Notification

×

Eddy Wijaya Bersama Ir. Windy Gambetta, M.B.A.: Teknologi Sangat Membantu, Namun Manusia Tetap Wajib Menjadi Penentu Kebenaran.

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00.16 WIB Last Updated 2026-08-26T17:16:23Z
GEMARNEWS.COM | JAKARTA, 26 Agustus 2026 — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Mulai dari dunia pendidikan, pekerjaan, hingga pelayanan publik, kehadiran AI seperti ChatGPT diakui sangat membantu dan mempermudah banyak hal. Namun di balik segala kemudahan tersebut, tersimpan risiko besar yang menuntut kewaspadaan tinggi dari setiap penggunanya.
 
Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Ir. Windy Gambetta, M.B.A., Peneliti Pusat Artificial Intelligence Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat berbincang bersama Eddy Wijaya dalam program Podcast EdShareOn — Eddy Sharing and Discussion, Windy mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang dihasilkan oleh teknologi pintar tersebut.
 
AI BUKAN SUMBER KEBENARAN TUNGGAL, BISA MENGALAMI 'HALUSINASI'
 
Dalam diskusi yang berlangsung mendalam tersebut, Windy Gambetta menegaskan satu hal mendasar yang sering terlupakan oleh publik: AI bisa saja salah dan mengalami fenomena yang kerap disebut 'halusinasi'.
 
"Kita harus ingat bahwa AI adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran tunggal," ujar Windy.
 
Menurutnya, AI dirancang untuk memberikan jawaban yang cepat dan terlihat sangat meyakinkan. Namun, hal itu bukan berarti setiap output yang dihasilkan otomatis menjadi kebenaran mutlak.
 
"AI bisa melakukan kesalahan, memberikan informasi yang tidak akurat, bahkan menyampaikan hal yang keliru dengan gaya penyampaian yang sangat meyakinkan. Oleh karena itu, masyarakat wajib tetap melakukan verifikasi ulang terhadap setiap informasi yang bersumber dari hasil AI," tambah peneliti ITB tersebut.
 
Peringatan ini dinilai sangat krusial saat ini, mengingat maraknya penggunaan AI untuk menyusun karya tulis, mencari jawaban akademik, hingga memproduksi konten media sosial secara instan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
 
PELUANG BESAR DAN TANTANGAN NYATA DI ERA MIGRASI DIGITAL
 
Wawancara eksklusif di Podcast EdShareOn ini juga membedah peta peluang sekaligus tantangan nyata perkembangan AI di Indonesia:
 
POTENSI LUAR BIASA UNTUK KEMAJUAN
 
Jika digunakan dengan bijak, AI membawa potensi besar untuk mempercepat riset ilmiah, efisiensi industri, serta melipatgandakan kemampuan manusia dalam menyelesaikan masalah rumit yang sebelumnya sulit diselesaikan secara manual.
 
PENURUNAN DAYA BERPIKIR KRITIS
 
Penggunaan AI di dunia pendidikan yang tidak diarahkan dengan benar berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis siswa karena terlalu bergantung pada jawaban instan. Alih-alih membantu, hal ini justru dapat menghambat proses pembentukan pola pikir yang mendalam.
 
DISRUPSI LAPANGAN KERJA
 
Otomatisasi berpotensi mengubah lanskap kebutuhan tenaga kerja secara masif. Banyak jenis pekerjaan yang dapat digantikan oleh sistem cerdas, sehingga masyarakat dituntut untuk segera beradaptasi dan meningkatkan keterampilan agar tetap relevan.
 
ANCAMAN KEJAHATAN SIBER DAN ETIKA
 
Risiko lain yang tak kalah serius adalah penyebaran hoaks yang terstruktur, manipulasi video dan suara (deepfake), hingga isu etika yang menuntut tanggung jawab penuh dari setiap pihak yang mengembangkan maupun menggunakan teknologi ini.
 
MANUSIA TETAP HARUS MEMEGANG KENDALI, JANGAN SERAHKAN SEMUANYA KE MESIN
 
Menanggapi fenomena ini, host EdShareOn, Eddy Wijaya, menekankan pentingnya menjaga kesadaran kolektif agar manusia tidak menyerahkan sepenuhnya proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada mesin.
 
"AI diciptakan oleh manusia untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan peran kita dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kuncinya adalah keseimbangan: manfaatkan kemudahan teknologi, tetapi tetap lakukan pengecekan ganda sebelum mempercayai informasi apa pun," tegas Eddy.
 
Sebagai penutup, Windy Gambetta memberikan sebuah analogi yang kuat mengenai pentingnya memahami risiko teknologi:
 
"Rem itu bukan sekadar alat untuk membuat mobil berhenti. Keberadaan rem justru membuat seorang pembalap berani mengebut dengan aman. Dengan tahu cara 'mengerem' dan memitigasi risiko AI, kita bisa memanfaatkan teknologi ini secara maksimal untuk kemajuan bangsa."
 
Optimistis menghadapi masa depan digital, Eddy Wijaya menutup obrolan dengan pesannya yang menjadi semangat dalam setiap perbincangan:
 
"Sukses itu, hanya masalah waktu."
 
Selama kita terus belajar, tetap waspada, dan tidak pernah berhenti berpikir kritis, maka kemajuan teknologi akan menjadi sahabat terbaik bagi kemajuan kita semua.
 
Saksikan wawancara selengkapnya:
🔗 https://youtu.be/vZg86T3UfyA
 
Kunjungi juga situs resmi EdShareOn:
🔗 https://edshareon.com/
 
Salam Hormat,
Eddy Wijaya
EdShareOn — Eddy Sharing and Discussion.

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update