Notification

×

Iklan

Iklan

Jubir Eddie Foundation Minta Walikota Banda Aceh hentikan Proyek IPAL di Gampong Pande

Kamis, 18 Maret 2021 | 09.16 WIB Last Updated 2021-03-18T02:16:53Z
Dok.foto : Akmal Rusli , Jubir Eddie Foundation


Gemarnews.com , Banda Aceh - Juru Bicara Lembaga kemanusiaan Eddie Foundation Akmal Rusli Mengecam keras Walikota Banda Aceh atas tindakannya yang tidak peduli terhadap saran dan masukan dari berbagai kalangan terkait pembangunan Proyek IPAL di gampong Pande. 

Walikota Banda Aceh tetap bersikukuh ingin melanjutkan Proyek pembuangan tinja di Makam Indatu Bangsa Aceh.Akmal Rusli Meminta Walikota Banda Aceh untuk tidak melanjutkan Proyek Pembuangan tinja di komplek Makam para ulama dan kesultanan Aceh Darussalam.

Walikota harusnya mengedepankan Akal Sehat untuk menyelamatkan Makam-Makam Indatu Yang sudah berjasa dan Berjuang untuk Bangsa Aceh. Ini yang terjadi Malah sebaliknya seperti Manusia Rakus, Tetap ingin Melanjutkan proyek IPAL di Makam para indatu demi kepentingannya. Ujar Akmal Rusli. 

Padahal belakangan ini banyak protes dari berbagai kalangan baik dari Sejarawan ataupun Aktivis kemanusiaan dalam maupun Luar Negeri, untuk menghentikan proyek tinja di situs bersejarah Gampong Pande. Namun Walikota Banda Aceh tidak peduli atas masukan baik itu, Sungguh miris. Pungkas Akmal.

Terkait kasus pembuangan tinja di Makam Indatu ,Mehmet Özay seorang Ilmuwan Turki  menyampaikan beberapa pendapatnya tentang pentingnya menjaga kawasan warisan Cagar budaya di kota banda aceh.

Ia menyampaikan sangatlah penting untuk melindungi kota dan wilayah,dimana Banda Aceh hari ini yang menerapkan kebijakan Wisata Islami juga harusnya mampu menjaga warisan Peradaban sejarah Islam di kota Banda aceh melalui kebijakan islamisasi kota dengan melibatkan lembaga-lembaga yang mapan, sebagaimana dahulu kala sejak abad ke 11 Aceh telah dikenal sebagai subjek dalam perdagangan dan hubungan regional maupun internasional.

Buku Kesultanan Aceh Darussalam (Açe Sultanlığı ) yang di tulis oleh Mehmet Özay yang dipublikasikan Oleh Universitas Muhammad Al-fatih, Istanbul, 2018.

Menurut Özay , Berdirinya pemukiman di kawasan di kawasan barat laut di pintu keluar Selat Malaka juga menjadi bukti keterkaitannya dengan dunia luar, terutama melalui dunia Melayu dan Teluk Benggala serta Samudera Hindia.

Mengikuti perkembangan situs yang berpusat di Banda Aceh pada tahap-tahap awal sejarah dan periode selanjutnya, Pande menjadi lokasi yang berafiliasi dengan kawasan istana di Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan pada tahun 1510-an. Dalam hal ini, fakta bahwa Kampung Pande telah menjadi wilayah yang menjadi pusat keluarga dinasti dan kuburan para guru terkemuka yang bisa kita lihat sampai hari ini.

Gampong Pande dinamakan karena pada masanya merupakan tempat penempaan alat-alat pandai besi dan alat-alat perang lainnya, merujuk pada kata “pande” berarti adalah kawasan yang sarat akan “kepandaian” atau “keahlian” atau “muhendis” dalam bahasa Turkinya. Pande juga berarti “perak” sejenis logam yang sering digunakan oleh para ahli untuk membuat peralatan perang dan permesinan dan karena itulah kawasan ini, menurut Ozay menonjol dengan keahliannya dalam sejarah Aceh.
×
Berita Terbaru Update