Notification

×

Iklan

Iklan

Memurnikan Kembali Nama Apam

Minggu, 21 Februari 2021 | 15.24 WIB Last Updated 2021-05-19T09:15:02Z

Memurnikan Kembali Nama Apam

Dok.foto Penulis 
Muhammad Syawal Djamil


KHANDURI APAM merupakan salah satu jenis khanduri (baca: Kenduri) yang menjadi kekhasan masyarakat Aceh.  Khanduri Apam hanya dilaksanakan saat tiba dan sepanjang bulan Rajab setiap tahunnya --yang dalam Almanak Aceh disebut dengan bulan Apam.

Seperti lazim pada jenis Khanduri lainnya, Khanduri Apam dilakukan oleh orang Aceh sebagai bentuk raya syukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat yang sudah dilimpahkan-Nya. Disamping itu, melalui Khanduri Apam masyarakat Aceh menjadikannya sebagai momen untuk silaturahim antarsesama, sembari menceritakan peristiwa penting yang terjadi di masa silam yang, tentunya berkaitan dengan sejarah Islam. Ya, dalam bulan Rajab (Aceh: bulan Apam) banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi. Dan sebagian masyarakat Aceh, biasanya dilakukan oleh yang tua-tua, mengulasnya sambil bercerita, bercengkrama dan menikmati Apam. Tak ayal beragam masalah dalam aktivitas kehidupanpun seketika menjadi lupa, karena sanking nikmat dan bahagianya dalam menyantap Apam.

Penamaan Apam memiliki sejarahnya tersendiri dalam masyarakat Aceh. Mengikuti beberapa penuturan tokoh atau tetua di gampong-gampong, dikatakan, Apam muasalnya ialah dari bahasa Arab, tepatnya berasal dari kata Afwan yang berarti saling memaafkan. 

Jadi, dulu, masyarakat Aceh khususnya Pidie memiliki tradisi khusus di bulan Rajab yang berkaitan erat dengan semangatnya dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. 

Dalam perpektif orang Aceh, demikian dituturkan, bulan Rajab adalah bulan peugleh tuboh (menyucikan jiwa), bulan Sya'ban adalah bulan peugleh hate (membersihkan hati) dan bulan Ramadhan adalah bulan bulan berbadah dengan sunggoh-sunggoh (beribadah dengan semaksimalnya). Tiga bulan ini sangat dimuliakan oleh masyarakat Aceh.

Karena demikian, dalam hal menyucikan jiwa, masyarakat Aceh tempo doeloe bersilaturrahmi ke tetangga-tetangganya, untuk meminta maaf atas kesalahan atau kekhilafan baik dari segi ucapan, tindakan ataupun sikap yang tanpa sengaja lahir dari hasil proses interaksi dengan tetangganya. Mereka perginya bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa makanan yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan. 

Dari kebiasaan ini pula --membawa makanan dalam bersilaturrahmi, muncul dan berkembanglah sebutan untuk makanan yang sering dibawa saat silaturrahim itu dengan sebutan awalnya kue ‘Afwan’. 

Seiring perjalanan waktu, lama-kelamaan, nama Afwan ini mengalami pergeseran (mungkin karena pengucapannya yang berbeda-beda), sehingga namanya “terplesetkan” dari semulanya bernama afwan menjadi Apam.

Sedangkan mengenai dasar pelaksanan khanduri Apam (makan Apam secara bersama-sama) ada yang mengatakannya itu bermula dari hukuman yang ditujukan kepada seorang pemuda yang tidak shalat jumat tiga kali berturut-turut. Sehingga diperintahkan membuat apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan akan dimakan bersama sebagai sedekah.

Ada juga yang mengatakan dasarnya itu bermula dari kematian seorang sufi di Mekkah –Arab Saudi– yang kehidupannya sangat miskin. Sehingga orang di kampungnya bekerja sama membuat makanan Apam untuk disedekahkan sebagai ganti dari acara kenduri kematiannya.

Di luar pendapat itu, ada juga yang berpendapat, pelakasanaan Khanduri Apam itu bermula dari penghormatan untuk seorang tokoh yang bernama Abdullah Rajab, yang konon menurut cerita demi cerita, wafatnya tanpa ada yang melaksanan penghormatan dalam bentuk khanduri. Maka dari itu, muncullah insiatif dari masing-masing masyarakat untuk siapa saja yang berkemudahan agar membuat Khanduri Apam, juga dengan tujuan mengenang kepergian tokoh tersebut.

Namun sayangnya, belakangan ini, Apam sudah diplesetkan secara lebih "kejam", yang dikonotasikan pula dengan sesuatu yang tidak baik. Tidak tahu siapa yang pertama memulainya pertama, hingga kini Apam sudah dimaknakan dengan "itu". "Itu" yang hanya ada dan dimiliki oleh kaum Hawa. Tidak ada pada kaum Adam. (Saya yakin Anda paham dengan "itu" yang saya maksud)

Mirisnya lagi, pada anak-anak dan remaja sekarang, ada semacam pemahaman bahwa menyebut nama Apam itu terasa menjijikkan. Ini karena dalam benaknya mereka (mungkin) sudah terketam Apam ialah, tidak ada lain dan tak bukan, selain "itu". (Mudah-mudahan Anda sudah paham apa "itu yang saya maksud)

Makanya, adalah sebuah terobosan yang positif meski kontroversial (mengingat situasi dan keadaan yang masih melawan pandemikm Covid-19) yang muncul dari Pemerintah Pidie, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Budaya (Disdikbud) Pidie yang sudah menginstruksikan semua sekolah di Pidie, mulai TK, SD, hingga SMP, untuk melaksanakan Khanduri Apam menyambut Bulan Rajab 1442 Hijriah.

Instruksi kenduri apam tersebut dituangkan dalam surat edaran bernomor 421/674/2021, yang ditandatangani sendiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya (Kadisdikbud) Pidie, yaitu bapak Drs Ridwandi. (Baca: http://disdik.pidiekab.go.id/2021/02/18/kadis-disdikbud-pidie-perintahkan-sekolah-di-pidie-kenduri-apam/)

Tentunya, kita berharap, Khanduri Apam yang merupakan budaya leluhur kita orang Aceh tidak menjadi ajang "meuayang-ayang" dengan istilah Apam --yang kini sudah mulai bergeser pemaknaannya.

 Adalah tugas kita bersama, untuk kembali memurnikan nama Apam sebagaimana mestinya, yakni makanan khas Aceh yang terbuat dari tepung beras, dicampur dengan santan. Bukan Apam yang maksud "itu". Nyanban
×
Berita Terbaru Update