![]() |
| (Foto Dokumentasi WhatsApp, peserta FGD mengikuti rangkaian acara yang dilaksanakan dihotel Cempaka Inn Syariah Sigli, pada hari Sabtu 14 Februari 2026) |
Kegiatan Focus Group Discussion dalam rangka pelaksanaan program Revitalisasi Literasi Budaya Pidie Melalui E-Modul Berbasis Ethnomatematika sukses digelar di Hotel Cempaka Inn Syariah Sigli. Pada (14/02/2026).
Kegiatan ini didanai melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan dan Dana Indonesiana.
Program ini diinisiasi oleh penerima manfaat hibah kebudayaan, Muzakkir, PhD, sebagai bagian dari komitmen akademik dan sosial dalam mengintegrasikan nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran matematika berbasis etnomatematika.
FGD ini bertujuan menjaring masukan strategis untuk penyempurnaan pengembangan e-modul. Sebanyak 100 peserta hadir. Mereka terdiri atas guru SD dan MI, guru SMP dan MTs, pengawas sekolah, tokoh budaya, Majelis Adat Aceh, perwakilan dinas pendidikan, pegiat budaya, komunitas budaya, serta tokoh masyarakat.
Kegiatan dibuka dengan pemantik pertama oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie, Yusmadi, M.Pd. Dalam paparannya, ia menegaskan posisi sentral guru sebagai agen pelestarian budaya. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan. Guru membentuk kesadaran budaya generasi muda.
Pemantik kedua disampaikan oleh Ust. Junaidi Ahmad, S.Ag., M.H. Ia mengupas secara mendalam kekayaan nilai budaya Pidie yang mulai tergerus zaman. Dalam sesi ini, para peserta menyadari bahwa banyak praktik budaya lokal yang relevan untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran di kelas. Diskusi berkembang secara kritis dan reflektif.
Pada sesi diskusi, peserta memberikan sejumlah rekomendasi konkret untuk pengembangan e-modul. Mereka menekankan pentingnya memasukkan unsur animasi sebagai daya tarik visual dan pedagogis. Beberapa budaya lokal yang direkomendasikan untuk dimuat antara lain tradisi keujruen blang, pawanga laot, dan pawang gle agar generasi muda mengenal struktur sosial dan kearifan lokal tersebut.
Ketua Majelis Adat Aceh dalam forum juga menyoroti urgensi pelestarian hukum adat yang mulai terpinggirkan. Ia mengusulkan penyelenggaraan festival tari tradisional dan agenda budaya rutin agar masyarakat kembali akrab dengan identitas budayanya.
Guru-guru turut membagikan praktik baik integrasi budaya dalam pembelajaran matematika. Rumoh Aceh digunakan sebagai media pembelajaran geometri. Jeungki dimanfaatkan untuk menjelaskan konsep keseimbangan dan prinsip tuas. Proses jak u blang diangkat untuk membahas pola, pengukuran, dan sistem kerja kolektif dalam konteks matematika sosial.
Melalui FGD ini, pengembangan e-modul diharapkan tidak hanya menghasilkan bahan ajar digital. Program ini menargetkan lahirnya model pembelajaran kontekstual yang memperkuat literasi numerasi sekaligus menjaga identitas budaya Pidie secara sistematis dan berkelanjutan.
