Notification

×

Iklan ok

Pelantikan IPPEMATA, Gubernur Ingatkan 4 Tantangan Generasi Muda

Kamis, 19 Agustus 2021 | 00.16 WIB Last Updated 2021-08-18T17:16:21Z


Gemarnews.com, Banda Aceh – Di tengah besarnya harapan masyarakat pada generasi muda dan menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045, pemuda dihadapkan pada 4 tantangan, yaitu di bidang ekonomi, mental dan ideologi, teknologi serta moral.


Pesan tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah, dalam sambutannya pada acara pelantikan pengurus Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tengah (IPPEMATA) yang diikuti Gubernur secara daring via konferensi video, di ruang rapat Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Rabu (18/8/2021).


“Di tengah besarnya harapan terhadap pemuda saat ini, kita akui tantangan yang dihadapi juga cukup berat. Setidaknya ada empat tantangan yang dihadapi generasi muda sekarang ini, yaitu tantangan di bidang ekonomi, seiring adanya pergeseran usaha di tingkat pasar. Hal ini dapat kita lihat dari Kajian Bappenas tentang Outlook Perekonomian Indonesia 2019 yang menyebutkan banyaknya sektor usaha collaps akibat pengaruh teknologi digital,” ujar Nova.


Di masa depan, sambung Gubernur, Siap atau tidak, sektor ekonomi harus berbasis pada sistem e-commerce. Pemuda era milenial harus siap menjawab tantangan ini. Oleh karena itu, pemuda dituntut untuk melek digital jika tidak ingin tersingkir dari persaingan.


“Selanjutnya, tantangan di bidang ketahanan mental dan ideologi. Seiring ketatnya persaingan yang memaksa pemuda cenderung memikirkan dirinya sendiri. Akibat sikap individualis ini, pemuda berpotensi terlibat dalam konflik dan perpecahan. Radikalisme juga bisa merasuki pikiran pemuda, karena persaingan itu berperan memunculkan sikap saling curiga dan ingin menang sendiri,” sambung Gubernur.


Ketiga, lanjut Nova, tantangan untuk menyesuaikan diri dengan teknologi. Gubernur mengingatkan, keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki, menuntut pemuda untuk mampu menerapkan konsep teknologi terbarukan yang murah dan praktis.


“Untuk itu pemuda harus siap menerapkan konsep teknologi yang handal, serta aktif memperluas jejaring di tingkat dunia. Kondisi ini berpotensi membuat pemuda lebih fokus untuk urusan global, dan mulai melupakan nilai-nilai kearifan lokalnya,” kata Gubernur.


Terakhir, ancaman dekadensi moral akibat teknologi informasi yang membuat dunia seakan tanpa batas. Banyak pemuda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, dan berbagai tindakan kriminal lainnya. Gubernur khawatir, jika pemuda Aceh semakin banyak yang terjerumus ke dalam tindakan berbahaya ini, niscaya masa depan negeri ini akan suram.


“Empat tantangan ini harus mampu diatasi pemuda kita. Oleh karena itu, penguatan organisasi pemuda penting kita lakukan agar pembinaan berjalan efektif. Sejalan dengan itu, pengurus IPPEMATA saya harap dapat menyusun program kerja yang mampu menjawab tantangan dan peluang tersebut. Dengan demikian, organisasi ini akan mampu memfasilitasi Pemuda Aceh Tengah untuk bersaing di tingkat global,” ujar Nova.


Peran Strategis Pemuda di era Keterbukaan

Dalam sambutannya, Gubernur juga menjelaskan peran strategis pemuda dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di era keterbukaan saat ini.


“Di era keterbukaan sekarang ini, peran pemuda begitu strategis dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Peran itu bisa dilakukan, antara lain dengan mendukung transformasi pengetahuan, teknologi, serta pola pikir sesuai nilai-nilai budaya dan religi, agar kita mampu berkompetisi di era globalisasi,” kata Gubernur.


Gubernur menambahkan, untuk mendorong daya berkompetisi tersebut, generasi muda membutuhkan wadah agar bisa mengaktualisasikan diri dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Dengan berorganisasi, generasi muda dapat menyumbangkan pemikiran untuk mendukung membangun daerah.


“Hal ini penting saya tegaskan, sebab membangun daerah bukanlah tanggungjawab pemerintah semata. Pembangunan membutuhkan sinergi dan keterlibatan semua pihak, termasuk peran pemuda sebagai penggerak. Oleh karena itu, pemuda dituntut untuk dapat menyatukan langkah, sehingga pemikiran mereka tertampung dalam sebuah ikatan yang kuat,” sambung Gubernur.


Sesungguhnya inilah fondasi utama sehingga organisasi pemuda berbasis daerah berkembang di kota-kota besar. Kelahiran IPPEMATA pastilah dilandaskan semangat ini.


Gubernur meyakini, keberadaan IPPEMATA akan menjadi wadah bagi Pemuda Aceh Tengah, untuk berkontribusi bagi pembangunan daerahnya. Kebersamaan Pemuda di dalam IPPEMATA, juga akan membantu Pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan pembangunan kepemudaan di Aceh.


Gubernur juga mengingatkan semua pihak tentang pentingnya Pembangunan bidang kepemudaan. Sebab dalam 25 tahun mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana jumlah masyarakat usia produktif akan meningkat. Bonus demografi ini sangat berpotensi menghadirkan dampak sosial-ekonomi, baik langsung maupun tidak langsung.


Tingginya jumlah penduduk produktif di tahun 2045 diyakini akan memacu pembangunan bergerak lebih cepat. Namun, bonus demografi bisa pula menghadirkan bencana, manakala pemuda tidak memiliki SDM memadai, sehingga menghadirkan beban bagi negara.


“Jika sebagian besar angkatan kerja kita tidak memiliki kompetensi, bisa dibayangkan betapa rumitnya beban sosial yang kita hadapi ke depan. Oleh karena itu, pemuda Aceh dituntut untuk bisa membaca tantangan ini dengan mempersiapkan diri sejak dini. Skill di bidang teknologi informasi mutlak harus diperkuat, mengingat seluruh unit usaha masa depan tidak lepas dari digitalisasi yang sejalan dengan semangat Revolusi industri 4.0,” imbuh Nova.


Oleh karena itu, Gubernur mengingatkan agar Pemuda Aceh agar siap menghadapi dinamika ini, agar mampu berkompetisi dan memenangkan persaingan di masa mendatang. Gubernur mendorong kehadiran IPPEMATA mampu menjadi penggerak pemuda Aceh Tengah untuk menempa diri menjadi pemuda yang jeli melihat masa depan.


“IPPEMATA harus dapat menggerakkan anggotanya agar menjadi pemuda inovatif yang mampu menunjukkan kerja nyata. Dengan semangat ini, Pemuda Aceh Tengah niscaya mampu tampil sebagai agent of change dan agent of development guna mendukung pembangunan Aceh. Semoga organisasi ini mampu mendukung program pembangunan kepemudaan di Aceh, sehingga pemuda Aceh, khususnya Aceh Tengah, siap mengambil alih kepemimpinan bangsa ke depan,” pungkas Gubernur.


Kegiatan yang berlangsung dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat ini juga dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar, di Gedung Olah Seni Aceh Tengah. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Forkopimda Aceh Tengah. (*)

×
Berita Terbaru Update