Notification

×

Dari Warung Kopi ke Ruang Demokrasi: TIDAR Ciputat Timur Dorong Pemuda Melek Politik

Jumat, 06 Februari 2026 | 21.54 WIB Last Updated 2026-02-06T14:54:46Z

Pewarta: Adipatra Kenaro Wicaksana

Gemarnews.com, Ciputat Timur – Diskusi kepemudaan bertajuk “Politik di Sekitar Kita: Membaca Realitas Pemuda Hari Ini” digelar di Warkop Jambu 3, Ciputat Timur, Sabtu. Kegiatan ini dikemas dalam tajuk Ngopi Bermisi dan diinisiasi oleh Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Ciputat Timur bersama komunitas Muda Bersabda sebagai ruang literasi politik alternatif bagi generasi muda.

Mengusung konsep diskusi santai di warung kopi, kegiatan ini menghadirkan suasana cair namun tetap substantif. Sekitar 50 peserta hadir dan terlibat aktif dalam diskusi. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pemuda komunitas, kalangan akademisi, hingga pelajar.

Kehadiran lintas kelompok dan generasi tersebut membuat dialog yang terbangun semakin dinamis. Beragam perspektif, mulai dari pengalaman praktis di lapangan hingga sudut pandang akademik generasi muda, saling berkelindan dalam forum tersebut.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Muhammad Ali Ridho, S.E., Tenaga Ahli Anggota DPR RI; Agus Supadmo, S.E., M.Si, Direktur Umum Perseroda PITS Tangerang Selatan; serta Muhammad Hilmi Zuhdi, S.Pd., M.Ag, Founder Muda Bersabda. Jalannya diskusi dipandu oleh Nirwan Dwi Putra, S.Pd., M.Ag, Ketua PAC TIDAR Ciputat Timur, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Agus Supadmo menegaskan bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam keseharian pemuda.

 Ia menyinggung dinamika politik lokal, mulai dari pengalaman awal pelaksanaan Pilkada di Tangerang Selatan hingga pentingnya peran produktif pemuda di lingkungan sosialnya.
Menurutnya, politik merupakan seni meraih kekuasaan melalui proses demokrasi. Jabatan publik seperti presiden, legislatif, maupun kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat sehingga memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat sebagai konstituennya.

“Kontribusi pemuda dalam politik bisa dimulai dari banyak pintu. Masuk partai politik, menjadi pemilih aktif dan kritis, hingga menjadi pegiat yang responsif terhadap kebijakan publik,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Ali Ridho memandang politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan washilah atau alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani, Plato, yang menyebut politik sebagai instrumen untuk mendistribusikan keadilan di tengah masyarakat.

Ridho juga menyoroti fenomena skeptisisme pemuda terhadap partai politik. Namun menurutnya, sikap kritis tersebut tidak boleh berujung pada apatisme.

“Kalau skeptis dengan partai, jangan berhenti. Masih ada ruang seperti sayap kepemudaan partai yang bisa menjadi pintu masuk untuk belajar politik dan memahami sistem dari dalam,” jelasnya.

Founder Muda Bersabda, Muhammad Hilmi Zuhdi, menambahkan perspektif mengenai relasi strategis antara pemerintah, partai politik, dan pemuda. Ia menilai politik memiliki peran besar dalam menentukan realitas hidup generasi muda, termasuk dalam isu ketenagakerjaan yang berkaitan dengan jutaan lapangan kerja.

Hilmi memaparkan hasil survei terhadap sekitar 49 ribu anak muda yang menunjukkan bahwa banyak keresahan generasi muda belum tersalurkan secara semestinya. Ia juga menyoroti adanya jarak komunikasi antargenerasi, di mana orang tua kerap dianggap “kolot”, sementara anak muda dicap “nyolot”.

Menurutnya, agar mampu berdaya dalam politik, pemuda perlu memiliki tiga modal utama, yakni modal sosial, intelektual, dan finansial. Ketiga modal tersebut menjadi fondasi dalam membangun pengaruh sekaligus keberlanjutan gerakan kepemudaan.

Ia juga mendorong penerapan sistem meritokrasi dalam organisasi maupun partai politik serta peningkatan partisipasi politik aktif pemuda. Data Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat sekitar 53 persen suara pemuda berkontribusi dalam Pemilu 2019, yang menunjukkan besarnya kekuatan elektoral generasi muda.

Sebagai moderator, Nirwan Dwi Putra menegaskan pentingnya kehadiran pemuda dalam ruang-ruang politik. Ia menyampaikan bahwa forum seperti Ngopi Bermisi dihadirkan untuk membuka dialog yang lebih inklusif dan membumi.

“Kami mengharapkan pemuda tidak menjauh dari hiruk pikuk politik, tetapi justru hadir dan berdampak. Sebab semua kebijakan politik berpengaruh langsung pada sejengkal kehidupan,” ujarnya.

Ia menilai keputusan politik, baik di tingkat lokal maupun nasional, akan selalu bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, hingga kesejahteraan sosial.
Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut berjalan dinamis dengan sesi tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan serta pandangan kritis yang disampaikan sepanjang forum.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap ruang-ruang diskusi informal seperti warung kopi dapat menjadi medium efektif dalam menumbuhkan kesadaran politik pemuda. Dari tempat sederhana, percakapan besar tentang masa depan daerah dan bangsa diharapkan terus tumbuh seiring meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam demokrasi.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update