Notification

×

Iklan

Iklan

LEBARAN DI NEGERI AL FATIH

Senin, 17 Mei 2021 | 15.07 WIB Last Updated 2021-05-19T09:20:05Z
LEBARAN DI NEGERI AL FATIH



Dok.foto Penulis : Muhammad Naufal Hady.
Sekretaris  IKAMAT/Ikatan Masyarakat Aceh - Turki



Semerbak idul fitri pada masa pandemi di negeri AL FATIH. Turki merupakan negara dengan mayoritas penduduk yang memeluk agama islam layaknya indonesia. Disini, pelaksanaan puasa ramadhan dan juga hari raya Idul Fitri juga ikut dirayakan. Namun ada beberapa perbedaan antara ramadhan di negeri Al-fatih dengan Indonesia, Perbedaan tersebut dapat dilihat dari lamanya waktu berpuasa. Di indonesia, lamanya waktu berpuasa sekitar 12-13 jam, sedangkan di Turki Lamanya waktu berpuasa sekitar 16 jam. 

Selain itu ada perbedaan dalam kegiatan membangunkan sahur. di Turki aksi tersebut tidak dilakukan beramai-ramai layaknya Indonesia tetapi di lakukan oleh beberapa orang penabuh drum atau biasa disebut (davulcu) yang akan berkeliling sekitar satu setengah jam sebelum waktu imsak.

Berbeda halnya dengan Indonesia dan negara muslim lainnya, pada malam 1 syawal di Turki tidak akan terdengar kumandang takbir atau biasanya di sebut takbiran. Oleh karena itu,Malam lebaran di sini sama dengan malam-malam lainnya.
Walaupun tidak terdengar suara takbir, rakyat Turki tradisi unik untuk menyambut hari kemenangan yaitu dengan mengadakan beberapa pergelaran musik dan tari tradisional oleh karenanya pada malam itu sebagian besar desa-desa di Turki terlihat hidup dengan musik dan lampu-lampu hias di setiap sudutnya.

Tidak hanya perbedaan, terdapat juga persamaan tradisi antara turki dan indonesia yaitu silaturrahim ke rumah saudara dan kerabat di awal lebaran guna saling mengucapkan selamat lebaran atau sering disebut Bayraminiz Mubarek Olsun.
Akan tetapi belakangan ini perayaan idul fitri yang biasanya berlangsung meriah itu tak lagi dirasakan. Pasalnya,  dunia dihebohkan dengan wabah pandemi covid 19. Sehingga perayaan yang semestinya meriah itu tak dapat terlaksana dengan baik. Sebagian besar tradisi yang biasanya dilaksanakan saat hari raya Idul Fitri pun terpaksa ditiadakan.

Tahun ini merupakan tahun kedua  saya tinggal di Turki. Namun, dikarenakan pandemi ini saya belum pernah merasakan tradisi-tradisi lebaran tersebut. Bahkan hingga saat ini turki masih memberlakukan lokdown total di seluruh wilayahnya, sehingga seluruh kegiatan yang bersifat kerumunan ditiadakan.

Saat ini Turki masih menjadi negara dengan peringkat ke-5 teratas total kasus Covid-19 terbanyak di dunia. Pemerintah setempat memberlakukan aturan pembatasan sosial dan menutup hampir semua toko kecuali toko kelontong dan makanan siap saji dari 29 April 2020 sampai 17 Mei 2021.  

Saat ini saya dan 5 temen sesama mahasiswa tinggal di apartemen di Kota Isparta yaitu kota kecil di selatan republik turki.

Sebagai seorang mahasiswa yang merantau di luar negeri,tidak mungkin rasanya untuk pulang ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga setiap tahunnya, dikarenakan beberapa hal yang mngkin menjadi penghalang umum seperti biaya dan jadwal kuliah yang berbeda.

Untuk tahun ini alhamdulillah menteri agama turki mengumumkan bahwasanya shalat idul fitri dpat dilaksanakan di mesjid, akan tetapi tetap di haruskan menjaga jarak dengan sosial distancing.
Di hari pertama lebaran. di karenakan untuk waktu shalat ied di laksanakan pada jam 06.20, setelah melaksanakan shalat subuh saya dan 5 teman lainnya bergegas membersihkan diri untuk melaksanakan shalat Ied fitri berjamaah di mesjid.

Ada sedikit keunikan dalam pelaksanaan shalat ied di sini yaitu khutbah di lakukan pada awal shalat sedangkan di indonesia khutbah di lakukan setelah shalat.
Setelah melaksanakan shalat ied berjamaah kami mendapatkan undangan makan ke apartmen salah satu mahasiswa Indonesia di sini.untuk tahun ini acara ini hanya diadakan bagi tetangga saja, Biasanya di hari pertama lebaran ada banyak mahasiswa indonesia dan ibu-ibu gelin (warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Turki) yang mengadakan open house di rumah mereka. Lagi lagi dikarenakan pandemi kebiasaan tersebutpun hilang.

Pada siang hari kami baru mulai menelpon keluarga dan saudara2 guna melepas rinda dan meminta maaf dan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Sebenarnya hal ini tidak lah cukup tetapi bagi perantau seperti kami hal ini sangat biasa.

Hari selanjutnya kami mengadakan halal bi halal onlinemelalui zoom bersama pengurus dan warga IKAMAT (Ikatan Masyarakat Aceh-Turki)  yaitu komunitas masyarakat aceh yg berada di Turki. Beberapa tahun sebelumnya acara ini lakukan secara offline dengan berkumpul di taman atau di rumah salah satu warga Ikamat guna bersilaturrahmi tetapi untuk 2 tahun terakhir dikarenakan pandemi Covid-19 acara ini terpaksa di adakan secara online.

Penulis : Muhammad Naufal Hady.
Sekretaris  IKAMAT/Ikatan Masyarakat Aceh - Turki
Mahasiswa S1, Hubungan International di Uludag University 
×
Berita Terbaru Update