Notification

×

Membongkar Paradoks Global Riset Multikulturalisme Islam: Diskusi HAMKA Circle FAI Uhamka Bedah Peta Riset Tiga Dekade

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21.45 WIB Last Updated 2026-10-02T14:45:27Z


 

"Membongkar Paradoks Global Riset Multikulturalisme Islam: Diskusi HAMKA Circle FAI Uhamka Bedah Peta Riset Tiga Dekade"


GEMARNEWS.COM, JAKARTA - Center for Islam and Civilization Studies (CIVIC) Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (FAI Uhamka) kembali menegaskan posisinya sebagai lokomotif diskursus intelektual progresif melalui penyelenggaraan forum akademik HAMKA Circle pada Jumat, 2 Oktober 2026. Mengusung tema besar "Konstelasi Pemikiran Pemetaan Riset Multikulturalisme Islam", forum ini mengupas secara komprehensif temuan riset bibliometrik mutakhir yang membedah 223 dokumen literatur global terindeks Scopus dalam rentang waktu tiga dekade (1991–2024). 



Diskusi strategis ini menghadirkan peneliti utama studi bibliometrik, Dr. Lismawati, M.Pd., sebagai narasumber utama, dengan sambutan kunci (keynote opening) oleh Dekan FAI Uhamka, Prof. Ai Fatimah Nur Fuad, M.A., Ph.D. Jalannya diskusi dipandu secara interaktif oleh Muhammad Abdullah Darraz, selaku Direktur Eksekutif CIVIC FAI Uhamka. 



Urgensi Dekolonisasi Pengetahuan: Catatan Kritis Dekan FAI Uhamka



Dalam sambutan pengantarnya, Dekan FAI Uhamka, Prof. Ai Fatimah Nur Fuad, M.A., Ph.D., menyampaikan kritik tajam sekaligus reflektif terhadap peta produksi pengetahuan global yang selama ini menempatkan dunia Islam dalam posisi marjinal. 



"Selama ini, diskursus akademik mengenai multikulturalisme Islam didominasi secara hegemonik oleh institusi-institusi di negara-negara Barat—seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Perspektif yang dibangun sering kali bersifat 'melihat ke dalam' (looking inward) dari sudut pandang minoritas Muslim di Barat, atau terjebak dalam kacamata teoretis makro-sosiologis yang steril dari realitas empiris masyarakat muslim mayoritas," ungkap Prof. Ai Fatimah. 



Lebih lanjut, Prof. Ai Fatimah menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam di Indonesia dan kawasan Asia memiliki mandat epistemologis untuk melakukan dekolonisasi riset. Perguruan tinggi tidak boleh terus-menerus puas menjadi konsumen atau objek studi, melainkan harus bertransformasi menjadi produsen wacana mandiri yang aktif mempublikasikan karya-karya ilmiah berkualitas tinggi di jurnal-jurnal internasional bereputasi (top-tier journals). 



Analisis Kompleks & Temuan Kunci: Menyingkap Paradoks Struktural Global



Dalam pemaparannya yang mendalam, narasumber utama Dr. Lismawati, M.Pd. membedah hasil analisis bibliometrik menggunakan perangkat VOSviewer dan RStudio (mengacu pada data Scopus 1991–2024 dengan total 223 dokumen dan 9.673 referensi). Ia menguraikan sejumlah temuan kompleks yang menandai evolusi riset global: 


1. Paradoks Geografis dan Produksi Pengetahuan: Meskipun negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan Turki memiliki kompleksitas empiris dan realitas kemajemukan sosial yang sangat tinggi, volume publikasi tertinggi justru dikuasai oleh Inggris (36 dokumen), Amerika Serikat (36 dokumen), dan Australia (32 dokumen). Indonesia sendiri tercatat menyumbang 18 publikasi dan Malaysia 14 publikasi. Hal ini menunjukkan adanya jurang pemisah (gap) antara wilayah yang memproduksi teori dengan wilayah yang paling membutuhkan solusi praktis atas konflik multikultural. 


2. Dinamika Daur Hidup Publikasi (1991–2024): Volume riset menunjukkan tren fluktuatif dengan pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 5%. Titik puncak publikasi global tercatat pada tahun 2014 dan 2019 (masing-masing 16 dokumen), sebelum mengalami fase penurunan tajam hingga menyisakan 5 dokumen pada tahun 2024. Penurunan ini mengindikasikan adanya kejenuhan pada tema-tema inti lama, sehingga menuntut pembukaan frontier atau ruang kosong riset baru. 


3. Arsitek Diskursus dan Jaringan Institusional: Analisis pengarang menempatkan T. Modood sebagai figur paling dominan dengan 4 dokumen utama, diikuti oleh S. Abdullah dan L. Hopkins (masing-masing 3 dokumen). Dari sisi kelembagaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), University of Bristol, dan Swinburne University of Technology memimpin sebagai institusi produktif teratas dengan masing-masing 6 publikasi. Sementara itu, Journal of Muslim Minority Affairs dan Journal of Intercultural Studies teridentifikasi sebagai episentrum diseminasi pengetahuan utama. 


4. Transformasi Semantik dan Klaster Tematik: Pemetaan klaster (co-occurrence network) menghasilkan empat pilar utama: (a) Islam (fondasi ajaran & identitas), (b) Religion (pendekatan makro-sosial), (c) Multiculturalism (kewarganegaraan dan pluralitas), serta (d) Islamism (gerakan dan fokus ideologis). Melalui overlay visualization, terungkap terjadinya pergeseran fokus semantik (semantic evolution): jika pada tahun 2012 riset terkonsentrasi secara kaku pada terminologi sempit "Islam dan Multikulturalisme", maka pada periode 2016–2021 lensa pengamatan meluas secara sosiologis mencakup konsep "Religion" dan "Diversity" secara lebih universal. 


5. Paradoks Sitasi Global vs. Relevansi Lokal: Studi sitasi menunjukkan bahwa karya makro-sosiologis Barat seperti Mepschen (2010) mendominasi sitasi global (Mega-Citations dengan 294 sitasi), sementara riset berorientasi lokal seperti Niyozov (2009) dan Choi (2017) memiliki rasio sitasi lokal (LC/GC Ratio) yang tinggi, menandakan adanya disparitas antara diskursus akademik internasional dan aplikasi praktis di tingkat akar rumput. 



"Hasil pemetaan ini menegaskan bahwa kita berada di tengah paradoks struktural. Dunia Islam tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus mengisi 'zona dingin' dalam peta riset—seperti antropologi budaya, pendidikan keberagaman (diversity education), inklusi sosial, serta titik temu antara teologi Islam dan sosiologi modern—guna merancang kurikulum dan kebijakan publik yang kokoh demi mencegah radikalisme dan memperkuat kohesi sosial," tegas Dr. Lismawati. 


Peta Jalan Strategis (Roadmap) ke Depan Forum HAMKA Circle merumuskan tiga rekomendasi strategis bagi masa depan riset dan kebijakan multikulturalisme Islam:


• Dekolonisasi Akademisi: Mendorong peneliti dari negara-negara berkembang dan dunia Islam untuk beralih dari sekadar objek penelitian menjadi produsen wacana utama di panggung global. 


• Ekspansi Interdisipliner: Meleburkan batas-batas keilmuan antara teologi normatif Islam, sosiologi barat, dan antropologi budaya agar riset mampu menyentuh realitas di tingkat akar rumput. 


• Desain Kebijakan Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy): Memanfaatkan landasan literatur berstandar tinggi untuk merumuskan kurikulum pendidikan nasional dan kebijakan sosial yang pro-toleransi, memperkuat ukhuwah (persaudaraan), serta mengoptimalkan tradisi ta'aruf (saling mengenal) dalam masyarakat majemuk. 



Melalui penyelenggaraan HAMKA Circle ini, CIVIC FAI Uhamka terus berkomitmen untuk menggerakkan tradisi intelektual yang mencerahkan, berkemajuan, serta memberikan solusi nyata bagi problem peradaban bangsa dan kemanusiaan universal. (*)

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update