Notification

×

Di Tengah Gempuran AI dan Media Sosial, SPS Tegaskan Kebenaran Tetap Jadi Nafas Pers

Rabu, 10 Juni 2026 | 12.49 WIB Last Updated 2026-06-10T05:49:38Z
GEMARNEWS.COM, PEKANBARU – Di tengah gempuran media sosial, disrupsi teknologi digital, dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), industri pers nasional dihadapkan pada pertanyaan mendasar: siapa yang masih dipercaya publik?

Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Talkshow HUT ke-80 Serikat Perusahaan Pers (SPS) bertajuk “Lanskap Media Masa Kini dan Masa Depan” yang berlangsung di Auditorium kampus Politeknik Caltex Riau, Pekanbaru, Senin (8/6/2026).

Kegiatan yang dimoderatori Lailanisa Fadlilani itu menghadirkan Ketua SPS Riau H. Saidul Tombang, perwakilan SPS Pusat Mohammad Hasbi, serta perwakilan SPS Aceh Barlian Erliadi. Peserta didominasi mahasiswa Jurusan Humas dan Komunikasi Digital PCR yang tampak antusias mengikuti diskusi mengenai masa depan industri media.

Dalam paparannya, Saidul Tombang menegaskan bahwa di tengah perubahan lanskap informasi yang sangat cepat, satu hal yang tidak pernah berubah adalah kebutuhan masyarakat terhadap kebenaran. Menurutnya, teknologi boleh berkembang dan platform boleh berganti, tetapi media yang konsisten menyampaikan fakta dan kebenaran akan tetap mendapatkan tempat di hati publik.

“Pers tetap akan dipercaya selama menyampaikan kebenaran. Di era media sosial dan AI, kepercayaan publik lahir dari informasi yang akurat, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan utama pers bukan terletak pada kecepatan semata, melainkan pada kredibilitas. Ketika ruang digital dipenuhi informasi yang sering kali sulit diverifikasi, media profesional justru dituntut tampil sebagai jangkar kepercayaan publik.

Sementara itu, Mohammad Hasbi dari SPS Pusat menyoroti realitas yang sedang dihadapi perusahaan pers. Menurutnya, industri media saat ini tidak hanya menghadapi perubahan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku audiens dan model bisnis yang selama puluhan tahun menjadi penopang keberlangsungan media.

“Industri media sedang mengalami banyak problem yang mengganggu cara bisnis yang selama ini berjalan. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana membuat konten, tetapi bagaimana membangun trust dan siapa yang dipercaya,” katanya.

Hasbi menegaskan bahwa trust kini telah menjadi aset paling berharga dalam industri media. Kepercayaan bukan hanya nilai moral, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan komersial yang menentukan keberlanjutan sebuah perusahaan pers.

Dalam dialog yang berlangsung hangat, Hasbi juga memberikan pesan khusus kepada mahasiswa agar mulai membangun jejaring atau networking sejak dini. Menurutnya, kemampuan menjalin hubungan profesional akan menjadi modal penting dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

Kehadiran Politeknik Caltex Riau sebagai tuan rumah juga mencerminkan kuatnya sinergi antara dunia pendidikan dan industri pers. Kerja sama PCR dengan SPS Riau disebut sebagai bentuk investasi reputasi, yakni upaya membangun ekosistem yang mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan nyata industri media.

Perwakilan SPS Aceh, Barlian Erliadi, mengatakan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti, termasuk dalam iklim bisnis media. Ia mengutip teori Marshall McLuhan yang menyebutkan bahwa perkembangan teknologi akan memengaruhi perilaku manusia.

“Dalam kaitannya dengan informasi, saat ini arah perhatian publik sedang bergeser ke media yang bukan media arus utama, seperti media sosial. Media cetak, bahkan media online yang baru-baru berkembang kalah saing dengan informasi viral media sosial. Namun pada prinsipnya, nilai kebenaran informasi tetap dimiliki media arus utama. Informasi yang tersaji di media sosial belum tentu kebenarannya,” ujar Barlian.

Menurutnya, informasi yang hadir di media arus utama dikumpulkan dan disajikan secara profesional melalui proses jurnalistik yang jelas. Sementara di media sosial, siapa saja dapat menyampaikan informasi, termasuk akun yang tidak memiliki identitas yang jelas.


Pada sesi penutup, Barlian Erliadi menyampaikan pesan yang mendapat perhatian besar dari peserta. Ia menekankan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikannya.

“Peluang akan selalu hadir bagi mereka yang siap. Karena itu tingkatkan kemampuan, perkuat kompetensi agar bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi. SDM yang unggul akan lebih mudah membaca sekaligus menangkap peluang yang datang,” ujar Barlian yang saat ini juga tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Riau.

Barlian optimistis bisnis media, baik media cetak maupun elektronik, akan tetap mendapat tempat di hati publik.

“Tidak ada media hebat yang tidak mengalami krisis. Tetapi media yang tetap menjaga kualitas dan menjunjung tinggi nilai kebenaranlah yang akan tetap bertahan meskipun krisis datang silih berganti,” tegasnya.

Talkshow HUT SPS ke-80 itu akhirnya menegaskan satu hal penting di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat: kualitas informasi, kredibilitas, dan nilai kebenaran tetap menjadi fondasi utama pers masa depan. Kepercayaan publik dan kualitas SDM menjadi modal yang tidak tergantikan, bahkan di era kecerdasan buatan sekalipun.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update