Di tengah dominasi sejarah yang sering menonjolkan tokoh besar seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Cut Nyak Meutia, figur seperti Mat Sisir kerap luput dari perhatian. Padahal, justru di sanalah letak kekuatan sejarah Indonesia: perlawanan tidak hanya dipimpin elite, tetapi juga lahir dari rakyat biasa.
Melawan Tanpa Nama Besar
Mat Sisir bukan panglima, bukan tokoh karismatik dengan pasukan besar. Ia bergerak sendiri. Namun dalam sejarah perlawanan kolonial, tindakan individual seperti ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia menunjukkan bahwa kesadaran melawan tidak membutuhkan struktur formal—cukup dengan rasa keadilan yang terusik.
Tindakan nekatnya menghabisi seorang perwira Belanda di tengah kerumunan bukan sekadar aksi spontan. Ia adalah bentuk akumulasi kemarahan kolektif rakyat yang selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan, kerja paksa, dan penarikan upeti.
Dalam perspektif sejarah sosial, aksi seperti ini sering disebut sebagai resistance from below—perlawanan dari akar rumput yang tidak selalu tercatat dalam arsip resmi kolonial, tetapi hidup dalam ingatan masyarakat.
Sujud: Simbol Spiritualitas Perlawanan
Satu hal yang membuat kisah Mat Sisir begitu kuat adalah narasi bahwa ia gugur dalam posisi sujud. Terlepas dari perdebatan historisnya, simbol ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat Aceh yang dikenal religius.
Dalam tradisi Islam, sujud adalah posisi paling dekat antara manusia dengan Tuhan. Maka, kematian dalam posisi tersebut dimaknai sebagai bentuk kemuliaan—bahkan sering diasosiasikan dengan konsep syahid.
Ini menunjukkan bahwa perlawanan rakyat Aceh tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Seperti yang juga terlihat dalam Perang Aceh, nilai agama menjadi fondasi utama dalam melawan kolonialisme.
Sejarah yang Nyaris Terlupakan
Ironisnya, kisah sebesar ini belum mendapat tempat layak dalam historiografi nasional. Tidak ada monumen besar, tidak masuk buku pelajaran utama, bahkan makamnya masih sederhana.
Fenomena ini mencerminkan masalah klasik dalam penulisan sejarah Indonesia: sentralisasi narasi. Sejarah sering ditulis dari perspektif kekuasaan, sehingga kisah-kisah lokal seperti Mat Sisir tersisih.
Padahal, jika Indonesia ingin membangun identitas kebangsaan yang kuat, maka sejarah harus inklusif—memberi ruang bagi pahlawan tanpa gelar, tanpa pangkat, tetapi dengan keberanian nyata.
Dari Kluet untuk Indonesia
Mat Sisir mungkin hanya satu nama dari ribuan pejuang yang tidak tercatat. Namun justru dari nama-nama seperti inilah kita belajar bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian kolektif—baik yang tercatat maupun yang terlupakan.
Jika bangsa ini ingin benar-benar besar, maka menghargai sejarah tidak boleh setengah hati.
Karena bangsa yang melupakan pahlawan kecilnya, perlahan akan kehilangan arah besarnya.
Referensi
Reid, Anthony. The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Oxford University Press, 1979.
Ibrahim Alfian. Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912. Pustaka Sinar Harapan, 1987.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford University Press, 2008.
Siegel, James T. The Rope of God. University of Michigan Press, 2000.
Tradisi lisan masyarakat Kluet Timur, Aceh Selatan (penuturan tokoh lokal dan masyarakat setempat).
Arsip kolonial Hindia Belanda terkait perlawanan rakyat Aceh (KITLV Leiden, Belanda).
Urgensi Pelestarian: Bukan Sekadar Nostalgia
Merawat kisah Mat Sisir bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Generasi muda hari ini hidup di era yang jauh dari kolonialisme fisik, tetapi menghadapi tantangan lain: krisis identitas, apatisme, dan lunturnya nasionalisme.
Kisah seperti ini dapat menjadi jangkar moral. Ia mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari kekuatan besar, tetapi dari keyakinan yang teguh.
Penulis : Syahrul Amin
Pemerhati Sejarah Aceh