Notification

×

Viral, Ketum PJS Mahmud Marhaba Jadi Pengantin Melayu di Pulau Mas Kawin

Sabtu, 07 November 2026 | 10.21 WIB Last Updated 2026-11-07T03:22:07Z


OPINI - TANJUNG PINANG – Tidak semua perjalanan menghadiri kegiatan organisasi berakhir dengan kenangan yang biasa-biasa saja. Bagi Ketua Umum Pro Jurnalismedia Siber (PJS), Mahmud Marhaba, dan istrinya, Wina Marhaba, kunjungan ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Jumat (6/11/2026), justru menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan.

Di pulau yang dikenal sebagai Pulau Mas Kawin itu, keduanya mendadak menjelma menjadi sepasang pengantin Melayu. Lengkap dengan busana adat pengantin Melayu Kepulauan Riau, Mahmud dan Wina didaulat bersanding di pelaminan Balai Adat Melayu Indera Perkasa.

Senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Ada tawa, ada kehangatan, dan ada romantisme yang seolah membawa mereka kembali ke masa-masa awal membangun bahtera rumah tangga.

Tentu saja, ini bukan pernikahan sungguhan. Tidak ada ijab kabul, tidak ada akad baru, dan Pulau Penyengat pun bukan mas kawin yang diberikan Mahmud kepada Wina.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih istimewa dari sekadar mengenakan pakaian pengantin. Mereka sedang menjadi bagian dari sebuah kisah sejarah dan kebudayaan Melayu yang telah hidup selama berabad-abad.

Pulau yang Menjadi Simbol Cinta

Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Pulau kecil di hadapan Kota Tanjungpinang ini menyimpan jejak kejayaan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus kisah romantisme kerajaan Melayu.

Julukan Pulau Mas Kawin melekat karena pulau ini dikenal dalam sejarah sebagai hadiah Sultan Mahmud Riayat Syah kepada permaisurinya, Engku Putri Raja Hamidah, pada 1803.

Sebuah hadiah yang tidak lazim. Bukan emas, permata, atau perhiasan mewah, melainkan sebuah pulau yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penting peradaban Melayu.

Di tempat yang memiliki nilai sejarah dan romantisme itulah Mahmud dan Wina mendapatkan pengalaman istimewa menjadi pengantin Melayu.

Mahmud tampil gagah mengenakan busana adat bernuansa kuning keemasan. Tanjak menghiasi kepalanya, sementara sebilah keris terselip di pinggang. Penampilannya memancarkan wibawa seorang lelaki Melayu.

Di sampingnya, Wina tampil anggun dengan busana pengantin adat Melayu. Perpaduan warna, aksesori, dan keindahan ornamen tradisional semakin menambah pesona pasangan tersebut.

Keduanya duduk bersanding di pelaminan, menghadirkan gambaran tentang cinta yang tidak lekang oleh waktu.

Ada pesan sederhana yang terasa kuat dari momen itu: cinta dapat dirayakan dalam berbagai cara, sementara kebudayaan memberikan ruang bagi setiap generasi untuk mengenal dan menghargai warisan leluhurnya.

Dari Gorontalo ke Tanah Melayu

Menariknya, pengalaman menjadi pengantin Melayu ini menghadirkan warna berbeda dalam perjalanan rumah tangga Mahmud dan Wina.

Jika sebelumnya pakaian adat Gorontalo pernah menjadi bagian dari perjalanan pernikahan mereka, kali ini keduanya mengenakan busana pengantin Melayu Kepulauan Riau.

Dua tradisi, dua kekayaan budaya, tetapi tetap menghadirkan makna yang sama tentang cinta, kesetiaan, dan penghormatan terhadap adat istiadat.

Justru di situlah keindahan Indonesia. Perbedaan budaya bukanlah jarak yang memisahkan, melainkan kekayaan yang mempertemukan.

Pengantin Dadakan yang Mengundang Gelak Tawa

Suasana semakin meriah ketika pasangan pengantin dadakan itu diarak menuju pelaminan.

Para wartawan peserta Rakernas III PJS yang ikut dalam rombongan tampak pangling. Sosok Ketua Umum yang biasanya tampil dalam suasana formal organisasi, kali ini terlihat berbeda dengan balutan busana pengantin Melayu.

Senyum dan gelak tawa pecah di antara para peserta. Kamera ponsel pun berlomba-lomba mengabadikan momen langka tersebut.

"Selamat ya, Pak Ketum. Semoga bahagia dan langgeng hingga akhir hayat," ujar Wakil Sekretaris Jenderal PJS, Amril Agin, yang disambut tawa para tamu undangan.

Ucapan itu memang sederhana, tetapi mengandung doa yang tulus. Semoga cinta yang telah dibangun Mahmud dan Wina terus tumbuh, semakin kuat, dan tetap terjaga hingga akhir hayat.

Setelah prosesi bersanding, keduanya melayani sesi foto bersama para peserta Rakernas III PJS dari berbagai provinsi di Indonesia.

Beragam pose tercipta. Ada yang serius, ada yang penuh canda, dan semuanya berlangsung dalam suasana akrab serta penuh kekeluargaan.

Hari itu, Pulau Penyengat bukan hanya menjadi tempat kunjungan wisata. Ia menjadi panggung kenangan yang mempertemukan romantisme keluarga, persahabatan, dan kekayaan budaya Nusantara.

Ketika Pers Bertemu Kebudayaan

Ada hal menarik yang patut menjadi perhatian dari perjalanan para peserta Rakernas III PJS ke Pulau Penyengat.

Di tengah kesibukan menjalankan tugas jurnalistik dan agenda organisasi, para wartawan mendapatkan kesempatan mengenal lebih dekat sejarah serta kebudayaan Melayu Kepulauan Riau.

Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa kegiatan organisasi pers tidak harus selalu berlangsung dalam ruang rapat, diskusi, atau forum formal.

Pers juga memiliki ruang untuk mengenal kebudayaan, memahami sejarah daerah, dan memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat luas.

Wartawan bukan hanya bertugas menyampaikan peristiwa, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga ingatan kolektif bangsa.

Kebudayaan tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu yang tersimpan di museum atau tertulis dalam buku sejarah. Kebudayaan harus terus dihidupkan melalui kegiatan, pengalaman, dan interaksi antargenerasi.

Dari Pulau Penyengat, para peserta Rakernas III PJS membawa pulang lebih dari sekadar foto perjalanan. Mereka membawa cerita tentang sejarah, adat, keramahan masyarakat Melayu, dan sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan terulang dalam kesempatan yang sama.

Apresiasi untuk Pemerintah Kepri dan BP Batam

Di balik rangkaian kegiatan Rakernas III PJS di Batam dan kunjungan ke Pulau Penyengat, terdapat dukungan berbagai pihak yang turut membantu menyukseskan agenda nasional tersebut.

Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau serta Badan Pengusahaan (BP) Batam atas dukungan yang diberikan.

"Alhamdulillah, pelaksanaan Rakernas III PJS di Batam berjalan sukses berkat dukungan Gubernur Kepri dan Kepala BP Batam. Terima kasih untuk keduanya. Terima kasih juga secara khusus kepada Sekda Kepri, Ibu Misni, yang terus mengawal rangkaian kegiatan Rakernas di Batam hingga ke Pulau Penyengat," kata Mahmud.

Apresiasi tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan sebuah kegiatan nasional tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama berbagai pihak.

Bagi PJS, dukungan tersebut bukan sekadar fasilitasi kegiatan organisasi, tetapi juga mencerminkan keterbukaan dan persahabatan pemerintah daerah dalam menyambut insan pers dari berbagai penjuru Indonesia.

Kenangan yang Lebih Panjang dari Sebuah Perjalanan

Rakernas III PJS mungkin telah berakhir. Para peserta akan kembali ke daerah masing-masing, melanjutkan tugas dan tanggung jawab sebagai insan pers.

Namun, kenangan tentang Batam, keramahan masyarakat Melayu, dan pengalaman menjadi pengantin di Pulau Mas Kawin akan tetap tersimpan.

Sebab, tidak setiap hari seorang Ketua Umum organisasi wartawan berkesempatan menjadi pengantin Melayu di pulau yang memiliki kisah cinta bersejarah antara seorang sultan dan permaisurinya.

Mahmud dan Wina mungkin hanya beberapa saat duduk di pelaminan Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Tetapi pengalaman itu menghadirkan cerita yang jauh lebih panjang daripada sebuah perjalanan wisata.

Di Pulau Penyengat, di antara jejak sejarah Sultan Mahmud Riayat Syah dan Engku Putri Raja Hamidah, keduanya pulang membawa kenangan tentang cinta yang dibalut budaya, persahabatan yang dirajut dalam kebersamaan, serta kekayaan tradisi yang patut terus dilestarikan.

Pada akhirnya, Pulau Penyengat mengajarkan satu hal: cinta bisa menjadi sejarah, budaya bisa menjadi perekat persaudaraan, dan sebuah perjalanan bisa meninggalkan kenangan yang tak ternilai harganya.

Penulis : Ady Indra Pawennari
Wakil Ketua Umum Pro Jurnalismedia Siber

Gemar Sport

Artikel Pilihan

×
Berita Terbaru Update