GEMARNEWS.COM, BANDA ACEH – Upaya mendekatkan sejarah dan kebudayaan Aceh kepada generasi muda dilakukan Seuramoe Heritage melalui cara yang kreatif dan partisipatif. Komunitas field trip sejarah Aceh tersebut menggelar Lomba Bertutur Sejarah di Balai Kebudayaan Aceh, Gampong Mulia, Banda Aceh, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh itu diikuti sebanyak 10 peserta. Para peserta tampil menyampaikan berbagai kisah sejarah sekaligus menggali nilai-nilai yang dapat dipetik dari perjalanan masa lalu Aceh.
Dalam perlombaan tersebut, Riska berhasil meraih Juara 1, disusul Rawdlatul Jannah sebagai Juara 2 dan Alisha Azzahra sebagai Juara 3.
Ketua Seuramoe Heritage, Teuku Wahidoel, mengatakan sejarah tidak semestinya hanya dipahami sebagai rangkaian peristiwa masa lalu. Menurutnya, sejarah perlu diceritakan kembali agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan direfleksikan dalam kehidupan masa kini.
“Bagi kami, sejarah bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga perlu diceritakan kembali. Ketika kita menceritakan ulang sejarah, kita tidak sekadar mengulang kisah tentang apa yang terjadi di masa lalu. Kita juga perlu menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, merefleksikannya, dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk kehidupan hari ini,” ujar Teuku Wahidoel.
Ia menjelaskan, proses menceritakan kembali sejarah dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap berbagai nilai keteladanan, persaudaraan dan tanggung jawab.
Selain itu, pengalaman masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan sepanjang sejarah juga dinilai penting untuk dipelajari oleh generasi muda.
“Sejarah akan memiliki makna ketika nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan diterapkan. Dari sejarah, kita belajar tentang apa yang telah dilalui oleh masyarakat Aceh dan bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Sejarah Tak Harus Sekadar Hafalan
Teuku Wahidoel menambahkan, kegiatan Lomba Bertutur Sejarah juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menyampaikan pengetahuan sejarah kepada masyarakat.
Ia berharap semakin banyak anak muda yang memandang sejarah sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan, bukan sekadar materi hafalan di ruang kelas.
“Harapan kami, semakin banyak anak muda yang merasa bahwa belajar sejarah itu menyenangkan. Sejarah tidak harus selalu identik dengan hafalan atau berada di ruang kelas. Kita bisa belajar melalui cerita, kunjungan ke situs sejarah, diskusi, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan kreatif seperti bertutur dan field trip dapat membuat generasi muda lebih dekat dengan sejarah karena mereka tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman secara langsung.
Sejarah Menjadi Nilai untuk Masa Depan Aceh
Seuramoe Heritage memandang pengenalan sejarah kepada generasi muda bukan hanya berkaitan dengan pelestarian pengetahuan tentang masa lalu. Sejarah juga dapat menjadi sumber pembelajaran dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Teuku Wahidoel mengatakan, perjalanan sejarah Aceh menyimpan berbagai nilai yang masih relevan untuk direfleksikan dalam kehidupan saat ini, termasuk pentingnya menjaga persaudaraan dan perdamaian.
“Menceritakan ulang sejarah bukan berarti kita hanya melihat ke belakang. Kita melihat masa lalu untuk memahami siapa kita, apa yang telah kita lalui, dan nilai-nilai apa yang bisa kita bawa ke masa depan. Dari sejarah, kita belajar untuk terus merawat perdamaian, menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, dan membangun Aceh dengan semangat yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Seuramoe Heritage ingin menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda sekaligus sumber inspirasi untuk berkontribusi bagi Aceh.
“Kita ingin sejarah dan budaya bukan hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun masa depan Aceh. Kita gali nilai-nilai keteladanan dari sejarah, kita rawat kebudayaan, kita tumbuhkan kecintaan terhadap Aceh, dan kita implementasikan nilai-nilai tersebut untuk terus merawat perdamaian serta memajukan Aceh,” pungkasnya.
Seuramoe Heritage dan Field Trip Sejarah
Seuramoe Heritage terbentuk di Banda Aceh pada Juni 2026. Komunitas tersebut berkomitmen menghadirkan pembelajaran sejarah dan budaya melalui kegiatan field trip dengan mengunjungi secara langsung berbagai situs sejarah dan cagar budaya.
Sejak berdiri, Seuramoe Heritage telah melaksanakan tujuh edisi field trip. Sejumlah lokasi yang telah dikunjungi antara lain Taman Putroe Phang dan Gunongan, Kerkhof Peucut, Taman Sari Bustanus Salatin dan Tugu Proklamasi, Makam dan Kediaman Residen Teuku Nyak Arief, Rumoh Cut Nyak Dhien, Tugu Kopelma Darussalam, serta Balai Ikrar Lamteh melalui kolaborasi bersama Sopies Sunset Library.
Menurut Teuku Wahidoel, field trip dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan kunjungan, tetapi sebagai pengalaman belajar yang memadukan aktivitas, pengetahuan, interaksi dan refleksi.
“Field trip bukan sekadar jalan-jalan. Kita bisa healing sambil belajar sejarah: olahraga dapat, ilmu dapat, pengalaman bertambah, dan persaudaraan semakin erat,” ujarnya.
Seuramoe Heritage berharap Lomba Bertutur Sejarah dan berbagai kegiatan edukasi sejarah lainnya dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Upaya tersebut diharapkan mampu membuat sejarah dan kebudayaan Aceh semakin dekat dengan generasi muda, sekaligus mendorong mereka tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga mengambil nilai, merefleksikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, sejarah diharapkan terus hidup sebagai sumber pembelajaran untuk merawat perdamaian, memperkuat persaudaraan, melestarikan kebudayaan dan turut mendorong kemajuan Aceh. pungkasnya.