Notification

×

Iklan

Iklan

Kutuk Agresi Militer Israel, PCPMII Pidie Jaya-Pidie: Ini Tragedi Kemanusiaan yang Tak Ditolerir

Sabtu, 22 Mei 2021 | 00.06 WIB Last Updated 2021-05-21T17:34:25Z


Dok.foto : Syahrul Maulana Mansur , Ketua PCPMII  Cabang Pidie Jaya - Pidie



GEMARNEWS.COM, PIJAY - "Selama kemerdekaan Bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel" (Pidato Soekarno, 1962)

Begitulah bunyi pernyataan Presiden Pertama RI Soekarno (Bung Karno) tentang dukungannya akan kemerdekaan bangsa Palestina yang belakangan kembali mengemuka.

Kembali mencuatnya statement Bung Karno itu tak lepas dari kembali memanasnya intensi antara Israel-Palestina hingga merenggut ratusan jiwa warga Pelestina yang terjadi kisruh di media sosial.

Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pidie Jaya-Pidie (PCPMII) Syahrul Maulana Mansur angkat bicara untuk memberikan dukungan Moral sekaligus meminta Israel menghentikan penyerangan atau agresi militer terhadap rakyat Palestina. Menurutnya, gencatan senjata atau menghentikan agresi militer itu bertujuan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan global. Ditegaskan Syahrul, agresi Israel terhadap Palestina untuk kesekian kalinya telah menimbulkan nestapa bagi kemanusiaan.

Peristiwa kemanusiaan terjadi antara Militer Israel dan Pejuang Palestina semakin memanas. Saat ini telah memakan korban jiwa sebanyak 188 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Lebih dari itu, terdapat 1000 lebih korban luka-luka dan bangunan yang porak poranda.

 “Kami menegaskan, mengutuk dan mengecam keras agresi Militer Israel yang telah memporak-porandakan Palestina, merenggut nyawa-nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Hentikan segera agresi Militer yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Ini merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa dibiarkan dan ditolerir,” tegas Syahrul kepada Media.

Konflik yang terjadi di sana sudah berusia seabad, terhitung sejak Deklarasi Balfour pada 1917 yang bersumber dari klaim bermasalah Israel atas tanah yang dijanjikan. Lalu Inggris mendukung national home bagi warga Yahudi di tanah yang telah ditempati bangsa Palestina.

 “Konflik berdarah terus berlangsung sejak Israel, secara sepihak, memproklamasikan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 tanpa batas wilayah yang jelas. Dengan dukungan negara-negara Barat, Israel menegaskan batas wilayahnya melalui perang melawan negara-negara Arab, berturut-turut pada 1949, 1967, dan 1973,” jelas Syahrul (dalam Referensinya). 

Dengan bermodal kekuatan senjata, Israel menduduki Yerusalem Timur, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, Gaza, dan Semenanjung Sinai. Klaim teritorial ini tidak diakui mayoritas negara, kecuali Amerika yang mengakui klaim Israel atas seluruh wilayah kota tersebut. 

“Israel, selama 50 tahun terakhir, terus mengukuhkan pendudukannya dengan membangun permukiman bagi ratusan ribu warga Yahudi. Yahudi, yang sebelumnya minoritas, kini menjadi mayoritas populasi yang menggusur bangsa Palestina,”

Syahrul menyayangkan para pejuang Palestina yang terbelah dalam menghadapi Palestina. Terdapat dua faksi pejuang yang saling berseberangan pendapat, yakni Fatah dan Hamas. Fatah setuju solusi dua negara sebagaimana telah disepakati dalam Perjanjian Oslo 1993.  

“Tetapi Hamas menolak. Hamas ingin mendirikan Palestina berdasarkan Islam, Fatah berhaluan nasionalis sekuler. Kedua faksi terkunci dalam perang saudara sejak 2006. Hamas menguasai Gaza, Fatah menguasai Tepi Barat. Polarisasi faksi-faksi pejuang Palestina ikut menyulitkan proses penyelesaian konflik Israel-Palestina,” katanya. 

Oleh karena itu, Ketua PCPMII mendorong upaya gencatan senjata dari kedua belah pihak antara Militer Israel dan Pejuang Palestina. Hal tersebut bertujuan agar bantuan kemanusiaan dari Ormas maupun Lembaga dan OKP yang ada di Indonesia bisa masuk dan kondisi Palestina pulih seperti sedia kala.

Indonesia sudah sanggat Komit dan berusaha keras dalam memerdekan kedaulatan Palestina di lansir dari beberapa Artikel dan Fakta sejarah. 

Dukungan Bung Karno terhadap Palestina ditunjukkan saat mulai menggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1953.Kemudian, dalam forum KAA pada 1955 di Bandung, Soekarno keras mengecam segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan Israel terhadap Palestina.

Sampai saat ini indonesia melalui Presiden Joko Widodo (Jokowi), seperti disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil langkah nyata dalam menangani konflik Israel dan Palestina.

Ungkapnya Tindakan Israel mengusir Palestina dari Sheikh Jarrah dan penyerangan di Masjid Al-Aqsa, Jokowi menegaskan, tidak dapat dibiarkan.

Tidak hanya itu, Presiden RI Jokowi juga menyatakan Indonesia sebagai anggota biro sekaligus wakil ketua The Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People mengusulkan agar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok (GNB) segera bertemu untuk membahas masalah ini.

“Oleh karena itu, saya dari PC PMII Pidie Jaya-Pidie dan seluruh sahabat-sahabat dan Kader se-Indonesia, mengajak terkhusus warga Nahdliyin untuk berbondong-bondong memberikan sumbangsih yang terbaik baik itu berupa dukungan moral, Infak Sedekah, dan Zikir dan Doa bersama. Mudah-mudahan ini bermanfaat buat masyarakat palestina, " . Pungkasnya
×
Berita Terbaru Update