Notification

×

Ketika Boikot Menjadi Diskriminasi: Belajar dari Sejarah Antisemitisme

Rabu, 27 Agustus 2025 | 06.55 WIB Last Updated 2025-08-26T23:55:27Z


 

Oleh: Laksamana Muflih IskandarMahasiswa Program Doktoral Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Diskriminasi terhadap umat Yahudi, atau yang sering disebut antisemitisme, bukanlah isu baru. Ia berakar dari berabad-abad sejarah panjang, dimulai sejak masa kekaisaran Romawi, kemudian abad pertengahan Eropa, hingga tragedi besar abad ke-20 yakni peristiwa Holocaust. Namun, persoalan ini ternyata tidak berhenti di masa lalu. Hingga hari ini, jejak diskriminasi itu masih dapat kita lihat dalam berbagai bentuk, baik di ruang nyata maupun digital.


Menariknya, diskriminasi antisemitisme ini sangat unik bila dibandingkan dengan bentuk diskriminasi lain seperti terhadap gender, etnis, atau agama-agama besar yang sudah lama diakui di dunia. Jika diskriminasi gender atau etnis umumnya sudah banyak mendapat sorotan, antisemitisme justru hadir dalam bentuk simbolik, stereotip, atau pengaruh dari media global, bukan dari interaksi langsung dengan komunitas Yahudi yang jumlahnya sangat kecil. Hemat penulis, kita perlu untuk lebih teliti sebagai masyarakat Indonesia untuk memahami diskriminasi yang “diekspor” dari luar, alih-alih lahir dari pengalaman lokal sehari-hari.


Salah satu momen paling terkenal adalah Babylonian Exile, sekitar 586 SM. Masa itu, bangsa Yahudi ditaklukkan oleh Nebukadnezar II dari Babilonia. Bait Suci di Yerusalem dihancurkan, dan banyak orang Yahudi dibuang ke Babilonia. Peristiwa ini terjadi di bawah kekuasaan Mesopotamia akhir. Sebagai komunitas minoritas, mereka diperlakukan sebagai rakyat terjajah. Terkadang diberi ruang untuk hidup, namun pada saat tertentu dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas politik, terutama karena loyalitas mereka yang kuat kepada Yahweh dan bukan kepada dewa-dewa Mesopotamia.


Pada abad pertengahan, orang Yahudi dijadikan kambing hitam ketika terjadi krisis. Wabah, krisis ekonomi, atau konflik politik sering dituding sebagai ulah mereka. Narasi mereka  ikut diwariskan lintas generasi. Propaganda berpuncak pada masa Nazi Jerman, ketika lebih dari enam juta orang Yahudi dibantai secara sistematis. Pola serupa, meski dalam bentuk berbeda, masih terlihat hingga saat ini.


Serial Hunters Amazon pada tahun 2020 yang dibintangi Al Pacino mengisahkan kelompok pemburu Nazi di Amerika, namun menuai kritik karena menampilkan adegan kekerasan fiktif dan “invented Holocaust scenes” yang tidak pernah terjadi secara historis. Bagi komunitas Yahudi, hal ini berbahaya karena bisa melemahkan keseriusan memori Holocaust dan memberi celah bagi Holocaust denial dengan dalih “itu hanya dramatisasi fiksi”. Protes pun muncul dari kalangan Yahudi, sebab jika komunitas lain diperlakukan dengan cara serupa, kemungkinan besar akan muncul seruan boikot yang luas. Namun, dalam kasus Yahudi, reaksi publik terhadap distorsi sejarah ini tampak kurang keras.


Laporan-laporan mutakhir menunjukkan tren kebangkitan antisemitisme. Pola boikot di era media sosial di Indonesia, misalnya. Narasi yang terbentuk di platform digital menekankan pada simbol dan sentimen, bukan pada data dan perhatian yang dalam. Akibatnya, banyak kampanye boikot yang viral namun kurang memperhitungkan dampak jangka panjang, baik bagi pekerja maupun iklim investasi di negara kita.


Gerakan boikot sering dipahami sebagai bentuk protes konsumen terhadap isu-isu global, namun dalam konteks Indonesia dampaknya bisa jauh lebih kompleks. Misalnya, boikot terhadap perusahaan tertentu selain menekan investor, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas lapangan kerja bagi ribuan pekerja lokal yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan yang bersangkutan.

Beberapa bulan belakangan , salah satu gerai kopi besar di Indonesia mengalami penurunan penjualan drastis hingga menutup sejumlah gerai. Penurunan angka ini bermula sejak aksi boikot berlangsung. Gerai ini dikaitkan dengan isu kekerasan global yang sedang berlangsung. Dalam hal ini, dikaitkan dengan bangsa Yahudi. Padahal gerai ini konsisten menghadirkan produk halal dan menolak segala bentuk kekerasan, namun tetap terdampak oleh sentimen boikot.


Menghadapi diskriminasi terhadap Yahudi, ada dua hal penting yang bisa kita tarik sebagai pelajaran. Pertama, ingatan sejarah perlu terus dijaga. Holocaust dan berbagai bentuk antisemitisme lain harus tetap diceritakan agar generasi muda paham bahaya kebencian  terhadap bangsa dan etnis tertentu. Kedua, perlu ada pemisahan yang jelas antara kritik politik dan diskriminasi agama. Mengkritk sebuah kebijakan bukan berarti menyerang identitas agama atau etnis tertentu. Di sinilah peran media dan masyarakat sipil menjadi penting, menghadirkan diskusi yang baik tanpa jatuh pada jebakan stereotip.


Diskriminasi terhadap umat Yahudi adalah cermin dari persoalan lebih luas, bagaimana kebencian bisa merusak tatanan sosial jika dibiarkan. Membicarakan isu ini bukan soal membela satu kelompok semata, melainkan upaya mempertahankan nilai dasar kemanusiaan, bahwa setiap orang berhak hidup tanpa rasa takut, tanpa diskriminasi, dan tanpa stigmatisasi. Pada akhirnya, melawan antisemitisme adalah bagian dari menjaga kemanusiaan itu sendiri. (*)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update