itu bukan hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga diharapkan menjadi modal untuk memperluas pengabdian melalui pendidikan, dakwah dan pembinaan masyarakat.

Dari Al-Hilal Sigli untuk pendidikan, dari PARMUSI untuk dakwah dan pengabdian, hingga Pascasarjana UIN Ar-Raniry untuk pengembangan keilmuan.

Semuanya bertemu dalam satu semangat: ilmu yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi terus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.tuturnya.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update