Notification

×

Relawan Gesit Pidie Naik Level! Kelas 2.0 Fokus Pulihkan Trauma Korban Bencana

Minggu, 26 April 2026 | 00.15 WIB Last Updated 2026-04-25T17:15:14Z
GEMARNEWS.COM, SIGLI — Relawan Gesit Chapter Pidie menggelar kegiatan Kelas Relawan 2.0 yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (25–26 April 2026), di Aula Saka Coffee, Sigli. Kegiatan ini menjadi langkah lanjutan pasca onboarding anggota, dengan fokus utama pada penguatan kapasitas psikososial dan pengembangan lapak literasi sebagai bekal menghadapi situasi kebencanaan.

Seluruh anggota Relawan Gesit Chapter Pidie turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut. Ketua Relawan Gesit Chapter Pidie menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan fase kedua dalam penguatan internal organisasi relawan.

“Memasuki fase dua, relawan tidak hanya dituntut hadir, tetapi juga mampu membuka kelas dan berbagi pengetahuan agar siap menangani persoalan di lapangan,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi kehadiran anggota yang dinilai menunjukkan komitmen tinggi untuk berkolaborasi membantu masyarakat terdampak bencana.

Kelas ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Teuku Satria Mahmud, Dr. Nurlela Mufida, dan Teuku Raysoel Akram. Materi yang disampaikan mencakup isu-isu kemanusiaan, pemulihan trauma, hingga strategi pengembangan gerakan relawan.

Dalam pemaparannya, Teuku Satria Mahmud menekankan pentingnya kesiapan mental bagi relawan dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa relawan harus memiliki niat tulus dalam membantu sesama.

“Kita harus mendidik, mengedukasi, dan membantu masyarakat terdampak musibah. Ilmu tidak hanya didapat di ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman dan pelatihan,” katanya.
Ia juga menyoroti perubahan pola pikir relawan sejak masa pascabencana tsunami Aceh 2004. Menurutnya, dahulu relawan bergerak tanpa mengharapkan imbalan, sementara saat ini mulai muncul orientasi materi.

“Dulu relawan tidak dibayar. Sekarang banyak yang bertanya soal bayaran. Ini yang perlu diluruskan agar semangat kemanusiaan tetap terjaga,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa isu utama yang dihadapi relawan meliputi sektor pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan psikologi. Ia menekankan bahwa tugas utama relawan adalah memulihkan kondisi mental masyarakat terdampak.

“Tugas relawan adalah mengubah kondisi warga dari tidak tenang menjadi tenang. Itu inti dari pemulihan mental,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Nurlela Mufida mengupas secara mendalam tentang trauma pascabencana serta pendekatan Psychological First Aid (PFA). Ia menjelaskan bahwa trauma merupakan kondisi terguncangnya mental seseorang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa bencana.

Ia memaparkan tiga langkah utama dalam PFA, yakni memastikan keamanan dan kebutuhan dasar korban, memberikan dukungan emosional dengan mendengarkan tanpa paksaan, serta menghubungkan penyintas dengan layanan yang dibutuhkan seperti makanan, air bersih, informasi, layanan kesehatan, dan dukungan keluarga.
“Pendekatan ini penting agar korban merasa aman, didengar, dan mendapatkan bantuan yang tepat,” jelasnya.

Di sisi lain, Teuku Raysoel Akram menekankan pentingnya profesionalisme dalam gerakan relawan masa kini. Ia mengajak para relawan untuk lebih memahami kebutuhan masyarakat sebelum memberikan bantuan.

“Relawan hari ini harus profesional. Pahami situasi, mengerti kebutuhan, lalu bergerak. Jangan memberi sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh korban,” katanya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan Relawan Gesit Chapter Pidie semakin siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai situasi bencana, baik di tingkat lokal maupun nasional. Tidak hanya berfokus pada distribusi logistik, relawan juga didorong untuk berperan aktif dalam pemulihan psikologis masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas relawan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga aspek mental dan sosial yang menjadi kunci dalam proses pemulihan pascabencana.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update