Notification

×

Iklan

Iklan

MAULID DAN MOMENTUM BANGKIT

Minggu, 31 Oktober 2021 | 18.11 WIB Last Updated 2021-10-31T11:11:35Z

Dok.foto Penulis  : Muhammad Meuraksa


MAULID DAN MOMENTUM BANGKIT

GEMARNEWS.COM , OPINI - Tak terasa momentum maulid nabi besar Muhammad Saw kembali menggema di antero negeri, dan Aceh termasuk salah satu tempat yang sangat menjunjung tinggi tradisi maulid Nabi Muhammad Saw.

Bagi masyarakat Aceh, maulid tidak hanya sebatas memperingatinya dengan begitu saja, tetapi ada hal-hal lain yang lebih ditunjukkan dalam mengenang dan membesarkan hari lahirnya baginda Muhammad Saw.

Dengan penuh keikhlasan dan ketulusan hati, masyarakat Aceh mengenang momentum maulid dengan mengadakan "khenduri" dan berbagi terhadap sesama dalam menyambung ukhwah silaturahmi.

Sebagai basisnya ahlussunnah wal jamaah, Aceh sangat kental dengan perayaan maulid. Tak terkecuali, selama tiga bulan penuh kita tidak akan asing untuk menerima undangan khenduri maulid.

Lantas apa yang membuat khenduri maulid begitu "dahsyat" di mata masyarakat Aceh ?

Perlu kita melihat sisi sejarahnya, peringatan maulid pertama kali digagagas oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1184 M (580 H) dalam rangka  membangkitkan kembali semangat jihad umat Islam yang sangat pudar, Masa itu masih dalam era perang Salib, dimana pasukan Eropa telah menguasai Al-Quds (Jerusalem) dan Mesjid Aqsa sejak tahun 1099 M dan merubahnya menjadi gereja.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid pertama adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji dengan karyanya yang berjudul Iqd Al-Jawahir (Kalung permata) yang akhirnya dikenal dengan Kitab Barzanji.

Ternyata peringatan Maulid beserta even-even yang menyertainya membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa difungsikan kembali menjadi mesjid.

Dengan semangat ala Shalahuddin inilah, mestinya momentum maulid dapat menjadi salah satu spirit perjuangan bagi kita sekarang untuk lebih sadar dalam memperbaiki kondisi dan situasi menuju arah yang lebih baik. 

Melalui hubungan persatuan dan persaudaraan yang erat, kita harapkan masyarakat Aceh mampu untuk selalu bersatu dan kompak dalam "meu adoe a".

Salam persatuan ...


(Penulis adalah mahasiswa pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh).
×
Berita Terbaru Update