Notification

×

Menuju Indonesia Emas 2045, PB PII dan Kemensos Perkuat Penanganan ATS

Selasa, 26 Mei 2026 | 00.12 WIB Last Updated 2026-05-25T17:13:06Z
Gemarnews.com,Jakarta — Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia bersama Agus Jabo Priyono membahas persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi tantangan serius dunia pendidikan nasional pada 2026.
Hal itu disampaikan Agus Jabo saat menerima audiensi PB PII di Kantor Kementerian Sosial Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (25/05/2026).

Dalam pertemuan tersebut, PB PII menyampaikan laporan komprehensif terkait kondisi ATS tahun 2026 sekaligus sejumlah rekomendasi strategis untuk penanganan di tingkat akar rumput. Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah ATS di Indonesia mencapai 3,96 juta anak yang terdiri dari anak putus sekolah, lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan, hingga anak yang belum pernah bersekolah.

Ketua Umum PB PII, Amsal, menegaskan bahwa persoalan ATS tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan organisasi pelajar.

“PB PII siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyelamatkan generasi muda dari ancaman putus sekolah. Pendekatan sesama pelajar dinilai lebih efektif untuk menjangkau anak-anak yang rentan meninggalkan pendidikan,” ujar Amsal.

PB PII juga menawarkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya pembentukan “Satgas Pelajar Peduli”, penguatan sekolah ramah anak, advokasi dana pendidikan berbasis daerah, hingga penguatan pendidikan vokasional bagi remaja usia produktif.

Selain itu, PB PII mendorong adanya forum koordinasi permanen yang melibatkan kementerian terkait dan organisasi pelajar untuk memetakan serta menangani persoalan ATS secara terpadu dan berkelanjutan.

Agus Jabo menyambut baik gagasan dan rekomendasi yang disampaikan PB PII. Menurutnya, keterlibatan organisasi pelajar sangat penting dalam memperkuat upaya pemerintah menekan angka putus sekolah serta memastikan hak pendidikan anak terpenuhi secara merata.

“Penanganan Anak Tidak Sekolah harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah membutuhkan dukungan organisasi pelajar dan masyarakat agar intervensi yang dilakukan benar-benar menyentuh kelompok rentan,” kata Agus Jabo.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penguatan sinergi antara pemerintah dan organisasi kepelajaran dalam menghadapi tantangan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.tuturnya.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update