GEMARNEWS.COM, TAKENGON — Kondisi listrik yang telah padam selama tiga hari terakhir di wilayah Aceh Tengah berdampak serius terhadap jalannya pendidikan, khususnya pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di SD IT Cendekia, Takengon. Menyadari risiko kegagalan ujian jika tak ada intervensi, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Aceh Tengah segera mengambil langkah mitigasi dengan menyediakan fasilitas penunjang agar ANBK tetap terlaksana.
Kepala Kominfo Aceh Tengah, dalam pernyataan resmi, mengatakan bahwa fasilitas yang disiapkan mencakup generator listrik darurat, unit UPS (Uninterruptible Power Supply), serta dukungan koneksi internet alternatif menggunakan jaringan cadangan. “Kami memahami bahwa padamnya listrik selama tiga hari bisa mengganggu proses ujian berbasis komputer. Maka dari itu, kami temani SD IT Cendekia dengan cadangan listrik dan koneksi agar siswa tetap bisa mengerjakan ANBK,” ujarnya.
Menurut catatan PLN dan media lokal, gangguan pasokan listrik di Aceh dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh kerusakan pada sistem transmisi dan ketidaksiapan pembangkit tambahan. Dalam pemberitaan, disebutkan bahwa listrik sebagian wilayah Aceh telah padam tiga hari berturut-turut, dan PLN menyatakan bahwa pasokan daya berkurang sekitar 250 MW, sehingga pihaknya melakukan manajemen beban dan memprioritaskan layanan publik vital terlebih dahulu. detikcom
Kondisi pemadaman ini juga tercatat melanda Kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu wilayah terdampak. Dampaknya tidak hanya pada rumah tangga, tetapi juga pada institusi pendidikan yang sangat bergantung pada listrik dan koneksi internet. Tanpa pasokan listrik dan jaringan yang stabil, komputer-komputer ujian di sekolah akan berhenti berfungsi, dan server ujian tidak dapat diakses.
ANBK, sebagai salah satu standar penilaian kualitas pendidikan di Indonesia, mensyaratkan infrastruktur komputer dan jaringan yang memadai. Berdasarkan pedoman ANBK, koneksi internet yang stabil dengan bandwidth tertentu dan komputer proktor-klien yang memenuhi spesifikasi minimum adalah keharusan agar ujian berjalan lancar. Karena itu, gangguan listrik berkepanjangan dapat merusak integritas dan ketepatan waktu pelaksanaan ujian.
Pihak sekolah SD IT Cendekia menyatakan tingkat kekhawatiran tinggi menjelang hari ANBK. Kepala sekolah, Ustadzah Kemala Hayati,S.Pd menyampaikan, “Kami sangat waswas karena ini dapat merugikan siswa, terutama mereka yang telah belajar keras. Bila ujian tertunda atau terganggu, bisa memunculkan persoalan teknis dan psikologis.” Kata beliau, bantuan Kominfo menjadi penyelamat agar proses tetap berlangsung.
Namun, penyediaan fasilitas cadangan bukan hal mudah. Kominfo harus melakukan pengadaan personel teknisi agar sistem generator, UPS, dan jaringan alternatif dapat diandalkan dalam waktu singkat. Selain itu, aspek logistik seperti bahan bakar generator dan kesiapan perawatan harus dipastikan agar tidak gagal saat ujian.
Dengan langkah proaktif ini, Kominfo Aceh Tengah berharap ANBK SD IT Cendekia dapat berjalan tanpa hambatan meskipun dalam situasi listrik padam panjang. Keberhasilan ini diharapkan menjadi contoh respons cepat instansi pemerintah terhadap tantangan infrastruktur, sekaligus menjaga hak siswa untuk ikut ujian secara adil meskipun di tengah kondisi yang sulit.
Kepala Sekolah SD IT Cendekia Takengon, Ustadzah Kemala Hayati, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya atas dukungan dari Dinas Kominfo Aceh Tengah. Bantuan fasilitas darurat tersebut menurutnya sangat membantu kelancaran pelaksanaan ANBK di tengah situasi yang penuh tantangan.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kominfo Aceh Tengah atas bantuan nyata yang diberikan. Di saat kami mengalami kepanikan karena pemadaman listrik yang sudah berlangsung tiga hari, kehadiran fasilitas ini menjadi solusi yang sangat kami butuhkan. Anak-anak jadi bisa tetap mengikuti ANBK dengan lancar, tanpa harus mengkhawatirkan listrik atau jaringan,” ujar Ustadzah Kemala.
Ia juga menyampaikan harapan agar koordinasi antar instansi seperti ini dapat terus berjalan di masa mendatang, terutama untuk menjamin kelangsungan pendidikan digital di daerah-daerah yang masih rawan gangguan infrastruktur.
"Kami berharap ke depannya kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan instansi teknis seperti Kominfo dapat diperkuat. Kami ingin anak-anak di daerah seperti Takengon juga merasakan akses teknologi dan pendidikan yang berkualitas, meskipun di tengah keterbatasan fasilitas. Semoga ini menjadi awal yang baik menuju transformasi digital di sekolah-sekolah Aceh Tengah,” tutupnya.
Di tengah keterbatasan dan kondisi darurat, kolaborasi semacam ini membuktikan bahwa pendidikan tetap dapat berjalan dengan baik bila semua pihak saling mendukung dan berorientasi pada kepentingan siswa. Ke depan, diharapkan pola penanganan seperti ini bisa menjadi protokol standar saat menghadapi situasi serupa, demi menjaga mutu asesmen dan hak belajar anak-anak Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang belum sepenuhnya merdeka dari kendala listrik dan akses digital.
Dengan semangat gotong royong dan perhatian terhadap dunia pendidikan, masa depan generasi penerus bangsa dapat terus dijaga—meski dalam kondisi serba terbatas. Pendidikan tidak boleh padam, meski listrik terputus.(sumber LENI APRIANI S.IP DISKOMINFO/red)
