Notification

×

Iklan

Iklan

Diduga Tipu Dhuafa, Jawaban Keuchik Pantee Rakyat Dinilai Berbelit

Selasa, 04 Januari 2022 | 13.52 WIB Last Updated 2022-01-04T06:54:23Z
Dok.Foto: Kantor Keuchik Gampong Pantee Rakyat, Babahrot


GEMARNEWS.COM, BLANGPIDIE - Pj Keuchik Gampong Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh dinilai berbelit memberikan keterangan kepada awak media, terkait dugaan penipuan pembangunan rumah dhuafa di gampong setempat.

Dalam keterangan yang disampaikan pada Senin (3/1/2022) kemaren, Pj Keuchik Gampong Pantee Rakyat, Abu Bakar Idris mengaku dirinya tidak melakukan pungli seperti informasi yang beredar di masyarakat

"Tidak ada, jika memang ada boleh dihadu. Saya sekarang lagi dikebun," tepis Abu Bakar via telepon seluler kepada awak media.

Namun, saat dihubungi mengenai kepastian dan kejelasan terkait hal itu pada Selasa (4/1/2022) siang, Abu Bakar alias Nyak Ben membenarkan bahwa ia ada mengambil uang dari Abdullah (37).

Namun, kata Nyak Ben, uang yang diambilnya tersebut bukanlah sebagai 'pelicin' untuk mendapatkan rumah bantuan, melainkan hutang.

"Ia benar, saya ada mengambil uang dari Abdullah, tapi bukan berkaitan dengan rumah batuan, melainkan saya berutang ke dia, karena saat itu saya butuh uang untuk anak di Banda Aceh," jelasnya.

Nyak Ben mengaku, pada akhir tahun 2020 lalu, ia didatangi oleh seseorang yang tidak ia kenal. Saat itu, orang tersebut menawarkan program bantuan rumah kepadanya.

"Saya tidak kenal dengan orang itu, dan saya juga lupa menanyakan nama dan alamatnya. Pokoknya, orang itu menawarkan program rumah bantuan kepada saya selaku keuchik," katanya.

Sebagai keuchik, akui Nyak Ben, kemudian dia menyeleksi penerima bantuan rumah yang dijanjikan orang tak dikenal (OTK) nya itu untuk dua warga, salah satunya Abdullah.

"Untuk Gampong Pantee Rakyat mendapatkan dua rumah, satu rumah saya berikan kepada Abdullah, satunya lagi saya berikan kepada adik kandung saya," paparnya.

Waktu itu, kata Abu Bakar, ia menyampaikan kepada Abdullah agar menyiapkan uang untuk kebutuhan yang mungkin sewaktu-waktu diperlukan jika program rumah tersebut terwujud.

"Uang yang saya minta ke Abdullah Rp 3 juta itu adalah bentuk utang, tidak ada kaitannya dengan rumah. Malahan saya bilang ke dia, kalau saya sudah ada rezeki, nanti uang itu saya kembalikan," pungkas Abu Bakar.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang warga Gampong Pantee Rakyat, Abdya berinisial Abdullah (37) menjadi korban pungutan liar (pungli), diduga pelakunya keuchik gampong setempat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh awak media, oknum keuchik tersebut meminta 'segepok uang pelicin' dari Abdul, untuk mendapatkan satu unit rumah bantuan dari program gampong.

"Iya, saya diminta uang Rp 10 juta sama Pak Keuchik, katanya akan diberikan bantuan rumah dhuafa yang berukuran 8 x 12 meter," ungkap Abdul kepada awak media.

Namun, ia mengaku, saat itu ia tidak memiliki uang dengan jumlah yang diminta oleh oknum keuchik tersebut. Sehingga setelah bernegosisasi, dirinya hanya memberikan dana tunai sebesar Rp 3 juta.

"Saya tidak punya uang. Untuk membayar ke Pak Keuchik, terpaksa saya harus berhutang ke mertua. Sekarang saya malu karena uang belum saya kembalikan, dan rumah yang dijanjikan sama Pak Keuchik juga tidak ada," tuturnya.

Menurut pernyataannya, kejadian itu terjadi pada Oktober 2020 lalu, namun hingga saat ini bantuan rumah dhuafa yang dijanjikan tak kunjung ada kejelasan.

Bukan itu saja, Abdul mengaku telah berusaha meminta agar uang itu dikembalikan saja. Namun ia kembali menerima 'janji manis' oknum keuchik, bahwa rumah bantuan tersebut akan dibangun secepatnya.

"Saat minta dikembalikan, Pak Keuchik kasih harapan akan dibangun pada bulan Juni 2021 lalu. Nyatanya, sampai sekarang tidak ada kepastian dan kejelasan," tukas Abdullah terkait program bantuan rumah yang dijanjikan kepadanya oleh oknum keuchik. (RED)
×
Berita Terbaru Update