Aceh Timur— Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Aceh, Razali alias Nyakli Maop, meminta Pemerintah Aceh bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menerjunkan tim independen guna menginvestigasi insiden kekerasan dan penembakan di Pidie, Aceh.
Tuntutan tersebut mengemuka menyusul bentrokan yang berujung pada tewasnya seorang warga sipil, Abzalul Riza (20), serta melukai belasan warga lainnya di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, pada Rabu (4/11).
Menurut Nyakli Maop, penanganan masalah perbedaan pendapat khususnya terkait pengibaran bendera Bulan Bintang seharusnya diselesaikan melalui ruang dialog yang bermartabat, bukan pendekatan militeristik atau kekerasan bersenjata.
"Perbedaan pandangan terkait bendera Bulan Bintang ini mestinya didialogkan, bukan diselesaikan dengan senjata," tegasnya.
Insiden berdarah itu bermula saat warga menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kompleks masjid gampong setempat. Di tengah acara, warga mengibarkan bendera Bulan Bintang. Pasukan TNI yang berada di lokasi melarang pengibaran tersebut dan menuntut agar bendera segera diturunkan.
Sikap saling bertahan memicu bentrokan dan aksi pelemparan batu dari warga. Situasi kian memanas setelah adanya penambahan pasukan di lokasi, hingga akhirnya terdengar tembakan yang menerjang dada korban.
Gelombang desakan agar kasus ini diusut secara transparan dan tuntas terus berdatangan dari pelbagai elemen di Aceh, mulai dari kelompok mahasiswa, organisasi sipil, keluarga korban, hingga Penjabat Gubernur Aceh.
Merespons peristiwa tersebut, Pemerintah Pusat melalui Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan komitmennya untuk menyelidiki penanganan insiden tersebut secara menyeluruh.
