Notification

×

Iklan

Pernyataan Menteri Agama Picu Konflik, Ketua SPMA Minta Kapolri Tangkap Gus Yaqut

Jumat, 25 Februari 2022 | 11.57 WIB Last Updated 2022-02-25T04:57:44Z
Dok.foto : Ketua SPMA , Misran , SH.


Gemarnews.com , Banda Aceh - Ketua Sekolah Pemimpin Muda Aceh ( SPMA )  Misran,SH mengecam pernyataan menteri agama RI yang menyudutkan agama islam dan melukai hati masyarakat yang mayoritas islam, sabtu (26/02).

Hal ini berdasarkan release berita yang ditayangkan dibeberapa media sejak kemarin soal menteri agama melarang pengeras suara dihidupkan keras-keras selama bulan Ramadhan kedepan.

Berikut pernyataan lengkap Yaqut terkait edaran Menag soal penggunaan toa di masjid dan musala yang belakangan ini menuai kontroversi:

"Iya itu kemarin kita terbitkan edaran pengaturan. Kita tak melarang masjid musala gunakan toa, tidak. Karena itu bagian syiar Agama Islam. Tapi ini harus diatur bagaimana volume sepikernya. Toanya enggak boleh kencang-kencang, 100 db. Diatur bagaimana kapan mereka gunakan speaker itu sebelum Azan, setelah Azan. Ini tak ada pelarangan.

Aturan ini dibuat semata-mata agar masyarakat kita makin harmonis. Menambah manfaat dan mengurangi ketidakmanfaatan. Kita tahu di wilayah mayoritas muslim, hampir tiap 100-200 meter ada musala dan masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka nyalakan toanya di atas kaya apa? Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya.

Kita bayangkan lagi, kita muslim, lalu hidup di lingkungan nonmuslim, lalu rumah ibadah saudara kita nonmuslim bunyikan toa sehari lima kali dengan kencang-kencang secara bersamaan itu rasanya bagaimana. Yang paling sederhana lagi, tetangga kita ini dalam satu kompleks, misalnya, kanan kiri depan belakang pelihara anjing semuanya, misalnya, menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu enggak?

Apapun suara itu kita atur agar tak jadi gangguan. Speaker di musala masjid monggo silakan dipakai, tapi diatur agar tak ada merasa terganggu. Agar niat penggunaan toa dan speaker sebagai sarana dan wasilah lakukan syiar bisa dilaksanakan tanpa mengganggu mereka yang tak sama dengan keyakinan kita.

Saya kira dukungan juga banyak atas hal ini. Karena alam bawah sadar kita mengakui pasti merasakan bagaimana suara bila tak diatur pasti mengganggu. Truk itu kalau banyak di sekitar kita, kita diam di satu tempat, kemudian ada truk kiri kanan belakang kita, mereka menyalakan mesin bersama-sama kita pasti mengganggu. Suara-suara yang tak diatur itu pasti jadi gangguan buat kita. Gitu ya,"

Dalam hal ini, ketua SPMA Misran, SH meminta gus yaqut di proses hukum, Ujarnya.

"Saya atas nama ketua Sekolah Pemimpin Muda Aceh meminta Menteri Agama diproses hukum, karena telah menista agama dan membuat gaduh ditengah umat."

Seyogyanya, menjadi seorang menteri agama RI yang didasari lima agama yang sah harus hidup berdampingan dan saling menghargai. Kacamata saya melihat, umat silam tidak pernah usik terhadap agama lain dan berdasarkan data yang kita lihat di media, negara kita juga sangat toleran antar sesama."

Maka dengan munculnya statemen menteri agama RI, ini akan memicu perpecahan dan konflik antar umat. Beberapa hari lalu kita melihat di India betapa sayangnya dari hal yang salah akan menimbulkan korban yang tidak terhitung jumlahnya.

Berangkat dari berbagai masalah, kita harus belajar dan solidaritas antar sesama harus kita kuatkan. "Siapapun yang sudah diluar radar mengeluarkan statemen yang memicu konflik, maka harus ditangkap dan diproses hukum, siapapun itu ia tidak terkecuali",  Tegas Misran.

Dalam hal terakhir, saya meminta bapak Kapolri republik Indonesia agar memeriksa Menteri Agama RI yang sudah mengganggu ketentraman antar umat beragama.

Perlu diketahui, Kami beribadah dengan penuh kesadaran dan keilmuan, jangan melarang kami beribadah apalagi dibulan suci ramadhan, ingat itu, Ujar Misran,SH yang juga kader Himpunan Mahasiswa Islam Provinsi Aceh. (*)
×
Berita Terbaru Update