Notification

×

Iklan

Iklan

FORPAK Adakan Diskusi Tentang Aceh, Aksi Demo 26 Maret Juga Ikut Dibahas

Jumat, 26 Maret 2021 | 08.26 WIB Last Updated 2021-03-26T01:26:38Z
Dok.foto : FORPAK  mengadakan diskusi publik dengan tema "Menyongsong Harapan Baru untuk Aceh" 



GEMARNEWS.COM , BANDA ACEH - Forum Pemuda Aceh Kreatif (FORPAK) mengadakan diskusi publik dengan tema "Menyongsong Harapan Baru untuk Aceh" yang diselenggarakan bersamaan dengan program Pengabdian Kepada Masyarakat Dari Rumah Inovatif (KPM DRI) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry melalui live streaming akun Instagram @kampusacehofficial, Kamis (25/03/2021).

Diskusi virtual ini, FORPAK menghadirkan Tokoh Aceh sekaligus Ketua Yayasan Beudoh Gampong (YBG), Prof. Dr. Eng. Ir. Teuku Abdullah Sanny, M.Sc. dan juga ada Mantan Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, M.A.

"Aceh dari dulu sudah memberikan kontribusi untuk dunia, mulai dari hasil alam yang berlimpah sampai dengan sejarah yang luar biasa. Terbukti, hasil alam Aceh sangat luar biasa dan juga sejarah Aceh saat perang melawan Belanda adalah perang terbesar yang diakui dunia," ungkap Prof. Teuku Abdullah Sanny.

Selain itu, beliau juga menambahkan, bahwa pemuda Aceh hari ini adalah ujung tombak pembangunan. Pemuda harus bisa mengimplementasikan keadilan dan kemakmuran. Harus berani berkata benar dan jangan menyebar hoax.

Prof. Farid Wajdi Ibrahim juga menyampaikan pandangannya, bahwa seluruh elemen di Aceh harus mengelola Aceh dengan baik.

"Masa lalu adalah masa depan, oleh sebab itu dari masa lalu kita belajar. Aceh harus dikelola dengan baik, Aceh harus bangkit, rakyat harus bisa mengelola sumber daya yang ada di Aceh. Kita harus kompak, terutama generasi muda Aceh hari ini," beliau menyampaikan.

Kemudian, terlihat hadir juga dari kalangan akademisi dan pengamat Aceh, Dr. Amri, M.Si., Zulfata, M.Ag., dan Muhammad Rizki, M.Pd.

"Saya rasa di Aceh harus ada pemetaan ekonomi, data statistik BPS harus dijadikan acuan karena itu valid. Sehingga dengan adanya acuan itu kita bisa melakukan pembenahan agar Aceh biaa bangkit dari segi ekonomi," tandas Dr. Amri.

Zulfata, selaku Direktur Sekolah Kita Menulis (SKM) yang aktif mengkritik pemerintah melalui karya tulis itu juga ikut memberikan solusi bagi anak muda.

"Kita dari SKM terus berupaya untuk menggerakkan anak muda agar terus berkarya melalui tulisan, karena menulis merupakan gambaran bagaimana pemuda Aceh bisa berpikir kritis hari ini. Selain itu, saya ingin sampaikan dari segi investor, bahwa itu harus dikelola dengan baik, transparan dan konsolidasi dengan semua pihak agar solid membangun Aceh," ujarnya.
.
Muhammad Rizki, selaku mantan Ketua Senat Pascasarjana UIN Ar-Raniry juga menyampaikan, bahwa pendidikan Aceh hari ini perlu adanya perencanaan dan juga Aceh harus ada sebuah pegangan.
.
"Saya rasa selaku yang berkecimpung dalam ranah pendidikan, ingin sampaikan bahwa Aceh haruslah ada konsep pendidikan yang baik. Sehingga pendidikan Aceh bisa lebih baik dan merata. Kemudian, Aceh harus ada pegangan hari ini. Kepada siapa kita ingin mencontoh? Aceh hari ini perlu contoh yang baik, terutama para tokoh-tokoh hari ini harus bisa menjadi solusi agar Aceh lebih baik," sarannya.
.
FORPAK juga turut mengundang aktivis yang kerap melakukan pergerakan demonstrasi di Aceh, yaitu Heri Safrijal, M.T.P., Mudasir, S.E., dan Agus Ismansyah, S.Psi.
.
Dalam closing statementnya, Heri Safrijal dari Aliansi Pemuda Aceh Menggugat (APAM) menyampaikan bahwa pemuda hari ini jangan diam, harus lebih memperhatikan kondisi kesejahteraan masyarakat.
.
Setelah Heri Safrijal, juga ada Mudasir, selaku Koordinator Koalisi Barisan Muda Aceh Nusantara (KBMA) juga menyatakan akan terus mengawal permasalah beasiswa Aceh agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Diskusi ini pun ditutup dengan pernyataan mengejutkan dari Agus Ismansyah, selaku Ketua Forum Keadilan Rakyat Aceh (FKRA).

"Baru-baru ini Aceh dihebohkan oleh aksi 26 Maret 2021 terkait demonstrasi Wali Nanggroe agar turun dari jabatan. Kenapa gejolak-gejolak di Aceh hari ini marak terjadi? Karena tidak adanya lagi persamaan persepsi, tidak satu jalur. Ini lah kenapa Aceh jalan di tempat, karena kita tidak lagi satu pemikiran dalam mewujudkan Aceh yang sejahtera," tutup Agus Ismansyah.

Sulthan Alfaraby, selaku inisiator sekaligus host kegiatan, dalam sela-sela penutupan juga mengklaim akan terus membuat diskusi virtual serupa. Hal ini dilakukan untuk mendukung kemajuan Aceh sekaligus mematuhi Protokol Kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia.
×
Berita Terbaru Update