Notification

×

Kisah Revano, Bersinar di SMK Muhammadiyah Pekalongan dan Bersiap Magang ke Jepang

Rabu, 13 Mei 2026 | 14.00 WIB Last Updated 2026-05-13T07:01:26Z



GEMARNEWS.COM, PEKALONGAN — Di tengah suasana haru pelepasan kelulusan kelas 12 SMK Muhammadiyah Pekalongan di sebuah hotel di Kota Pekalongan, Selasa (12/5/2026), sosok Revano menjadi perhatian tersendiri.


Didampingi sang ibu, Silvia, Revano tampak beberapa kali mendapat tepuk tangan dari para tamu undangan. Bukan hanya karena prestasinya sebagai lulusan terbaik kedua jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor, tetapi juga karena ia merupakan satu-satunya siswa keturunan Tionghoa beragama Katolik di sekolah berbasis Islam tersebut.


Siapa sangka, siswa yang sempat ragu masuk sekolah Muhammadiyah itu kini justru membawa pulang banyak kenangan baik, prestasi, hingga kesempatan magang ke Jepang melalui program beasiswa dari LPK.


Memilih Muhammadiyah karena Jurusan Otomotifnya


Revano mengaku memilih SMK Muhammadiyah Pekalongan bukan tanpa alasan. Ia menilai sekolah tersebut memiliki kualitas pembelajaran otomotif yang baik dan sesuai dengan minatnya di bidang teknik sepeda motor.


“Memilih di SMK ini karena yang ada jurusan teknik sepeda motor di Pekalongan kan ada dua, SMK Dwija Praja dan SMK Muhammadiyah. Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini,” katanya.

Keputusan itu ternyata menjadi titik awal perjalanan yang tak ia sangka sebelumnya. Selama tiga tahun bersekolah, Revano mengaku merasa nyaman dan diterima dengan baik oleh lingkungan sekolah.

“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” ujar Revano.





Tetap Mendapat Pelajaran Agama Katolik


Meski bersekolah di lingkungan Muhammadiyah, Revano tetap mendapatkan hak pendidikan agama sesuai keyakinannya. Pihak sekolah bahkan menyediakan guru agama Katolik untuk mendampingi proses pembelajaran.


Untuk praktik kegiatan keagamaan, Revano mengikuti di SMAN 3 Pekalongan. “Di sini pembelajarannya enak. Setelah lulus mau berangkat ke Jepang,” tambahnya.


Revano juga menegaskan selama bersekolah dirinya tidak pernah mengalami diskriminasi maupun perlakuan berbeda karena agama yang dianutnya. “Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apapun, paling teman bercanda masih normal,” ucapnya.



Sang Ibu Sempat Ragu Menyekolahkan di Muhammadiyah


Cerita haru juga datang dari sang ibu, Silvia. Ia mengaku awalnya sempat mempertimbangkan keputusan menyekolahkan anaknya di lingkungan sekolah berbasis Islam.

Namun setelah mendapat penjelasan langsung dari pihak sekolah, keyakinannya mulai tumbuh.

“Saya percayakan ke SMK Muhammadiyah karena keinginan anak sendiri. Anak saya itu lebih suka praktik, penginnya otomotif jurusannya teknik sepeda motor,” katanya.


Menurut Silvia, informasi yang ia dapatkan menyebut SMK Muhammadiyah Pekalongan memiliki jurusan otomotif terbaik di wilayah Pekalongan.

“Saya tanya ke anak saya bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa,” ujarnya.


“Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah,” lanjut Silvia.


Naik ke Panggung, Sang Ibu Sampaikan Terima Kasih


Momen mengharukan terjadi saat acara pelepasan kelulusan berlangsung. Silvia yang mendampingi Revano naik ke atas panggung dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada SMK Muhammadiyah Pekalongan.


Dengan suara bergetar dan senyum bahagianya, ia mengaku bersyukur karena putranya diterima dengan baik selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.


“Selama sekolah sampai kelas 3 tidak ada persoalan, tidak ada pembulian maupun rasis. Pelajaran agama juga mendapatkan dengan baik. Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” ungkapnya.


Silvia mengatakan putranya justru mengalami banyak perubahan positif sejak bersekolah di SMK Muhammadiyah Pekalongan.


“Terus terang di SMK ini dia malah lebih semangat. Waktu SD dan SMP dia kurang, kadang tugas tidak dikerjakan. Di SMK ini dia malah semangat kerjakan tugas, tidak pernah terlambat sekolah."

Kemampuan Revano di bidang otomotif pun berkembang pesat. Kini ia bahkan sudah mampu memperbaiki sepeda motor sendiri dan kerap dimintai bantuan oleh tetangga sekitar.


“Dia kan jurusan sepeda motor, sampai sekarang bisa servis motor sendiri. Bahkan kadang dipercaya sama tetangga. Saya sangat puas sekali,” tambah Silvia.


Salam sesi wawancara dengan wartawan, Silvia juga mengajak masyarakat nonmuslim untuk tidak ragu menyekolahkan anaknya di sekolah Muhammadiyah.

“Untuk teman nonmuslim jangan takut memasukkan anaknya ke Muhammadiyah karena akan diterima dengan baik,” tuturnya.


Muhammadiyah untuk Semua Golongan


Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan, Khusnawan, menegaskan pihak sekolah tidak pernah membedakan siswa berdasarkan latar belakang agama.

“Perlakuan kami sama. Ternyata dia bagus, dia ahli dalam sepeda motor, bisa memotivasi teman-temannya,” ujarnya.


Menurutnya, pendidikan Muhammadiyah terbuka bagi siapa saja dan tetap memberikan ruang bagi siswa untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.

“Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk semuanya, siapa saja. Pendidikan agama kami pilah, kami carikan guru agamanya, tetap ada fasilitas agama,” katanya.


Ia menegaskan sekolah tidak pernah memiliki tujuan memaksa siswa nonmuslim mengikuti ajaran Islam. Tidak ada keinginan kami untuk mengajak dia harus ke Islam, tegasnya.


Bersiap Menatap Masa Depan ke Jepang


Kini, setelah dinyatakan lulus bersama 128 siswa kelas 12 lainnya, Revano ingin melanjutkan cita-cintanya untuk magang ke Jepang. Berkat prestasi yang diraih, ia mendapatkan kesempatan beasiswa dari LPK untuk program magang ke Jepang.(*)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update