Dok. foto Penulis : Ade Firmansyah
OPINI - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir sebagai organisasi kader yang memiliki mandat strategis dalam menyiapkan generasi intelektual, religius, dan humanis di lingkungan perguruan tinggi. Sejak didirikan pada tahun 1964, IMM tidak hanya berfungsi sebagai organisasi kemahasiswaan, tetapi juga menjadi instrumen penting kaderisasi Muhammadiyah dalam melanjutkan gerakan dakwah dan tajdid di kalangan mahasiswa.
Atas dasar itu, hubungan antara IMM dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sejatinya bukan sekadar hubungan administratif antara kampus dan organisasi kemahasiswaan.
Keduanya memiliki keterkaitan ideologis yang kuat dengan tujuan yang sama, yakni melahirkan kader-kader terbaik yang mampu melanjutkan perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah di masa depan.
Namun, realitas yang berkembang saat ini menghadirkan sejumlah tantangan.
Di berbagai kampus Muhammadiyah, kegiatan perkaderan seperti Darul Arqam Dasar (DAD) sering kali menghadapi rendahnya partisipasi mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang memandang organisasi hanya sebagai aktivitas tambahan selama masa kuliah, bukan sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan intelektualitas.
Tentu kondisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada mahasiswa. IMM sendiri perlu melakukan refleksi dan evaluasi terhadap metode kaderisasi yang diterapkan.
Organisasi harus mampu menghadirkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan identitas ideologis yang menjadi ruh gerakannya. Kaderisasi perlu dirancang sebagai ruang yang relevan, menarik, dan mampu menjawab kebutuhan generasi muda saat ini.
Namun demikian, persoalan kaderisasi tidak bisa hanya dipandang sebagai tanggung jawab internal IMM. Sebagai organisasi kader Persyarikatan, IMM membutuhkan dukungan yang lebih substantif dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Selama ini, dukungan kampus terhadap kegiatan kaderisasi sering kali masih terbatas pada aspek administratif maupun bantuan teknis pelaksanaan program. Padahal kaderisasi merupakan investasi jangka panjang yang menentukan keberlangsungan gerakan Muhammadiyah di masa mendatang. Jika kaderisasi hanya diposisikan sebagai agenda rutin organisasi, maka nilai strategis yang terkandung di dalamnya akan semakin berkurang.
Pertanyaan yang perlu dijawab bersama adalah sejauh mana perguruan tinggi Muhammadiyah menempatkan kaderisasi sebagai bagian integral dari misi pendidikan yang dijalankan. Apakah kaderisasi sudah menjadi perhatian bersama seluruh unsur kampus, atau masih dianggap sebagai urusan IMM semata?
Sesungguhnya, kampus Muhammadiyah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik.
Kampus juga memiliki tanggung jawab moral dan ideologis untuk melahirkan generasi yang memahami nilai-nilai Muhammadiyah, memiliki komitmen terhadap dakwah, serta siap mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan tersebut sejalan dengan proses kaderisasi yang selama ini menjadi fokus gerakan IMM.
Karena itu, sudah saatnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, khususnya di Aceh, memberikan perhatian yang lebih serius terhadap penguatan kaderisasi IMM.
Perhatian tersebut bukan dalam bentuk perlakuan istimewa, melainkan melalui pembinaan yang berkelanjutan, kolaborasi yang lebih erat, serta kebijakan yang mampu mendorong tumbuhnya budaya kaderisasi di lingkungan kampus.
IMM tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri dalam menjalankan tugas kaderisasi. Sebab keberhasilan IMM dalam melahirkan kader-kader berkualitas pada hakikatnya merupakan keberhasilan Muhammadiyah secara keseluruhan. Sebaliknya, ketika kaderisasi melemah, yang terdampak bukan hanya IMM, tetapi juga masa depan regenerasi Persyarikatan.
Pada akhirnya, kaderisasi adalah tanggung jawab bersama. IMM, Perguruan Tinggi Muhammadiyah, alumni, pimpinan Persyarikatan, hingga seluruh elemen Muhammadiyah memiliki peran yang sama penting dalam memastikan proses regenerasi berjalan dengan baik.
Masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal usaha yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas kader yang dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan.
Jika kaderisasi terus diperkuat, maka kampus Muhammadiyah tidak hanya akan melahirkan sarjana. Lebih dari itu, kampus akan melahirkan kader-kader yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, dan komitmen pengabdian kepada umat, bangsa, dan Muhammadiyah.
Itulah investasi terbesar yang seharusnya tidak pernah diabaikan.
Penulis : Ade Firmansyah