Dok. Foto Penulis : Afrizal Refo, MA
OPINI - Tahun baru boleh berganti, tetapi tanpa perubahan diri, semua hanya akan menjadi rutinitas yang berulang.
Muharram kembali hadir menyapa umat Islam. Bulan yang menjadi penanda dimulainya Tahun Baru Hijriah ini semestinya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan evaluasi diri.
Muharram mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan yang sarat dengan makna perjuangan, pengorbanan, dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah transformasi. Ia merupakan keberanian meninggalkan kebiasaan buruk, keluar dari zona nyaman, serta memilih jalan yang benar meskipun penuh tantangan dan risiko. Semangat inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Islam, terutama generasi muda, dalam menghadapi berbagai persoalan zaman.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, generasi muda saat ini hidup dalam situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memiliki akses terhadap informasi tanpa batas, kemudahan komunikasi, dan berbagai peluang untuk berkembang. Namun di balik semua kemudahan tersebut, tersimpan tantangan yang tidak ringan.
Teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri sering kali justru berubah menjadi sumber distraksi.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca, menuntut ilmu, berkarya, atau membangun masa depan, banyak tersita oleh aktivitas yang tidak produktif di dunia digital. Berjam-jam dihabiskan untuk menggulir layar media sosial tanpa tujuan yang jelas, sementara perhatian terhadap pengembangan diri semakin berkurang.
Fenomena ini menjadi salah satu gejala krisis moral dan spiritual yang mulai mengkhawatirkan. Di berbagai daerah, kita dapat melihat masjid lebih banyak diisi oleh generasi tua dibandingkan generasi muda. Sementara itu, media sosial mampu menarik perhatian anak-anak muda selama berjam-jam tanpa jeda. Jari-jari mereka begitu aktif di layar gawai, tetapi langkah kaki menuju rumah Allah semakin jarang terlihat.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika berbagai bentuk penyimpangan sosial mulai mengancam masa depan generasi muda. Judi online kini hadir dalam genggaman melalui telepon pintar yang mereka miliki. Narkoba terus mencari korban baru dengan berbagai modus yang semakin canggih.
Pergaulan bebas, budaya instan, hedonisme, dan gaya hidup yang mengutamakan kesenangan sesaat perlahan mengikis nilai-nilai moral yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Masalah terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini sesungguhnya bukanlah kurangnya kesempatan. Sebaliknya, peluang terbuka begitu luas. Tantangan yang paling nyata adalah krisis arah dan tujuan hidup. Banyak anak muda yang mengetahui cara mendapatkan hiburan, tetapi tidak memahami tujuan hidupnya.
Banyak yang memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi merasa kesepian dan kehilangan makna. Banyak yang tampak bahagia di dunia maya, tetapi mengalami kegelisahan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks inilah makna hijrah menjadi sangat relevan. Hijrah bukan sekadar istilah yang populer atau tren yang sesaat. Hijrah adalah kesadaran untuk memperbaiki diri. Hijrah adalah keberanian mengatakan cukup terhadap kebiasaan yang merusak. Hijrah adalah keputusan untuk meninggalkan sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik.
Generasi muda tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai hijrah. Tidak perlu menunggu usia tua untuk mendekat kepada Allah SWT. Justru masa muda adalah waktu terbaik untuk membangun fondasi kehidupan yang kokoh. Ketika tenaga masih kuat, semangat masih menyala, dan kesempatan masih terbuka luas, saat itulah perubahan harus dimulai.
Hijrah dapat diawali dari langkah-langkah sederhana namun bermakna. Memperbaiki kualitas shalat dan membiasakan diri berjamaah di masjid. Meluangkan waktu membaca dan memahami Al-Qur'an. Memilih lingkungan pertemanan yang membawa pengaruh positif. Menghindari konten-konten yang merusak pikiran dan akhlak.
Memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berdakwah, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan melahirkan perubahan besar di masa depan. Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari keputusan sederhana yang dilakukan dengan kesungguhan dan istiqamah.
Muharram juga mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab terhadap zamannya. Umat ini tidak akan bangkit hanya dengan keluhan dan kritik. Umat membutuhkan generasi muda yang siap menjadi bagian dari solusi. Pemuda yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak mulia, karakter kuat, dan kepedulian sosial yang tinggi.
Indonesia membutuhkan generasi yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kekuatan spiritual. Generasi yang mampu menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar pengikut arus.
Generasi yang menjadikan nilai-nilai agama sebagai kompas dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Karena itu, Muharram tahun ini harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan. Jangan biarkan masa muda habis dalam kesia-siaan. Jangan biarkan cita-cita besar terkubur oleh kebiasaan buruk. Jangan biarkan hati semakin jauh dari Allah hanya karena terlalu dekat dengan gemerlap dunia yang sementara.
Saatnya masjid kembali dipenuhi langkah-langkah pemuda. Saatnya media sosial menjadi sarana menyebarkan inspirasi, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kebaikan. Saatnya meninggalkan judi online, narkoba, serta segala bentuk perilaku yang merusak masa depan. Saatnya berhijrah menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih produktif, dan lebih dekat dengan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat mereka yang hanya mengikuti arus zaman. Sejarah akan mencatat mereka yang berani berubah, berani memperbaiki diri, dan berani mengajak orang lain menuju jalan kebaikan.
Penulis : Afrizal Revo, MA
Sekretaris Umum PARMUSI Kota Langsa Pemerhati Pendidikan Gnerasi Muda.